Memahami Pentingnya Niat dalam Shalat dan Ibadah Lainnya

|



Niat menurut bahasa berarti me-ingin-kan sesuatu dan bertekad hati untuk mendapatkannya. Sedangkan menurut Istilah  Syara, niat adalah  tekat hati untuk melakukan amalan fardhu atau yang lain. Atau dalam definisi lain dikatakan: Niat adalah kehendak (Al Iradah) yang terarah pada  sebuah perbuatan untuk mencari ridha Allah Swt. dengan menjalankan hukum-Nya (misalnya melakukan shalat hajat). Niat adalah sebuah perkara penting dalam ibadah, dimana Rasulullah Saw. telah menyatakan tentangnya : “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Lalu, bagaimana hukum niat dalam ibadah itu?
Mengenai hukum niat ini, Jumhur ulama berpendapat bahwa niat hukumnya adalah wajib. Dan mereka telah menetapkan bahwa ibadah seperti wudhu, mandi, tayamum, shalat, Haji, zakat, dan lain-lain, tidak sah tanpa adanya niat. Berbeda dengan Jumhur Ulama, Abu Hanifah justru berpendapat lain. Ia berpendapat bahwa niat itu hanya pada shalat tidak pada ibadah selainnya semisal wudhu, tayamum dan lainnya. Namun pendapat ini asing dan lemah, karena bertentangan dengan nas-nas agama yang menyebutkan pentingnya niat dalam setiap ibadah.
Adapun dalil-dali tentang wajibnya niat sangatlah banyak, salah satunya adalah hadits Nabi yang berbunyi; Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (Mutafaqqun ‘Alaih)
Imam An Nawawi mengatakan bahwa ini adalah hadits yang agung dan merupakan salah satu hadits utama yang menjadi sumber ajaran-jaran Islam.
Tahukah Anda betapa urgennya niat dalam shalat? Tentu saja, dalam hal ini kita tidak lagi memperdebatkan pelafadzan niat sebagaimana dalam postingan sebelumnya. Di sini, saya ingin mempertegas kepada Anda bahwa niat itu sangat penting sekali dan merupakan fondasi utama dalam ibadah, termasuk shalat hajat.
Niat merupakan pensyaratan sahnya ibadah. Semua bentuk amal kebaikan dapat dikatakan sebagai ibadah umum bila dilandasi dengan niat semata-mata karena  Allah Swt. Dalam ibadah khusus (ibadah mahdlah), niat selain bertujuan membedakan ibadah mahdlah yang satu dengan ibadah mahdlah lainnya, misalnya untuk membedakan shalat fardhu dengan shalat sunat, niat juga merupakan salah satu syarat sahnya ibadah mahdlah tersebut. Ini didasarkan pada firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surat al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98]; 5)
Dalam salah satu hadis Nabi Saw. juga disebutkan : “Sesungguhnya semua amal itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang mereka niatkan.”
Dalam ibadah secara umum, adanya usaha untuk mendapatkan sesuatu kebajikan berkaitan erat dengan sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupannya. Sikap dan perilaku itu ada hubungannya dengan tujuan hidup manusia itu sendiri. jika manusia sadar akan diri dan fungsinya, serta sadar dari mana ia dan mau kemana, tentu ia akan mengikuti rumusan tujuan hidup yang berasal dari penciptanya. Ia akan keluar dari konsepsi yang telah Allah anugerahkan kepadanya dan semua peralatan yang ada pada dirinya serta fasilitas yang ada di bumi dijadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan dirinya (beribadah) kepada Allah Swt. Dan semua itu hanya dapat terjadi apabila ada niat.
Menurut Jefry, untuk bisa mewujudkan hal itu kita perlu memulai dengan memperbarui ibadah kita, khususnya shalat. Sebab, shalat jika dilaksanakan dengan benar ternyata juga akan membentuk karakter seorang muslim yang sukses. Tentu saja dengan meletakkan shalat tidak terbatas pada praktik fisik, melainkan juga pekerjaan dan praktik batin manusia muslim dalam mengabdi kepada Tuhannya dan dalam melakukan aktivitas menuju kesuksesan hidupnya.[1]
Dengan demikian, penjelasan Jefry tersebut mengisyaratkan bahwa jika shalat hajat kita benar, maka niscaya kita akan memperoleh kesuksesan, yakni dengan tercapainya setiap hajat atau cita-cita kita. Untuk itu, marilah kita mulai membenarkan shalat hajat kita agar segalanya dapat tercapai dengan mudah dan tanpa halangan.



[1] Jefry Noer. 2006; xiv

Hukum Mengeraskan Suara Saat Mengucapkan Niat dalam Shalat

|




Memang, tempat niat itu pada sejatinya di hati. Akan tetapi, yang menjadi perdebatan di kalangan ulama adalah tentang melafalkan niat tersebut. Apakah niat shalat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau hanya cukup di hati saja? Pertanyaan inilah yang kemudian mengundang kontroversi dan perdebatan panjang di kalangan ulama. Meskipun pada sejatinya para ulama sepakat bahwa melafazkan niat -  seperti lafadz-lafadz yang kita kenal sekarang ini- tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Saw., para sahabat, dan tabi’in, bahkan imam empat madzhab. Namun yang mereka perselisihkan adalah mengenai status hukumnya. Bagaimana hukum mengeraskan suara saat mengucapkan lafal niat dalam shalat?
Mengenai pertanyaan ini, ada tiga kelompok ulama yang berbeda pendapat, dimana ketiganya saling bertentangan. Adapun kelompok-kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Kelompok  yang Membolehkan
Jumhur Ulama mazhab (Syafi’iyah, sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah) cendrung berpendapat bahwa melafadzkan niat adalah sebuah hal yang dibolehkan bahkan dipandang lebih baik. Apa alasan mereka beranggapan seperti itu? Argumen mereka adalah karena pengucapan niat di lisan itu dapat membimbing hati.[1]
Imam Muhammad bin Hasan ra., berkata : “Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.” Adapun dalil yang digunakan oleh kelompok yang mendukung pelafadzan niat, antara lain adalah:
·         Surah Qaf ayat 18
Dalam surat ini, Allah Swt. berfirman:
 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨
Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]; 18)
Berdasarkan ayat tersebut, jelas melafadzkan niat adalah sebuah perkara yang akan dicatat oleh malaikat sebagai amal kebaikan.
·         Nabi terkadang melafadzkan niat
Sebagian hadits  menyebutkan bahwa Nabi Saw. adakalanya melafadzkan niat dalam sebuah ibdah ritual. Diantaranya, sebuah riwayat dari Abu bakar Al-Muzani dari Anas ra. Beliau berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan: “Aku penuhi panggilanMu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah.” (HR. Muslim)
Hadits Riwayat Bukhari dari Umar  ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah Saw. bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq: “Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah:  “Sengaja aku umrah di dalam haji”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah dua dalil yang menjadi dasar argument dari kelompok yang pertama, yakni kelompok yang membolehkan melafalkan niat dengan suara agar keras.
2.      Kelompok yang Memakruhkan
Sebagian ulama dari mazhab Hanafi, Hanbali, dan Maliki menyatakan bahwa melafazkan niat adalah perbuatan makruh. Ia boleh dilakukan namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya.
Adapun dalil yang digunakan kelompok ini adalah karena tidak ada satupun hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. dan juga para salaf melafadzkan niat, apalagi melazimkannya. Namun demikian, mereka memandang melafadzkan niat bukanlah sebuah bid’ah, karena ia diucapkan diluar ibadah ritual.
3.      Kelompok yang menolak
Adapun kelompok terakhir adalah kelompok yang menolak dengan tegas pelafadzan niat. Sebagian ulama memandang bahwa pelafadzan niat adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasulullah Saw. Karena Nabi Saw. tidak pernah mencontohkan pelafadzan niat ini, terkhusus lafadz-lafadznya. Yang berpendapat seperti ini adalah sebagian ulama kalangan mazhab Hanbali diantaranya Syaikh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al jauziyah dan jumhur ulama Saudi.
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ra. berkata: “Niat adalah kehendak, dan kemauan kuat untuk melakukan sesuatu. Letaknya di hati dan pada dasarnya sama sekali tidak terkait dengan lisan. Karena, hal itu tidak ada dasarnya dari Nabi Saw. dan tidak dari para sahabat tentang pelafadzan, dan kami tidak mendengarnya dari mereka menyebutkan hal itu. Kalimat-kalimat tersebut (niat) adalah hal yang baru (mudats). Syetan telah membuatnya sebagai medan peperangan bagi orang yang was-was, syetan telah menghalanginya ketika niat dan menyakitinya, serta menjatuhkan mereka ketika membetulkan niat. Anda lihat, mereka mengulang-ngulang niat dan memberatkan diri dalam melafazkannya, padahal itu sama sekali bukan bagian dari shalat, karena niat itu adalah kehendak untuk melakukan sesuatu. Maka dari itu, setiap orang yang bertekad untuk melakukan sesuatu maka dia telah berniat, gambaran itu tidaklah akan lepas dari niat sebab itu adalah hakikatnya. Mana mungkin  menganggap tidak ada niat padahal dia telah mewujudkan perbuatannya. Barangsiapa yang telah berwudhu, maka tentunya dia telah berniat wudhu, dan barang siapa yang berdiri untuk shalat, tentunya dia telah berniat untuk shalat. Tidaklah diterima oleh orang yang berakal, melakukan sesuatu dari peribadatan dan tidak pula selainnya tanpa berniat.”
Dengan demikian, niat adalah perkara yang mesti ada pada setiap perbuatan manusia yang memiliki tujuan,  tanpa perlu lagi bersusah payah untuk memperdebatkannya.
Dalil yang digunakan oleh kelompok yang menentang pelafadzan niat ini diantaranya adalah:
·         Tidak ada dalil dalam Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan pelafazan niat sebelum melaksanakan ibadah. Sedangkan dalil ayat yang digunakan para pendukung talafuzh niat tidaklah relevan, aneh, dibuat-buat dan terkesan sangat dipaksakan.
·         Dalil Hadits yang digunakan oleh kelompok yang mendukung pelafadzaan niat, mereka pandang tidak relevan. Karena riwayat Nabi Saw. yang menjaharkan kalimat talbiyah ketika haji: Labaik Allahumma labaik … dst, bukanlah niat, tetapi dzikir. Hal ini bahkan didukung termasuk kalimat:  labaika umratan wa hajjan, atau ucapan doa nabi hendak menyembelih kambing: bismillahi allahu akbar … dst, juga ucapan nabi ketika hendak puasa sunah: “kalau begitu hari ini aku puasa ..”
Demikianlah perdebatan tentang pelafadzan niat di kalangan para ulama. Dari ketiga kelompok tersebut, mungkin telah menggiring banyak orang pada kesalahan dalam niat. Artinya, banyak orang yang tidak tahu bahwa tidak ada dalil yang benar-benar relevan tentang dianjurkannya pelafadzan niat. Karena ketidaktahuan itulah, maka tak ayal jika kita sering melakukan kesalahan dalam masalah niat ini, termasuk niat ketika akan menunaikan shalat hajat.


[1] Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67. Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu,1/142. Al-Badai’, I/127. Ad-Durru al-Muhtar, I/406. Fathu al-Qadir, I/185.  Al-lubab, I/66. Hasyiyah al-Bajury, I/149. Mughny al-Muhtaj I/148-150. Al-Muhadzab,  I/70. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab,  III/243-252.

Dilarang Keras Shalat di Tempat-Tempat ini...

|




Selain waktu, ternyata ada juga tempat terlarang untuk shalat. Dalam hal ini, dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam hal: aku diberi jawaami’il kalim (kalimat ringkas namun padat makna –pen), aku ditolong pada peperangan (dengan rasa takut pada dada musuhku), harta rampasan perang dihalalkan bagiku, bagiku bumi dijadikan untuk bersuci (tayamum) dan sebagai masjid (tempat untuk shalat –pen), aku diutus kepada seluruh makhluk, dan aku menjadi penutup para nabi.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa seluruh bagian permukaan bumi adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan, kamar mandi, dan kandang unta. Pengecualian tersebut disebutkan pada hadits-hadits berikut ini:
Dari Jundub bin Abdullah Al-Bajlaa, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw. lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Seluruh bagian bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Dari Barra ‘ bin Azib, dia berkata, “Rasulullah Saw. ditanya tentang shalat di kandang unta, maka beliau Saw. bersabda, ‘Janganlah kalian shalat di kandang unta, karena sesungguhnnya itu di antara tempat setan-setan.’ Dan beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, maka beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian di sana karena dia merupakan tempat yang mengandung berkah.’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah dan Abu Daud)[1]
Dari penjelasan hadits di atas, setidaknya ada tiga tempat yang menjadi tempat terlarang untuk menunaikan shalat, termasuk shalat hajat, yakni kuburan, kandang unta, dan kamar mandi. Mengapa? Sebab pada ketiga tempat itu banyak terdapat setan-setan yang bisa mengganggu shalat kita. Kita tahu bahwa setan sangat senang menganggu manusia, apalagi ketika manusia itu beribadah kepada Allah Swt. Oleh karena alasan itulah, maka kita dilarang untuk menunaikan shalat di tempat terlarang tersebut.
Saudaraku sekalian yang dimuliakan Allah.
Sebenarnya, jika saya mengamati lebih dalam, tiga tempat itu hanyalah sebuah symbol saja. Pada intinya, hadits di atas ingin menyampaikan kepada kita agar kita tidak menunaikan shalat di tempat-tempat yang kotor, dimana tempat kotor tersebut merupakan tempatnya setan. Selain kotor, tempat-tempat tersebut jauh dari suci. Padahal, syarat utama dalam shalat adalah kesucian. Barang siapa yang shalat dalam keadaan kotor atau tidak suci, baik pakaian, tempat, maupun badan, maka shalatnya tidak akan diterima. Tentu saja, selain di kamar mandi dan kandang unta, masih banyak lagi tempat-tempat kotor sejenis yang terlarang untuk shalat.
Adapun tempat-tempat lain selain tiga tempat di atas, antara lain sebagai berikut:[2]
·         Di gereja, kuli, candi, pura, kelenteng, wihara, dan lain-lain yang bukan tempat ibadah orang Islam (HR. Ahmad dan Muslim)
·         Di tempat pembuangan kotoran hewan
·         Di tempat penyembelihan hewan
·         Di tengah jalan
·         Di tempat binatang berteduh (di dalam kandang hewan)
·         Di dalam pemandian
·         Di atas atap Ka'bah (HR. Ibnu Majah dan lain-lainnya)
Demikianlah beberapa tempat terlarang untuk melaksanakan shalat, meski shalat sunnah. Nah, apabila Anda melakukan shalat hajat di salah satu tempat tersebut, maka hal itulah yang (mungkin) menjadi salah satu factor tidak diterimanya hajat Anda sehingga cita-cita pun tak kunjung tercapai.


[1] muslimah.or.id
[2] dodinur.blogspot.com

Dalil-Dalil tentang Waktu Larangan Shalat dan Alasan Dibalik Pelarangannya

|




Dalam postingan sebelumnya, Saya telah menjelaskan mengenai waktu-waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnah. Tentu, Anda pasti bertanya dalam hati, kenapa mengerjakan shalat dilarang pada waktu-waktu yang dimaksud? Nah, untuk menambah keyakinan Anda tentang waktu larangan shalat, berikut ini saya saikan dalil-dalil tentang waktu larangan mengerjakan shalat dan alasan larangannya, sebagaimana dijelaskan dalam voa-islam.com.

1.      Dalil-Dalil
Ada beberapa dalil dari hadits yang digunakan oleh para ulama terkait dengan waktu larangan untuk shalat, antar lain sebagai berikut:
·         Hadits Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata, “Beberapa orang yang aku percaya dan dipercaya oleh Umar bersaksi bahwa Nabi Saw. melarang shalat setelah Shubuh sehingga matahari terbit dan sesudah ‘Ashar sehingga matahari tenggelam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
·         Hadits Abu Sa’id al-Khudri ra., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada shalat sesudah Shubuh hingga matahari meninggi dan tidak ada shalat sesudah ‘Ashar hingga matahari tenggelam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·         Hadits Ibnu Umar ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila terbit matahari, maka akhirkan shalat sehingga matahari meninggi. Dan apabila matahari mulai tenggelam sehingga benar-benar menghilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
·         Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir ra., ia berkata: “Nabi Saw. melarang kami mengerjakan shalat atau menguburkan mayat kami pada tiga waktu: Ketika matahari terbit hingga naik, saat tengah hari sehingga matahari tergelincir, dan ketika matahari akan tenggelam sehingga tenggelam.” (HR. Muslim)
·         Dari Ibnu Abbas berkata: “Datanglah orang-orang yang diridhai dan ia ridha kepada mereka yaitu Umar, ia berkata bahwasanya Nabi Saw. melarang sholat sesudah Subuh hingga matahari bersinar, dan sesudah Asar hingga matahari terbenam. (HR. Bukhari)
·         Dari Ibnu Umar berkata: “Rasululloh Saw. bersabda: Apabila sinar matahari terbit maka akhirkanlah (jangan melakukan) sholat hingga matahari tinggi. Dan apabila sinar matahari terbenam, maka akhirkanlah (jangan melakukan) sholat hingga matahari terbenam”. (HR. Bukhari)
·         Dari Abu Hurairah bahwa Rasululloh saw. melarang dua sholat. Beliau melarang sholat sesudah sholat Subuh sampai matahari terbit dan sesudah sholat Asar sampai matahari terbenam. (HR. Bukhari)
·         Dari Muawiyah ia berkata (kepada suatu kaum): “Sesungguhnya kamu melakukan shalat (dengan salah). Kami telah menemani Rasululloh Saw., kami tidak pernah melihat beliau melakukan shalat itu karena beliau telah melarangnya, yaitu dua rakaat sesudah sholat Asar”. (HR. Bukhari)
·         Dari Uqbah bin Amir: “Rasululloh Saw. melarang sholat pada tiga saat: (1) ketika terbit matahari sampai tinggi, (2) ketika hampir Zuhur sampai tergelincir matahari, (3) ketika matahari hampir terbenam. (HR. Bukhari)
·         Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah melarang sholat pada waktu tengah hari tepat (matahari di atas kepala), sampai tergelincir matahari kecuali pada hari Jumat. (HR. Abu Dawud)
·         Telah bersabda Rasulullah Saw.: “Matahari terbit dengan diikuti setan. Pada waktu mulai terbit, matahari berada dekat dengan setan, dan ketika telah mulai meninggi berpisah darinya. Pada waktu matahari berada tepat di tengah-tengah langit, ia kembali dekat dengan setan, dan ketika telah zawal (condong ke arah barat) ia berpisah darinya. Pada waktu hampir terbenam, ia dekat dengan setan, dan setelah terbenam ia berpisah lagi darinya.” (HR. Nasa’i)
2.      Alasan Larangan
Lantas, mengapa hadits tersebut melarang kita untuk shalat pada waktu-waktu yang telah disebutkan di atas? Apa alasannya?
Nabi Saw. menjelaskan alasan dilarangnya shalat pada waktu-waktu tersebut berdasarkan sabdanya kepada Amr bin ‘Abasah al-Sulami: “Kerjakan shalat Shubuh, kemudian jangan  kerjakan shalat hingga matahari terbit dan meninggi. Karena (saat itu) matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan saat itu pula orang-orang kafir bersujud kepadanya. Setelah itu, silahkan mengerjakan shalat (sunnah) karena shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga bayangan tegak lurus (tengah hari). (Saat itu) jangan kerjakan shalat, karena neraka sedang dinyalakan. Jika bayangan telah condong, silahkan kerjakan shalat karena shalat disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga engkau mengerjakan shalat ‘Ashar. Sesudah itu janganlah engkau mengerjakan shalat hingga matahari terbenam. Sesungguhnya matahari terbenam di antara dua tanduk syetan dan ketika itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.” (HR. Muslim)
Itulah alasan mengapa kita dilarang shalat pada tiga waktu terlarang tersebut. Yang dilarang dikerjakan adalah semua jenis shalat, yakni shalat wajib dan shalat sunnah –kecuali shalat sunnah yang telah dijelaskan di atas seperti shalat sunnah masuk masjid, shalat sunnah setelah wudhu, shalat sunnah tahiyatul masjid, adapun selain itu (termasuk shalat hajat apalagi) dilarang untuk dikerjakan pada waktu-waktu tersebut. Oleh karena itu, sebaiknya kita menghindari untuk menunaikan shalat hajat pada waktu terlarang tersebut meskipun kita sangat ingin cita-cita kita segara tercapai.

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB