Menuju Islam Inklusif

|


Menuju Islam Inklusif
Oleh: Rizem Aizid

Wacana tentang kebangkitan Islam bukanlah inovasi (bid’ah) maupun sesuatu yang baru, juga bukan aspek eksklusif dari misi penyebaran Islam (dakwah). Gagasan reformasi (kebangkitan) Islam mempunyai sejarah yang sangat panjang dan rumit. Hal itu ditandai dengan kemunculan para pemikir pembaru Islam, mulai dari Al-Ghazali (pada zaman klasik), Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Khomeini, dll (pada zaman modern).
Dalam peta reformasi pemikiran Islam, setidaknya, pemikir pembaru Islam terbagi ke dalam dua kategori, yakni kategori kelompok revivalis masa awal dan revivalis masa kini. Kelompok pertama (al-Ghazali) mengusung tugas utama untuk membersihkan debu-debu dari wajah (agama) Islam. Dalam pandangan mereka, sejak beberapa abad pasca kepemimpinan Khulafaurrasihdin, Islam sudah tidak lagi sebagai sumber kebenaran, tetapi telah dijadikan budak oleh sebuah “identitas kebudayaan/peradaban”. Oleh karena itu, adalah tugas mereka untuk memurnikan kembali islam. Berbagai bentuk bid’ah, penyelewengan interpretasi, hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam) merupakan debu-debu yang berusaha dibersihkan dari wajah islam oleh kelompok ini.
Berbeda dengan al-Ghazali, tugas yang diemban oleh Iqbal dkk (revivalis masa kini) adalah mencoba untuk mendamaikan antara kebakaan dan kefanaan, tradisi dan modernitas, islam dan sekularisme, dan lain-lain. Memahami dan memelihara pesan abadi agama dalam gelombang perubahan dan pembaruan yang begitu besar merupakan inti perjuangan dan pengorbanan kaum reformis pada zaman kita.
Akan tetapi, upaya pembaruan yang dilakukan oleh kaum revivalis dan reformis, mulai dari Al-Ghazali sampai Khomeini, ternyata belum juga mampu membawa suatu perubahan segar bagi kemajuan Islam masa kini. Terbukti, hingga saat ini Islam masih berada dalam masa kegelapan (darkness). Eksklusivisme, kejumudan berpikir, hingga fanatisme berlebihan dalam beragama adalah bukti konkret keterbelakangan (kemunduran) Islam. Di samping itu, sikap-sikap intoleransi yang ditunjukkan umat Islam terhadap agama lain (non-Islam), semakin memperburuk wajah Islam. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya reformasi Islam hingga saat ini belum juga membuahkan hasil? Dimanakah letak kekeliruan para reformis terdahulu dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan (baca:pemurnian) Islam? Dan solusi apa yang tepat untuk memecah kebuntuan ini?
Menurut Abdul Karim Soroush (2002), dalam bukunya Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama, upaya pembaruan yang dilakukan oleh para pembaru terdahulu memiliki satu kelemahan dasar, yaitu tidak adanya teori epistemologi yang tepat dalam upaya reformasi Islam. Konsep epistemologi itu harus memandang aspek perubahan dan keabadian sebagai suatu kesatuan yang utuh dan padu, bukan parsial.
Persoalan yang belum bisa dipecahkan oleh kaum reformis dan revivalis masa dahulu adalah; mereka tidak membedakan dua pintu kembar yang menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan islam, yakni pembedaan antara agama dan ilmu agama, pemahaman pribadi tentang agama dan agama itu sendiri, dan islam sebagai identitas dan islam sebagai kebenaran. Bagi Soroush (2002), untuk bisa meraih kembali kejayaan islam, umat islam kontemporer harus mampu membedakan kedua pintu kembar tersebut. Di sinilah letak rantai pemikiran kaum reformis yang terputus itu.
Berangkat dari kegelisahan inilah, Abdul Karim Soroush (2002) menggagas suatu teori epistemologi yang dianggap mampu menjembatani rantai yang terputus itu. Ia menyebut teorinya dengan ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama”.
Selama ini, Islam tengah berada diambang ketidakpastian. Boleh dibilang, Islam saat ini membutuhkan suatu revolusi pemikiran yang dapat membawa kemajuan bagi Islam. Salah satu jalan adalah dengan reformulasi dan reinterpretasi semua ajaran Islam yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, pintu pencerahan Islam niscaya akan terbuka.
Hal itu juga disadari oleh Fazlur Rahman, bapak neo-modernisme asal Pakistan, bahwa reformulasi ajaran Islam sangat penting bagi kemajuan Islam itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, Islam yang oleh Rahman perlu direformulasi adalah Islam historis. Dalam bukunya, Islam, ia membagi Islam ke dalam dua bentuk, yakni Islam normatif dan Islam Historis.
Islam normatif adalah Islam (AL-Quran dan Hadist) yang bersumber langsung dari nabi Muhammad saw. Sedangkan Islam Historis adalah ajaran-ajaran Islam yang sudah bercampuraduk dengan interpretasi atau pemahaman manusia. Oleh karena itu, ia bersifat temporal yang bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Hampir sama dengan Rahman, Soroush melalui teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” mencoba untuk mendamaikan antara agama dan ilmu agama, ukhrawi dan duniawi, nalar dan wahyu, dan Islam dan sekularisme. Teori ini tidak bermaksud ingin memodernkan Islam atau memodifikasi ajaran Islam, melainkan untuk memperjelas tentang proses pemahaman manusia (muslim) tentang agama (Islam).
Pada kenyataannya, agama dan ilmu agama sering disalahartikan sehingga menyebabkan pemahaman yang keliru tentang inti agama itu sendiri. Salah satu contoh yang hingga saat ini belum juga terpecahkan adalah konflik atau perselisihan antar agama. Agama yang satu menuding agama yang lain sebagai bid’ah, begitu pula sebaliknya. Truth claim semacam itulah yang membuat Islam tidak maju-maju (stagnan).
Untuk konteks lokal (Indonesia) misalnya, persoalan tentang aliran Ahmadiyah, yang oleh sebagian umat Islam dianggap melecehkan agama Islam, telah memicu lahirnya konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik agama yang terjadi di Ambon, Poso, Maluku dan sekitarnya, juga menjadi bukti ketidakmampuan umat Islam indonesia dalam membedakan antara agama dan ilmu agama. Yang seharusnya sakral (agama) menjadi profan (fatwa), begitu sebaliknya.
Dalam realitas berkonflik inilah, teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” memegang peran urgen. Inti dari teori ini menjelaskan bahwa agama bersifat sakral, suci, dan abadi. Sedangkan ilmu agama bersifat temporal, evolutif, dan bisa berubah sesuai dengan konteks zamannya. Ilmu agama inilah yang oleh Rahman disebut Islam Historis.
Dengan mengaplikasikan teori ini dalam konteks Islam masa kini, saya yakin, pemahaman muslim tentang agama (Islam) akan semakin tercerahkan sehingga diharapkan mampu meredam berbagai gejolak konflik yang masih dan akan berlangsung. Kejumudan berpikir, eksklusivisme, maupun fanatisme agama tidak akan menghantui pemikiran umat Islam lagi, sebaliknya, Islam inklusif akan terlahir. Semoga!

Menuju Islam Inklusif

|


Menuju Islam Inklusif
Oleh: Rizem Aizid

Wacana tentang kebangkitan Islam bukanlah inovasi (bid’ah) maupun sesuatu yang baru, juga bukan aspek eksklusif dari misi penyebaran Islam (dakwah). Gagasan reformasi (kebangkitan) Islam mempunyai sejarah yang sangat panjang dan rumit. Hal itu ditandai dengan kemunculan para pemikir pembaru Islam, mulai dari Al-Ghazali (pada zaman klasik), Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Khomeini, dll (pada zaman modern).
Dalam peta reformasi pemikiran Islam, setidaknya, pemikir pembaru Islam terbagi ke dalam dua kategori, yakni kategori kelompok revivalis masa awal dan revivalis masa kini. Kelompok pertama (al-Ghazali) mengusung tugas utama untuk membersihkan debu-debu dari wajah (agama) Islam. Dalam pandangan mereka, sejak beberapa abad pasca kepemimpinan Khulafaurrasihdin, Islam sudah tidak lagi sebagai sumber kebenaran, tetapi telah dijadikan budak oleh sebuah “identitas kebudayaan/peradaban”. Oleh karena itu, adalah tugas mereka untuk memurnikan kembali islam. Berbagai bentuk bid’ah, penyelewengan interpretasi, hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam) merupakan debu-debu yang berusaha dibersihkan dari wajah islam oleh kelompok ini.
Berbeda dengan al-Ghazali, tugas yang diemban oleh Iqbal dkk (revivalis masa kini) adalah mencoba untuk mendamaikan antara kebakaan dan kefanaan, tradisi dan modernitas, islam dan sekularisme, dan lain-lain. Memahami dan memelihara pesan abadi agama dalam gelombang perubahan dan pembaruan yang begitu besar merupakan inti perjuangan dan pengorbanan kaum reformis pada zaman kita.
Akan tetapi, upaya pembaruan yang dilakukan oleh kaum revivalis dan reformis, mulai dari Al-Ghazali sampai Khomeini, ternyata belum juga mampu membawa suatu perubahan segar bagi kemajuan Islam masa kini. Terbukti, hingga saat ini Islam masih berada dalam masa kegelapan (darkness). Eksklusivisme, kejumudan berpikir, hingga fanatisme berlebihan dalam beragama adalah bukti konkret keterbelakangan (kemunduran) Islam. Di samping itu, sikap-sikap intoleransi yang ditunjukkan umat Islam terhadap agama lain (non-Islam), semakin memperburuk wajah Islam. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya reformasi Islam hingga saat ini belum juga membuahkan hasil? Dimanakah letak kekeliruan para reformis terdahulu dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan (baca:pemurnian) Islam? Dan solusi apa yang tepat untuk memecah kebuntuan ini?
Menurut Abdul Karim Soroush (2002), dalam bukunya Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama, upaya pembaruan yang dilakukan oleh para pembaru terdahulu memiliki satu kelemahan dasar, yaitu tidak adanya teori epistemologi yang tepat dalam upaya reformasi Islam. Konsep epistemologi itu harus memandang aspek perubahan dan keabadian sebagai suatu kesatuan yang utuh dan padu, bukan parsial.
Persoalan yang belum bisa dipecahkan oleh kaum reformis dan revivalis masa dahulu adalah; mereka tidak membedakan dua pintu kembar yang menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan islam, yakni pembedaan antara agama dan ilmu agama, pemahaman pribadi tentang agama dan agama itu sendiri, dan islam sebagai identitas dan islam sebagai kebenaran. Bagi Soroush (2002), untuk bisa meraih kembali kejayaan islam, umat islam kontemporer harus mampu membedakan kedua pintu kembar tersebut. Di sinilah letak rantai pemikiran kaum reformis yang terputus itu.
Berangkat dari kegelisahan inilah, Abdul Karim Soroush (2002) menggagas suatu teori epistemologi yang dianggap mampu menjembatani rantai yang terputus itu. Ia menyebut teorinya dengan ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama”.
Selama ini, Islam tengah berada diambang ketidakpastian. Boleh dibilang, Islam saat ini membutuhkan suatu revolusi pemikiran yang dapat membawa kemajuan bagi Islam. Salah satu jalan adalah dengan reformulasi dan reinterpretasi semua ajaran Islam yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, pintu pencerahan Islam niscaya akan terbuka.
Hal itu juga disadari oleh Fazlur Rahman, bapak neo-modernisme asal Pakistan, bahwa reformulasi ajaran Islam sangat penting bagi kemajuan Islam itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, Islam yang oleh Rahman perlu direformulasi adalah Islam historis. Dalam bukunya, Islam, ia membagi Islam ke dalam dua bentuk, yakni Islam normatif dan Islam Historis.
Islam normatif adalah Islam (AL-Quran dan Hadist) yang bersumber langsung dari nabi Muhammad saw. Sedangkan Islam Historis adalah ajaran-ajaran Islam yang sudah bercampuraduk dengan interpretasi atau pemahaman manusia. Oleh karena itu, ia bersifat temporal yang bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Hampir sama dengan Rahman, Soroush melalui teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” mencoba untuk mendamaikan antara agama dan ilmu agama, ukhrawi dan duniawi, nalar dan wahyu, dan Islam dan sekularisme. Teori ini tidak bermaksud ingin memodernkan Islam atau memodifikasi ajaran Islam, melainkan untuk memperjelas tentang proses pemahaman manusia (muslim) tentang agama (Islam).
Pada kenyataannya, agama dan ilmu agama sering disalahartikan sehingga menyebabkan pemahaman yang keliru tentang inti agama itu sendiri. Salah satu contoh yang hingga saat ini belum juga terpecahkan adalah konflik atau perselisihan antar agama. Agama yang satu menuding agama yang lain sebagai bid’ah, begitu pula sebaliknya. Truth claim semacam itulah yang membuat Islam tidak maju-maju (stagnan).
Untuk konteks lokal (Indonesia) misalnya, persoalan tentang aliran Ahmadiyah, yang oleh sebagian umat Islam dianggap melecehkan agama Islam, telah memicu lahirnya konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik agama yang terjadi di Ambon, Poso, Maluku dan sekitarnya, juga menjadi bukti ketidakmampuan umat Islam indonesia dalam membedakan antara agama dan ilmu agama. Yang seharusnya sakral (agama) menjadi profan (fatwa), begitu sebaliknya.
Dalam realitas berkonflik inilah, teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” memegang peran urgen. Inti dari teori ini menjelaskan bahwa agama bersifat sakral, suci, dan abadi. Sedangkan ilmu agama bersifat temporal, evolutif, dan bisa berubah sesuai dengan konteks zamannya. Ilmu agama inilah yang oleh Rahman disebut Islam Historis.
Dengan mengaplikasikan teori ini dalam konteks Islam masa kini, saya yakin, pemahaman muslim tentang agama (Islam) akan semakin tercerahkan sehingga diharapkan mampu meredam berbagai gejolak konflik yang masih dan akan berlangsung. Kejumudan berpikir, eksklusivisme, maupun fanatisme agama tidak akan menghantui pemikiran umat Islam lagi, sebaliknya, Islam inklusif akan terlahir. Semoga!

Magnum Opus Sang Medievalis

|




Magnum Opus Sang Medievalis
Oleh: Rizem Aizid


Judul buku : The Name of the Rose
Penulis : Umberto Eco
Penerjemah :Nin Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tebal buku : xxx + 624 halaman
Cetakan : I, 2008



Sejarah mencatat, Zaman Pertengahan di Barat merupakan Zaman keemasan bagi kekristenan sekaligus masa kegelapan bagi filsafat. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena pada abad itu alam pikiran Eropa berada (tunduk) di bawah payung agama (gereja). Kekuatan akal (rasio) harus tunduk pada wahyu (gereja), filsafat harus tunduk pada teologi, dll.
Pada masa-masa kegelapan itu, banyak filosof atau pakar ilmu pengetahuan yang menjadi korban kekejaman Gereja, karena pemikiran-pemikirannya dianggap melenceng dari agama (bidah). Pada abad pertengahan, filsafat yang berkembang adalah filsafat Plato dan Aristoteles yang dikristenkan. Tokoh-tokohnya adalah Thomas Aquinas dan Agustinus. Mereka adalah filosof kristen yang mencoba mengkristenkan ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles.
Di pihak lain, intervensi Gereja di berbagai aspek, mulai dari filsafat, politik, sosial, hingga iman telah menimbulkan banyak perselisihan atau konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik tidak hanya terjadi antara kerajaan dengan gereja, namun juga terjadi di dalam gereja, antara biara dengan biara. Beragam pembunuhan misterius pun terjadi dalam biara.
Bagaimana dan seperti apa kisah pembunuhan misterius yang muncul akibat konflik intern dalam biara itu terjadi?
Buku berjudul The Name of the Rose yang ditulis oleh Umberto Eco, ini berusaha merekonstruksi tragedi pembunuhan berantai yang tarjadi dalam biara Melk pada Abad Pertengahan. Lewat karya ini, Eco berhasil menyajikan ulang suatu kisah nyata di abad pertengahan yang hampir menjadi ”mitos”. Bisa dibilang, novel ini adalah Magnum Opus Umberto Eco. Sebab dari banyak buku yang telah ditulisnya, buku ini adalah karya terbesarnya tentang abad pertengahan. Di samping itu, metode intertekstualitas dan abduksi yang digunakannya menambah kekayaan data (informasi) tentang tema utama novel ini. Novel ini adalah novel detektif terbesar dan fenomenal.
Dalam pengantar buku ini dijelaskan, pada awalnya Eco sempat memberi judul novel ini dengan Abbazia del delitto (Biara Kejahatan), karena tema utama yang diangkat adalah kejahatan pembunuhan yang terjadi dalam sebuah biara. Akan tetapi, Eco lebih memilih The name of the rose (il nome dalam bahasa Italia, Nama Mawar dalam bahasa Indonesia) sebagai judul novelnya, karena dianggap mencakup semua persoalan yang diangkatnya, mulai dari kasus-kasus pembunuhan di Biara Melk dan penyelidikannya, budaya biara, sampai informasi-inforamasi penting tentang Abad Pertengahan. Oleh karena itulah, novel ini berjudul The Name of the Rose (il nome/Nama Mawar).
Di italia, il nome dapat menggaruk banyak konsumen dari berbagai segmen dengan kepentingan yang berbeda-beda. Orang-orang yang terlibat pada abad pertengahan pada umumnya, sejarah gereja (dan secara khusus sejarah ordo-ordo religius), kritikus sastra pasti tidak akan tahan untuk tidak membaca magnum opus ini.
Eco berhasil mengangkat tema lama bahkan tema yang jarang disentuh menjadi objek imajinasi yang menarik. Hal itu karena periode yang dikisahkan eco selama ini dianggap sebagai periode tradisional, gelap, atau pramodern yang jarang disentuh orang-orang modern. Di tangan medievalis (ahli abad pertengahan) dan novelis seperti eco, periode ini disajikan secara berbeda;unik dan menarik.
Tokoh utama yang diangkat Eco dalam cerita ini adalah seorang Fransiskan dari Jerman bernama Adso. Novel ini merupakan kesaksian dan memoar Adso ketika dia berada di Biara Melk pada tahun 1327 di akhir bulan November. Eco mengumpulkan serpihan-serpihan memoar atau tulisan Adso dari berbagai literatur. Oleh karena itu, metode yang dipakai Eco dalam menulis novel ini adalah intertektualitas. Dia menghubungkan satu teks dengan teks lain, dan bahkan tak canggung-canggung menggunakan sebuah teks mapan, ortodoks, doktrinal, dan bahkan biblis (di sini ia mengambil ayat dari Injil Yohanes). Hlm. Xiv
Kisah pembunuhan berantai yang terjadi di biara Benediktan Melk disajikan ke dalam tujuh pembahasan (tujuh hari). Hari pertama, Eco mengisahkan tentang kedatangan Adso dengan gurunya William Baskerville, seorang Inggris dengan tradisi intelektual oxford, ke sebuah biara Benediktan Melk. Tugas Adso ke biara tersebut adalah untuk meneliti kasus kematian seorang biarawan muda bernama Adelmo dari Otranto, seorang ilmuniator dalam perpustakaan biara Melk. Selain itu, Adso dan gurunya menjadi utusan raja dalam pertemuan yang akan diadakan di biara itu untuk mendamaikan antara kelompok Fransiskan (yang dekat dengan raja) dan kelompok Paus (dengan dukungan para Dominikan).
Hari kedua, hari ketiga, hari keempat, hari kelima, dan hari kenam, Eco mengisahkan tentang rentetan pembunuhan yang menimpa para petugas perpustakan di biara Melk. Mereka adalah Adelmo, Venantius, Berenger, Severinus, dan Maleakhi. Enam hari dari kedatangan Adso dan gurunya ke biara Melk belum membuahkan hasil dalam penyelidikannya. Akan tetapi, pada hari ketujuh, dia telah menemukan titik terang tentang pembunuhan misterius di biara tersebut. Dengan berlagak seorang detektif profesional, mereka berhasil mengungkap misteri kematian enam biara petugas perpustakaan itu. Dengan tersangka bernama Jorge de burgos, salah satu biarawan Melk.
Sebagai seorang storyteller yang ulung, Eco sukses menyuguhkan sebuah kisah (nyata) pembunuhan berantai yang rumit itu menjadi enak diikuti dan mudah dipahami. Sedangkan informasi-informasi tentang abad pertengahan yang disajikan secara selektif menunjukkan bahwa Eco adalah medievalis (ahli abad pertengahan) yang erudit.
Sungguh menarik membaca novel ini. Selain menyajikan informasi-informasi penting tentang abad pertengahan, buku ini juga mengajarkan kita bahwa kejahatan bisa muncul dari kesalehan. Dengan demikian, il nome bisa berfungsi sebagai cermin yang sedang mendeformalisasikan gambaran tentang dunia abad pertengahan selama ini, yakni dunia yang ditata sesuai dengan Aristoteleanisme yang sudah dikristenkan. Selamat membaca!

Tetralogi LP dan Kelahiran Penulis Berbakat

|

Tetralogi LP dan Kelahiran Penulis Berbakat
Oleh: Rizem Aizid
(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)

Membaca Tetralogi Laskar Pelangi (LP) karangan Andrea Hirata sungguh sangat mengasyikan dan menarik. Sebab, Andrea Hirata –meskipun novel ini adalah karya pertamanya—berhasil menyuguhkan cerita-cerita atau kisah-kisah yang dapat membuat pembaca berempati. Dalam tetralogi LP, kisah-kisah yang diangkat berasal dari perjalanan hidup sang penulis sendiri, yang mungkin semua orang pernah dan akan mengalaminya. Untuk itu, membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor akan membawa kita pada sebuah perjalanan panjang yang menggetarkan.
Kesuksesan Andrea mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Andrea tergolong pendatang baru dalam dunia tulis-menulis di negeri ini. Sebelum itu, namanya belum dikenal masyarakat banyak. Terbitnya Laskar Pelangi pertama kali pada Januari 2008 lalu, sukses mengantarkan namanya ke dalam sepuluh besar penulis novel Best seller. Novel yang kini sudah dicetak sebanyak empat kali itu semakin mengukuhkan Andrea sebagai penulis (novelis) berbakat negeri ini.
Meskipun hanya berbentuk novel, Namun Laskar Pelangi telah banyak digunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan ilmiah, seperti skripsi, karya ilmiah, dan lan-lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah; apa rahasia di balik kesuksesan Andrea dalam tetralogi LPnya? Bagaimana caranya menulis buku Best Seller? Dan apakah penulis pemula juga bisa melakukannya? Jawabannya “bisa”.
Harus diakui, di Indonesia budaya baca-tulis masih sangat minim. Banyak orang yang menomorduakan budaya ini. Jika dibandingkan dengan budaya lihat-dengar, tentu budaya baca-tulis berada jauh di belakang. Masyarakat kita lebih mengutamakan audio visual daripada media cetak (koran). Itu artinya, konsumsi baca dan tulis sangat kecil sekali. Sebaliknya, masyarakat kita lebih senang dengan sajian-sajian visual dalam layar televisi, karena lebih praktis.
Dalam sejarahnya, Sejak masa colonial budaya dengar dan lihat sudah mendominan dalam masyarakat indonesia. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang. Meskipun, saat ini sudah banyak fasilitas-fasilitas yang memudahkan kita untuk membaca dan menulis. Misalnya, berdirinya penerbit-penerbit buku yang sampai saat ini semakin membludak, atau tersedianya media cetak dengan sajian yang lengkap. Akan tetapi, kenapa garis damarkasi budaya baca-tulis masyarakat kita belum juga bergeser menuju pada kemajuan?
Bagaimanapun juga, kemajuan peradaban bangsa sangat bergantung pada seberapa besar budaya baca dan tulis masyarakatnya. Itu artinya, Indonesia tidak akan pernah maju jika rakyatnya masih menomorsatukan budaya lihat dan dengar.
Memang banyak orang yang beranggapan bahwa menulis itu sulit, menulis itu butuh bakat, dan menulis itu harus pintar. Mungkin anggapan semacam itu tidak bisa disalahkan, Namun lebih menjerumuskan kita pada paradigma pesimistis yang berbuah pada kemalesan untuk membaca dan menulis.
Syaiful Bari dalam artikelnya menulis itu mudah mengatakan bahwa semua orang bisa menulis. Sebab, untuk menulis yang dibutuhkan hanya ketekunan dan kemauan keras. Tanpa itu, mustahil orang akan bisa menulis dengan baik. Selanjutnya, David Hume dalam Peception of Human Mind menyatakan bahwa tulisan yang baik dan bermutu harus mampu memadukan antara dua sense manusia, yakni Impressions dan ideas. Pertama, Impressions merupakan faktor mental atau psikis manusia yang berperan mengatur emosi, hasrat, mood, dan rasa percaya diri untuk menulis. Kedua, ideas adalah gagasan atau ide. Itulah yang terpotrret pada sosok Andrea Hirata.
Melihat kesuksesan tiga tetralogi LPnya di atas, secara tidak langsung, budaya baca-tulis masyarakat kita mulai membaik. Tetralogi pertama adalah Laskar Pelangi, Buku ini bercerita tentang kisah sekelompok anak-anak yang terdiri atas 10 orang dan menamai diri mereka dengan Laskar Pelangi. Anak-anak itu berasal dari Belitung, kehidupannya miskin dan serba susah. Akan tetapi, segala kesulitan hidup akibat kemiskinan yang menimpa mereka, tidak membuat mereka berhenti untuk mengejar mimpi-mimpinya, yakni melepaskan diri dari penyakit kronis bernama kemiskinan. Keinginan besar itu di representasikan dengan keinginan luar biasa mewah di mata mereka. Kemewahan itu bernama pendidikan.
Andrea Hirata mampu menyampaikan pesannya dengan baik. Novel ini juga menjadi potret nasionalisme sang penulis, yakni kecintaannya terhadap tanah kelahiran dan masa kecilnya. Semua itu terangkum apik dalam metafor-metafor hiperbol Laskar Pelangi.
Tetralogi Kedua berjudul Sang Pemimpi. Berkisah tentang sebuah lantunan kehidupan yang memesona dan akan membuat kita percaya akan kekuatan cinta, kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat kita percaya kepada Tuhan. Lewat buku ini, Andrea akan membawa anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran yang berbeda tentang nasib, intelektualitas, dan kegembiraan meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru. Dua tokoh utama Sang Pemimpi adalah Arai dan Ikal. Kisah perjuangan hidup dalam kemiskinan dan cita-cita yang besar tersaji dengan bahasa yang apik, sederhana, dan menggugah.
Tetralogi Ketiga bernama Edensor. Jika Laskar Pelangi bercerita masa kecil 10 anak-anak di Belitung dan Sang Pemimpin berkisah tentang perjuangan dua anak (Ikal dan Arai) dalam mengejar dan mewujudkan mimpi-mimpinya hingga mereka berhasil pergi (sekolah) ke Eropa, maka tetralogi ketiga (Edensor) ini menceritakan kehidupan Ikal dan Arai sewaktu berada (kuliah) di Universitas de Paris, sorbonne, Prancis dan petualangan penaklukan gagah berani dataran Eropa dan Afrika; dari Belanda sampai ke Italia, dari Tunisia sampai Casablanca, dan kembali ke Portugal.
Kesuksesan tetralogi LP dalam menarik perhatian pembaca di tanah air, mengindikasikann bahwa budaya baca-tulis sudah mulai mengalami kemajuan. Oleh karena itu, lahirnya penulis-penulis pemula yang berbakat, tekun, dan berkemauan keras seperti Andrea patut kita apresiasi demi menyongsong masa depan bangsa yang cerah. Menulislah..!

The Teardrop Story Woman

|



The Teardrop Story Woman
Oleh: Rizem Aizid


(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)


Judul buku : Kisah Air Mata, The Teardrop Story Woman
Penulis : Catherine Lim
Penerjemah : Sujatrini Liza
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tebal buku : viii + 526 halaman
Cetakan : Januari 2008


Konon, di sebuah desa yang bernama Luping di Malaysia terlahir seorang perempuan dengan tanda "tahi lalat air mata". Tahi lalat yang berbentuk seperti tetesan air mata tepat di bagian samping matanya. Ia bernama Mei Kwei. Menurut kepercayaan, "tahi lalat air mata" merupakan kutukan para dewa. Oleh karena itu, Mei Kwei hidup dalam kungkungan mitos yang menyebabkan ia terasing dan dibenci keluarganya. Banyak orang yang menyebut Mei Kwei sebagai "anak" setan. Akibat itu pula, ia mengalami hari-hari tragis sepanjang hidupnya.
Mei Kwei adalah keturunan Cina perantauan di Malaysia. Ia tumbuh sebagai gadis desa yang memiliki keindahan tubuh dan kecantikan wajah melebihi gadis-gadis desa (Luping) lainnya. Semua orang di Luping dan dari luar Luping telah mendengar kecantikan Mei Kwei. Orang-orang kaya dari berbagai desa pun datang untuk melamarnya, menjadikannya permaisuri di istana emasnya. Sejak saat itu, kapal cinta Mei Kwei berlabuh dari satu lelaki ke lelaki lainnya, sebelum akhirnya bertemu dengan cinta abadi, lelaki impiannya.
Dalam kepercayaan masyarakat Luping, Terlahir menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan. Apalagi terlahir sebagai perempuan dengan tahi lalat berbentuk tetesan air mata jelas-jelas merupakan tanda kebencian dewa-dewa.. Oleh karena itu, kehadiran Mei Kwei tidak disukai oleh keluarganya, terutama bapaknya yang bernama Ah Oon Koh dan kakanya, Abang. Keduanya selalu memperlakuan Mei Kwei seperti binatang yang disiksa, dipukul, dan diasingkan.
Hari-hari yang dijalani Mei Kwei sangat berat. Ia hidup dalam kebencian, siksaan, dan penindasan keluarganya. Namun pada suatu hari, di saat ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang berparas cantik rupawan, kebahagiaan justru menghampirinya. Kebahagiaan itu dimulai sejak orang tua Yoong-- laki-laki terkaya dari Penang-- melamarnya. Karena iming-iming harta berlimpah, kebencian keluarganya berubah menjadi perhatian. Lantas, bagaimana kehidupan Mei Kwei selanjutnya? Apakah orang tua Yoong adalah lelaki impiannya, laki-laki pertama dan terakhir yang akan mengisi kekosongan hatinya? Dan apakah kutukan tahi lalat air mata itu masih berlaku, mengingat kebahagiaan sudah menunggu di depan mata?
Dengan berlatar belakang Malaysia pada tahun 1950-an yang penuh gejolak, cerita menggetarkan ini mengeksplorasi pencarian abadi cinta di lanskap dramatis yang dirobek oleh granat teroris. Novel berjudul The Teardrop Story Woman-Kisah Air Mata yang ditulis Catherine Lim, ini mengemas dengan sangat menarik lika-liku perjalanan (dramatis) cinta seorang gadis desa (Mei Kwei) di tengah teror kolonial. Dengan bahasa yang renyah, cerdas, dan memukau, Catherine Lim berhasil menyajikan sebuah kisah yang menarik dengan beragam kompleksitas permasalahan hidup. Mulai dari Kemiskinan, kebencian, cinta, terorisme, penindasan, poligami, tradisi, hingga keyakinan (agama).
Mei Kwei merupakan salah satu potret kelam perempuan (etnis) Cina di perantauan. Novel ini berusaha menyadarkan kita bahwa perempuan Cina selalu mendapat perlakuan diskriminatif, terindas, dan terasing di negeri perantauan. Dalam kisah Mei Kwei inilah, kita akan menemukan bukti sejarah ketertindasan perempuan, khususnya etnis Cina.
Tentang penulis, Catherine Lim lahir dan tumbuh besar di Malaysia tapi tinggal dan bekerja di Singapura. Dia mengajar Linguistik Terapan sebelum beralih menjadi penulis secara penuh. Catherine Lim telah mempublikasikan tujuh buah kumpulan cerpen (dua di antaranya digunakan sebagai teks ujian GCSE oleh Cambridge University), empat novel, sebuah buku puisi, serta ratusan artikel.
Paling tidak ada dua keunikan dari The Teardrop story Woman ini. Pertama, menggunakan setting Malaysia pada masa colonial Inggris. Kedua, menyuguhkan kisah tentang keragaman etnis di Melayu, terutama memberi wawasan tentang etnis Cina di perantauan.
Berangkat dari seting historis masa kolonial tahun 1950an di Malaysia, novel ini selain berkisah tentang lika-liku kehidupan seorang perempuan desa yang miskin, juga merupakan potret ketertindasan perempuan Cina di perantauan baik oleh kolonial maupun pribumi. Perlakuan-perlakuan diskriminasi, menindas, dan menomorduakan perempuan memang tidak bisa dihindari. Banyak sekali bukti-bukti sejarah tentang perlakuan semacam itu.
Laki-laki dan perempuan merupakan dua entitas berbeda. Akibat oposisi biner itu, terjadi superioritas (laki-laki) dan inferioritas (perempuan). Perempuan kerap menjadi korban kekerasan kaum adam, seperti pemukulan, cemoohan, pelecehan seksual, hingga pemerkosaan.
Perlu diketahui, penindasan perempuan telah menjadi beban sejarah yang sampai saat ini masih berkelanjutan. Penindasan itu tidak hanya terjadi di Malaysia seperti yang digambarkan Catherine Lim dalam novel ini, melainkan juga melanda kaum perempuan (Cina) di Indonesia. Banyak sekali cacatan sejarah yang membuktikan ketertindasan perempuan di Indonesia. Tragedi pemerkosaan massal yang dilakukan orang-orang pribumi terhadap perempuan Cina di Indonesia (1998) adalah salah satunya.
Cantik dan penuh semangat, Mei Kwei berhasil mengatasi takdir kelahirannya yang tak beruntung dan melepaskan diri dari pria-pria yang tidak bisa ia cintai kemudian jatuh dalam pelukan lelaki yang tak boleh ia cintai: pastor katolik, Bapa Francois Martin, seorang misioner yang dikirim ke Luping, sebuah kota kecil di Malaysia. Berhadapan dengan cinta Mei Kwei, komitmen Bapa Martin pada pangggilannya mulai retak, menampakkan jati diri lelaki yang tersembunyi di dalamnya. Tuntutan tubuh dan jiwa pun berubah menjadi benturan yang menakutkan.
Novel ini menarik untuk di baca. Selain kita disadarkan akan ketertindasan kaum perempuan secara umum, novel ini juga merekam secara apik kisah perempuan Cina perantauan pada masa colonial di Malaysia. Membaca novel ini seakan kita sedang mengalami langsung tragedi cinta yang dialami Mei Kwei. Selamat membaca!

IAIN dan Masa Depan Intelektual Muslim

|

IAIN dan Masa Depan Intelektual Muslim
Oleh: Rizem Aizid
(Pengurus LPM HumaniusH Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


Fenomena yang cukup menarik untuk disimak menjelang bergulirnya tahun ajaran baru adalah banyaknya masyarakat (orang tua) yang berlomba-lomba memilih sekolah lanjutan (Perguruan Tinggi) terbaik untuk anaknya. PT yang dianggap baik (berkualitas, mahal, dan ternama) akan diperebutkan banyak calon mahasiswa. Namun sebaliknya, PT yang (sudah) dicap jelek oleh masyarakat akan dijauhi. IAIN, mungkin termasuk salah satu PT yang memiliki citra jelek di mata masyarakat. Untuk itu, tak heran apabila calon-calon mahasiswa IAIN dari tahun ke tahun mengalami penurunan kuantitas.
Pertanyaannya adalah; apa yang menyebabkan citra IAIN jelek di mata masyarakat Indonesia? Mungkin masih segar dalam memori kita tentang buku kontroversial yang ditulis Adian Husaini beberapa waktu yang lalu. Buku yang diberi judul “Ada Pemurtadan di IAIN” itu sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi dan masyarakat pada umumnya. Sebab dalam tulisan itu, Adian Husaini menuduh IAIN sebagai kampus yang mencetak orang-orang “murtad”.
Tak bisa dipungkiri, kemunculan buku tersebut telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan IAIN di masa depan. Pasalnya, akibat tuduhan itu, image atau citra IAIN menjadi jelek di mata masyarakat (para orang tua). Hal itu pula yang mempengaruhi merosotnya prosentase mahasiswa IAIN dari tahun ke tahun. Fakta membuktikan, banyak masyarakat yang mulai berpaling dari IAIN. Mungkin kasus penutupan atau penarikan SK jurusan (Prodi) Sosiologi Agama (SA) di PTAIN se-Indonesia beberapa waktu lalu dapat menjadi bukti konkret menipisnya minat masyarakat terhadap IAIN.
Bagaimana pun juga, IAIN memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan Indonesia ke depan. Hal itu terbukti dari banyaknya para pemikir bangsa yang lahir dari “perut” IAIN. Sebut saja, ada Mukti Ali, Azyumardi Azra, Amin Abdullah (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Fatimah Husein, dan lain-lain. Mereka semua adalah para cendekiawan dan intelektual muslim Indonesia.
Melihat kontribusi besar IAIN terhadap lahirnya “kader-kader” cendekiawan muslim, peluang untuk menciptakan Indonesia yang maju masih terbuka lebar. Oleh karena itu, saya kira adalah kurang bijak menuduh “kader-kader” IAIN (khususnya Ushuluddin) dengan kata “murtad”. Apalagi kelahiran para pemikir muslim Indonesia dari perut IAIN memiliki andil besar bagi kemajuan Indonesia, khususnya Islam.
Menurut Fazlur Rahman, kemunduran Islam adalah karena kejumudan berpikir umat Islam itu sendiri. Dalam konteks inilah, diperlukan para pemikir pembaharu yang dapat mendobrak kejumudan berpikir tersebut. Dengan begitu, niscaya kejayaan Islam akan diraih. Untuk meraih kejayaan itu, diperlukan orang-orang semacam Mukti Ali, Amin Abdullah, Cak Nur, Azyumardi Azra, dan lain-lain dalam konteks pemikir pembaharu Indonesia. Sekali lagi, Mereka adalah para pemikir yang lahir dari perut IAIN.
Lantas, bagaimana nasib intelektual muslim Indonesia jika IAIN sudah tidak lagi diminati masyarakat luas, karena image jelek yang dilekatkan padanya? Bisakah bangsa ini maju tanpa mereka? Dua pertanyaan ini layak dipertanyakan terkait dengan kondisi IAIN, khususnya Ushuluddin saat ini. Adalah tugas kita bersama untuk mengembalikan citra positif IAIN di mata masyarakat Indonesia.
Melihat dari fenomena yang ada, klaim “murtad” yang dituduhkan Adian Husaini terhadap IAIN telah menutup hati banyak masyarakat. Akibatnya, mereka sudah enggan lagi menyekolahkan anaknya (generasi muda bangsa) di IAIN. Karena itulah, generasi muda IAIN dari tahun ke tahun semakin menurun. Jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan ushuluddin di IAIN harus “gulung tikar”. Semoga itu tidak terjadi di negeri ini.
Salah satu contoh yang mungkin cukup mewakili potret buram ushuluddin di negeri ini adalah fenomena yang menimpa ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana kuantitas dan kualitas mahasiswa dari tahun ke tahun mengalami penurunan (drastis). Begitu pula dengan minat belajarnya, seperti diskusi, membaca, dan menulis. Implikasinya sudah sangat jelas, yakni masa depan intelektual muslim semakin buram.
Perlu diakui, ushuluddin memiliki prospek yang sangat bagus dalam mencetak generasi muda bangsa yang mapan secara intelektualitas dan ke-iman-an. Banyak sekali pemikir-pemikir modern yang merupakan lulusan dari ushuluddin atau IAIN. Biasanya, jurusan atau program studi (Prodi) yang memiliki prospek bagus dalam mencetak para pemikir masa depan adalah di bidang FIlsafat. Sebab, di bidang inilah para filsuf dilahirkan. Di Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Filsafat diintegrasikan dengan Tauhid, sehingga menjadi Prodi Aqidah dan Filsafat (AF). Tujuannya adalah menciptakan pemikir muslim yang memiliki tingkat keimanan dan intelektualitas yang (sama-sama) tinggi (kuat).
Di samping itu, Sosiologi Agama (SA) juga menjadi salah satu Prodi yang menjanjikan masa depan yang cerah. Sebab, prospek ke depan SA berkaitkelindan dengan terwujudnya hubungan antar agama yang mapan. Untuk konteks Indonesia, tentu SA sangat penting guna mengantisipasi munculnya konflik-konflik agama. Namun sayangnya, Prodi yang bergerak di ranah pluralisme agama ini harus ditutup oleh pemerintah dengan alasan-alasan tekhnis, yakni sedikit peminatnya.
Penghapusan Sosiologi Agama
Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Departemen Agama (Depag) menurunkan kebijakan penghapusan Prodi Sosiologi Agama (SA) di PTAIN se-Indonesia. Menurut hemat saya, keputusan tersebut perlu ditinjau ulang. Sebab, eksistensi SA sangat penting dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia. SA merupakan sebuah studi yang melihat agama dari aspek sosialnya. Untuk itu, SA sebagai sebuah studi akademik dan sekaligus sebagai perspektif dalam melihat fenomena keagamaan masyarakat Indonesia, sangat berguna bagi terwujudnya kenyamanan beragama.
Menurut Umulyadi dalam artikelnya Agama Tanpa Sosiologi Agama (suara karya, 29/0208), mengatakan bahwa perodi SA sangat penting untuk menciptakan pluralisme yang mapan di negeri multikultur. Oleh karena itu, Indonesia (pemerintah) harus mengkaji ulang keputusan pencabutan SK SA tersebut.
Jika hal ini ditarik ke dalam konteks Hubungan Antar Agama (HAA) di Indonesia, SA dapat dijadikan penengah atas konflik-konflik agama yang terjadi. Harus diakui, masyarakat Indonesia belum siap secara mental hidup dalam perbedaan (agama). Perspektif teologis yang digunakan dalam memandang HAA, hanya berakibat pada kemunculan berbagai konflik agama di negeri ini.
Akhirnya, dengan melihat prospek yang ditawarkan Prodi Filsafat dan Sosiologi Agama di atas, saya berkesimpulan bahwa eksistensi ushuluddin, khususnya dua Prodi tersebut, sangat penting. Sebab, hanya merekalah yang bisa mengontrol dan mengarahkan masa depan bangsa Indonesia. Lantas, apa yang akan terjadi ketika ushuluddin sudah tidak lagi diminati?

Memberantas Bandit Berdasi

|


Memberantas Bandit Berdasi

Judul buku : Bandit Berdasi-Korupsi Berjamaah
Penulis : Suhartono W. Pranoto
Penerbit : Impulse Kanisius, Yogyakarta
Tebal buku : 216 halaman
Cetakan : I, 2008


Media Indonesia, 10 Mei 2008

Kelengseran rezim Orde Baru (Soeharto), pada mei 1998, hanya menyisakan sekian persoalan kebangsaan yang hingga detik ini belum terpecahkan. Ironisnya, persoalan-persoalan peninggalan (warisan) Soeharto tersebut semakin parah. Salah satunya adalah praktek korupsi. Saat ini, korupsi semakin bermetamorfosis ke dalam berbagai bentuknya. Di samping itu, korupsi juga merambah ke semua level birokrasi, mulai dari birokrasi pusat (besar/atas) hingga non-pusat (kecil/bawah).
Memang sejak pemerintahan SBY-JK, pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) menjadi target utama program 100 hari SBY. Akan tetapi, lagi-lagi hasilnya mengecewakan. Waktu 100 hari yang diancangkan SBY itu belum (tidak) berjalan maksimal, sehingga korupsi masih mendera negeri ini. Secara terminologis, korupsi merupakan suatu bentuk penyelewengan hak dan atau kewajiban. Baik dalam bentuk kerja, uang, waktu, jabatan, maupun kebijakan.
Korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan para elite yang umum disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih. Dalam istilah yang lebih mutakhir sering disebut kejahatan kaum berdasi dan pelaku kejahatan yang lihai dan berkaliber itu sering dikenal dengan sebutan bandit. Oleh karena itu, para pelaku korupsi (koruptor) yang notabene adalah para elite birokrasi, dalam buku ini disebut Bandit Berdasi (BB).
Buku berjudul Bandit Berdasi-Korupsi Berjamaah, Merangkai Hasil Kejahatan Pasca-Reformasi yang ditulis oleh Suhartono W. Pranoto, ini berkisah tentang sepak terjang dan kehidupan bandit berdasi (para elite) di negeri ini. Penulis melihat kejahatan korupsi yang dilakukan oleh BB dari berbagai aspek, mulai dari aspek budaya, social, sejarah, ekonomi, kejahatan, hingga politik. Buku ini adalah buku pertama yang memotret dunia Bandit Berdasi (koruptor) secara lengkap dan komprehensif. Yang dimaksud dengan bandit berdasi dalam buku ini adalah para elite birokrasi pelaku korupsi. Selain itu, pada bagian terakhir buku Suhartono memberikan tawaran solusi bagaimana caranya memberantas bandit berdasi.
Persoalan korupsi memang persoalan yang pelik dan rumit. Berbagai cara pun telah dilancarkan oleh pemerintah guna membendung arus korupsi yang semakin deras. Namun hasilnya lagi-lagi nihil. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya pemberantasan korupsi dari rezim ke rezim selalu gagal? apa yang menyebabkan bandit berdasi tidak mau melepas “dasi” korupsinya? dan jalan pintas apa yang harus (layak) ditempuh pemerintah (khususnya SBY) dalam memberantas bandit berdasi di negeri ini? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu diurai secara lengkap dan komprehensif oleh Suhartono dalam buku setebal 216 halaman ini.
Menurut Suhartono, korupsi di negeri ini bukan lagi sebuah penyakit social yang dapat diberantas dengan mudah, tetapi lebih pada penyakit budaya yang sangat sulit disembuhkan. Korupsi sudah menjadi kebiasaan turun temurun dalam birokrasi kita, mulai dari birokrasi feodal sampai neofeodal, dari kakek, ayah, hingga anak-anaknya. Oleh karena itu, korupsi sangat sulit diberantas. Jalan yang cukup efektif untuk memberantas BB adalah dengan pendekatan budaya.
Dalam birokrasi feodal misalnya, pembagian status social ke dalam dua kelompok turut mempengaruhi lahirnya perilaku korupsi, yaitu wong gede (meliputi; raja, birokrat, tuan tanah, dan para elite lainnya) dan wong cilik (meliputi; rakyat jelata, petani, buruh, dan lain-lain). Hubungan yang terjalin pun bersifat patron-klien. Jelas yang diuntungkan adalah mereka yang memiliki status social tinggi (wong gede). Biasanya, korupsi terjadi dalam wilayah yang pertama (wong gede). Pasalnya, para elite birokrasi berasal dari status social tertinggi. Sedangkan wong cilik tersubordinasi.
Dalam sejarahnya, budaya feodalisme kembali dipraktekkan pada kekuasaan otoriter Soeharto. Dimana pemerintahan yang dianut bersifat sentralistik mengikuti budaya feodal. Dari sini, perilaku korupsi kembali terjadi.
KKN yang dilakukan oleh para BB disebut extra ordinary crime karena bersifat elitis dan bermodalkan wewenang dan intelektualitas yang menghasilkan miliaran rupiah. Transparency Internasional untuk Indonesia mencatat pada 2003, telah terjadi korupsi di lingkungan PNS, Parpol, Polri, Militer, dalam bentuk suap, pemerasan halus, manipulasi, politik uang, dan kolusi bisnis. Sejak saat itu, korupsi tidak hanya terjadi pada tingkat atas dan menengah, melainkan juga pada tingkat bawah, daerah terisolasi, dan bahkan orang buta huruf sekalipun sesuai dengan omzet local.
Manisnya korupsi sudah dinikmati oknum eksekutif dan legislatif di tingkat pusat sebelum keluarnya UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 tentang Otonomi Daerah dan Keungan Daerah (hlm. 29). Mengikuti model kepatronan (feodalisme), maka sejak dikeluarkannya UU itu, korupsi justru marak terjadi di tingkat bawah (daerah). Akibatnya, sampai saat ini korupsi yang sudah mendarah daging dan mengakar kuat dalam birokrasi itu belum juga teratasi.
Satu contoh kecil yang sering kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari, misalnya suap atau uang pelicin. Dalam jejaring birokrasi, uang pelicin berguna untuk memudahkan seseorang dalam melakukan administrasi. Artinya, untuk mendapatkan KTP di Kelurahan dengan cara yang mudah dan cepat, maka harus ada uang pelicinnya. Tanpa uang pelican, niscaya prosesnya akan lama dan (diper)sulit. Fenomena semacam ini adalah contoh kecil praktek korupsi BB di tingkat bawah.
Pada bagian terakhir buku ini, Suhartono mengajukan sebuah pertanyaan besar terkait pemberantasan korupsi oleh BB, yaitu apakah pendekatan budaya untuk memberantas kejahatan korupsi yang dilakukan oleh BB pada umumnya dapat berjalan efektif?
Sungguh menarik membaca buku ini. Selain memberikan informasi baru seputar dunia bandit berdasi dan korupsinya, juga menyadarkan kita bahwa bandit berdasi adalah perampok dan pembunuh dengan cara yang halus. Untuk itu, sudah saatnya Indonesia bangkit dan mengubur semua bandit berdasi dengan melepaskan “dasi” mereka. Sehingga negeri ini terbebas dari kejahatan korupsi. Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat memberikan sumbangan solusi bagi pemberantasan korupsi oleh pemerintah. Selamat membaca!
Rizem Aizid, Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura

Menghidupkan Kembali Lesbumi

|



Menghidupkan Kembali Lesbumi


Judul buku : LESBUMI, Strategi Politik Kebudayaan
Penulis : Choirotun Chisaan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal buku : xvi + 247 halaman


Suara Merdeka, 4 Mei 2008


Dalam peta sejarah perpolitikan Indonesia, tahun 1950-1960an merupakan tahun-tahun yang banyak melahirkan catatan sejarah “penting” bangsa Indonesia. Mulai dari sejarah pelanggaran kemanusiaan (HAM), G/30/S PKI, Gerwani, pemberontakan orang-orang yang tidak teridentifikasi, dan peristiwa-peristiwa berdarah lainnya. Pada rentang waktu itu pula, Indonesia mengalami sebuah transisi kekuasaan dari kekuasaan Orde Lama (Orla) yang dikomandoi Soekarno ke kekuasaan Orde Baru (Orba) yang dimotori Soeharto. Di samping itu, sejarah-sejarah “penting” juga terjadi dalam ranah kebudayaan. Misalnya, banyaknya lembaga-lembaga kebudayaan yang lahir dari partai politik pada 1960-an.
Realitas sejarah mengakui bahwa, rentang waktu 1950-1960an terjadi semacam perselingkuhan antara kebudayaan dengan partai politik (parpol). Hal itu ditandai oleh maraknya lembaga kebudayaan yang lahir dari perut parpol. Akibatnya, posisi politik dan seni-budaya menjadi tidak jelas. Pada fase-fase tertentu, seni-budaya dipandang sebagai produk suatu proses politik. Artinya, ruang-ruang partai politik melahirkan suatu lembaga kesenian. Misalnya, Lekra dari partai PKI, Lesbumi dari partai NU, LKN dari PNI, dan lain-lain.
Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) adalah sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai NU (Nahdatul Ulama), saat organisasi ini menjadi partai politik pada 1960an. Kelahiran Lesbumi di tubuh partai politik NU itu, sebenarnya mengusung sebuah jargon politik yang mengidealkan adanya nilai-nilai religius dalam kesenian dan politik Indonesia. Akan tetapi hingga saat ini, orientasi Lesbumi itu belum sepenuhnya terwujud. Hal itu dikarenakan eksistensi Lesbumi yang masih terkatung-katung.
Memang pada masa-masa 1960an, lembaga kebudayaan NU itu sangat massif dan hampir mampu menyaingi Lekra. Akan tetapi, pada periode 70-80an, Lesbumi seakan lenyap terhempas angin modernitas. Kabarnya pun tidak banyak diketahui orang. Dengan kata lain, Lesbumi seakan menghilang di telan tanah kebudayaan Indonesia.
Buku berjudul Lesbumi, Strategi politik Kebudayaan yang ditulis oleh Choirotun Chisaan, ini membicarakan perjalanan panjang Lesbumi secara komprehensif dan detail, khususnya pada era 1950-1960an sampai sekarang. Boleh dibilang, buku ini merupakan buku pertama yang mengkaji seluk beluk sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai NU (Lesbumi), yang didirikan pada 1962.
Menurut Choirotun Chisaan, kelahiran Lesbumi ditandai dengan tiga momen histories. Pertama, dikeluarkannya manifesto politik oleh presiden Soekarno. Kedua, pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia pada awal 1960-an. Dan Ketiga, keberadaan Lekra (1950) yang makin menampakan kedekatan hubungan dengan PKI, baik secara kelembagaan maupun ideologis. Ketiga momen histories itulah yang secara eksternal melatarbelakangi kelahiran Lesbumi. Di samping itu, adanya keinginan dalam tubuh NU untuk semakin meningkatkan seni-budaya “kader-kader”nya menjadi factor internal lahirnya Lesbumi.
Terkait dengan tiga momen histories di atas, buku ini bermaksud menganalisis tiga persoalan pokok. Pertama, historisitas Lesbumi, yaitu kelahiran dan perkembangan, pendiri-pendiri dan tujuan-tujuannya, serta landasan ideologis dan warna seni-budaya Lesbumi. Tokoh-tokoh utama Lesbumi diantaranya; Djamaludin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani, Misbah Yusa Biran, Anas Ma’ruf, dan lain-lain. Mereka semua adalah seniman-budayawan yang tergabung ke dalam partai NU melalui gerakan Lesbumi. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah; apa latar belakang yang mendorong lahirnya Lesbumi dan perkembangannya dalam sejarah politik kebudayaan di Indonesia?
Persoalan kedua, bagaimana posisi Lesbumi di tengah perdebatan politik aliran seni-budaya di Indonesia dalam kurun waktu 1960-an? Ketiga, dinamika intern yang terjadi dalam tubuh partai NU dengan lahirnya Lesbumi. Secara konkret, persoalan ini diarahkan pada pertanyaan: bagaimana respon ulama terhadap munculnya Lesbumi? Adakah kontroversi antara seniman-aktivis Lesbumi dengan tradisi seni-budayanya dan ulama dengan tradisi pesantrennya?
Ketiga persoalan itu dibahas secara detail dan komprehensif dalam buku setebal 247 halaman ini. Persoalan-persoalan seputar Lesbumi dikaji serius oleh Choirotun Chisaan, selain sebagai sumbangan wacana bagi realitas Lesbumi saat ini, juga untuk memenuhi kelengkapan akademik, yaitu sebagai kajian yang diangkat pada tesis S2-nya. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk dicermati guna menambah wawasan seputar lembaga kebudayaan yang lahir dari persinggungan politik pada tahun 1950-1960an (Lesbumi). Akhirnya, semoga lahirnya buku ini dapat menghidupkan kembali Lesbumi di era reformasi ini. selamat membaca!
Rizem Aizid Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Bedah Buku : Perempuan Dugem Yogyakarta

|


Perempuan Dugem Yogyakarta

Suara Merdeka, Mingu, 6 April 2008

Perlu diakui, dugem sudah menjadi tren di kalangan anak-anak muda modern. Dugem adalah suatu dunia yang menyajikan beragam fantasi, kenikmatan, kepuasan dan kesenangan semu, yang sangat digemari kaum muda. Dugem juga merupakan bagian dari gaya hidup hedonis yang tumbuh diperkotaan. Clubbing, fashion, shoping, new style, hingga pergaulan bebas merupakan cirri-ciri yang melekat pada dunia dugem. Karena itu, di kota-kota besar seperti Yogyakarta, mengunjungi club, minum alcohol, free sex, maupun fashion menjadi hal yang lumrah dan biasa dalam pergaulan remaja masa kini.
Buku ini memotret kehidupan seorang perempuan dugem di sudut-sudut kota Yogyakarta secara komprehensif, detail, dan terbuka. Perempuan “hedon” yang dalam buku ini ditampilkan sebagai sosok Daisy kepada pembaca, merupakan representasi dari kehidupan dugem yang berkembang di kota Yogyakarta.
Buku ini merupakan hasil reportase langsung sang penulis dengan Daisy, seorang perempuan pecandu dugem. Daisy adalah orang yang mengalami, terlibat, dan menjadi bagian dari budaya hedonis. Karena itu, kesaksian dari seorang Daisy cukup representative.
Buku ini bercerita tentang perjalanan Daisy yang berusaha mencari keuasan atau kesenangan ragawi dalam budaya dugem Yogyakarta. Penelitian (reportase) ini mengambil sample tempat di sekita jalan Laksda Adisucipto. Karena di ajlan inilah, banyak klub yang menjadi tempat nongkrong anak muda.
Munurut Gilang, budaya hedon merupakan suatu budaya yang ahistoris, tidak mempunyai akar sejarah kebudayaan yang jelas. Hedonisme hanya dapat dilacak sebagai representasi atau mata rantai industri hiburan. Adapun industri hiburan itu adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme global. Untuk itu, kebanyakn anak-anak muda yang menjadi korban budaya “hedon” ini berasal dari kampung (desa) yang jauh dari perkembangan tekhnologi.
Daisy sendiri mengakui berasal dari desa di sudut kota Ciamis. Keluarganya termasuk keras dan anti terhadap gaya hidup hedonisits. Akan tetapi, bagi Daisy, gaya hidup semacam itu memiliki keunikan tersendiri yang belum pernah ia temui (rasakan) dalam kebudayaan di desanya. Dengan alasan itulah, Daisy sangat menikmati (mencandu) gaya hidup dugem.
Kehidupan sehari-hari Daisy tidak pernah lepas dari klub, alcohol, tequila (minuman keras yang bisa membuat perempuan horny), dan fashion. Clubbing, free sex, pergaulan bebas, gonta-ganti pasanganguna mendapat kepuasan batiniah, merupakan bagian dari perjalanan Daisy dalam mencari kepuasan di Yogyakarta. Dugem bagi Daisy ibarat nasi yang menjadi kebutuhan pokok manusia.[] Rizem Aizid Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Bedah Buku : Mencari Kebenaran di Kota Gudeg

|

Mencari Kebenaran di Kota Gudeg


Judul Buku : Sepotong Kebenaran Milik Alifa
Penulis : Ahmad Shidqi
Penerbit : Impulse, Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal Buku : 96 Halaman


Media Indonesia, 29 Maret 2008


Yogyakarta sejak dulu sudah dikenal sebagai kota paling multikultur yang dimiliki Indonesia. Sebuah kota yang mampu melestarikan sikap toleransi dalam realitas masyarakat majemuk. Di kota ini, pluralisme lahir dan berkembang dengan pesat dan mapan. Kehidupan social yang tidak mengenal pembedaan keturunan berdasarkan garis etnis, agama, ideology, maupun budaya adalah kunci kemapanan toleransi (pluralisme) kota Yogya. Untuk itu, tren pluralisme dan toleransi di kota "gudeg" ini sangat menarik untuk disimak.
Buku berjudul Sepotong Kebenaran Milik Alifa yang ditulis oleh Ahmad Shidqi, ini mencoba mengungkap fenomena toleransi keagamaan yang berkembang di kampus-kampus di Yogyakarta. Lewat hasil reportase ini, Ahmad Shidqi berusaha mengajak kita menelusuri perkembangan sepotong sisi kehidupan masyarakat baru yang mungkin agak berbeda dari sisi kehidupan masyarakat Yogya yang kita kenal selama ini.
Dengan bahasa yang enak dan lugas, penulis mengajak kita untuk memahami dan melihat lebih dekat sisi kehidupan baru yang muncul di Yogya, yang dalam buku ini dikenalkan kepada kita lewat sosok Alifa.
Buku ini merupakan hasil penelitian kecil-kecilan terhadap fenomena keagamaan (Islam) yang akhir-akhir ini berkembang di kampus-kampus di Yogyakarta. Dalam pengantarnya, penulis mengatakan bahwa ada dua Fenomena keagamaan yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini. Pertama fenomena fanatisme keagamaan di lingkungan kampus di Yogyakarta. Fanatisme keagamaan tersebut, termanifestasi ke dalam berbagai bentuknya, seperti (kisah Alifa dalam penelitian ini) pakaian bercadar, jenggot, celana congklang, dll. Fenomena-fenomena semacam itu merupakan hal baru yang kini mulai berkembang di kampus-kampus di Yogyakarta. Berdasarkan hasil reportase ini, diketahui bahwa fanatisme keagamaan tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan toleransi kota Yogya.
Kedua, kuatnya fanatisme keagamaan tersebut, baik langsung maupun tidak, turut mempengaruhi munculnya citra (pandangan) buruk terhadap Yogya. Belakangan ini, Yogya sering disebut sebagai kota "sarang teroris". Hal itu disebabkan oleh banyaknya tersangka teroris yang tertangkap di Yogyakarta. Sebut saja Abu Dujana, dkk.
Dalam buku ini dikisahkan tentang perjalanan Alifa dalam mencari kebenaran teologis di Yogyakarta. Alifa adalah sosok muslim yang sangat fanatic terhadap ajaran-ajaran syari’at. Menafsirkan teks al-qur’an dan hadis tanpa kontekstualisasi yang tepat seperti yang dilakukan Alifa dan kelompoknya, merupakan benih-benih lahirnya intoleransi dalam kehidupan social-religius. Sikap intoleransi tersebut terpotret pada tindakan-tindakan (Alifa dan kelompoknya) dalam memandang, mengucilkan, dan mengecam orang di luar kelompoknya. Bagi mereka, orang yang tidak bertindak atas anjuran al-qur’an dan hadis adalah kafir. Sikap truth claim semacam inilah yang nantinya melahirkan apa yang disebut konflik agama.
Justru ironisnya, sikap yang ditunjukkan Alifa itu muncul ketika ia mulai menapaki bumi Yogya. Dalam pengakuannya, ia tidak berani bertindak serupa (memakai cadar, mengkafirkan orang yang melenceng dari syari’at,dll) ketika pulang kampung. Sebab, orang tuanya adalah muslim moderat yang cukup disegani. Lantas pertanyaanya; kenapa di Yogya? Ada apa dengan kehidupan keagamaan di kampus-kampus di Yogya? Sehingga tindakan-tindakannya mengancam kelestarian toleransi kota Yogya.
Secara historis, kira-kira 5-10 tahun silam, Yogyakarta merupakan kota yang mampu menerima kemajemukan dan toleran dalam perbedaan, baik diranah teologis, social, politik, maupun budaya. Kehidupan lintas agama, etnis, maupun budaya berlangsung harmonis. Singkatnya, semua pihak berperilaku toleran terhadap orang lain.
Munculnya Gerakan salafiyah (sosok Alifa) baru-baru ini, telah menjadikan toleransi kota Yogya menipis, bahkan terancam musnah. Gerakan salafiyah yang notabene adalah kelompok fanatic dalam beragama, telah menorehkan tinta baru dalam peta perkembangan pluralisme di Yogyakarta.
Secara sosio-teologis, apa yang dipraktekkan Alifa dalam buku ini, tidak dapat dilepaskan dengan kebangkitan sikap fanatisme agama (Islam). Fanatik, yang dalam Kamus Istilah Islam (KII) karangan Moh. E. Hasim (1987), didefinisikan sebagai kecintaan yang sangat kuat tetapi tidak berdasarkan ilmu pengetahuan mendalam dan akal sehat, merupakan bagian dari sikap intoleran yang cenderung eksklusif (tertutup). Oleh karena itu, sikap tersebut menjadi ancaman bagi kelangsungan pluralisme di Yogyakarta.
Sungguh menarik membaca buku setebal 96 halaman ini. Selain kita disuguhkan fenomena kahidupan baru (salafy) yang muncul dan berkembang di Yogyakarta, kita juga disadarkan bahwa fanatisme keagamaan menjadi boomerang bagi tegaknya tonggak toleransi kota Yogya. Berkaitan dengan itu, Sri Sultan Hamengkubuwona X pernah menyatakan bahwa Yogya kini mengalami kemunduran yang cukup menggelisahkan. Kemunduran itu bukan karena Yogya diguncang gempa berkekuatan 5,7 SR yang meluluhlantakkan bumi Yogya, melainkan karena semakin menipisnya nilai-nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat Yogya. Sungguh ironis memang.
Buku ini adalah hasil wawancara langsung dengan sosok "Alifa", sosok bercadar mahasiswi fakultas Tekhnik Elektro di salah satu Universitas di Yogyakarta. Untuk itu, buku ini penting dibaca oleh siapa pun sebagai bahan refleksi kemanusiaan guna memahami realitas pluralisme dan sepotong sisi kebenaran yang kini diambang ketidakpastian. Akhirnya, semoga kehadiran buku ini mampu memberikan pandangan baru terhadap tren pluralisme dan toleransi di Yogyakarta. Selamat membaca!
Rizem Aizid, Alumnus PP Annuqayah Guluk-GUluk Sumenep Madura

Neomodernisme; Menuju Islam Modernis

|

Neomodernisme; Menuju Islam Modernis

Jumat, 18 April 2008
Hingga saat ini, modernisasi yang berlangsung di Indonesia menemui jalan buntu. Masyarakat Indonesia yang notabene adalah kumpulan masyarakat majemuk yang sangat sensitive melahirkan konflik, langsung atau tidak, menuduh modernisasi atau modernisme sebagai penyebab menipisnya kesadaran toleransi dalam realitas masyarakat pluralis. Pasalnya, dalam pandangan umum, modernisme merupakan suatu sikap kebarat-baratan. Artinya, sikap yang tidak pantas dan tidak cocok bagi kultur bangsa Indonesia.
Berkaitan dengan itu, Umulyadi melalui artikelnya “Agama Tanpa Sosiologi Agama” (Suarakarya, 29/02/08) mengatakan bahwa munculnya konflik-konflik social di Indonesia adalah disebabkan oleh perspektif yang digunakan umat Islam dalam melihat fenomena modernitas hanya dari satu sisi, yaitu teologis. Menurut saya, tulisan itu sangat bagus dan inspiratif. Sebab, ia menawarkan pelestarian Sosiologi Agama (SA) sebagai sebuah studi yang melihat agama dari aspek sosialnya. Dengan begitu, diharapkan (SA) mampu meminimalisasi atau meredam gejolak konflik yang kini sedang berlangsung.
Permasalahan-permasalahan konflik yang hingga saat ini belum terpecahkan, bahkan semakin bermetamorfosis ke dalam bentuk lain, merupakan konsekuensi dari derasnya arus modernitas dan kapitalisme global yang tidak mampu dibendung. Ketidakmampuan menerima atau membendung modernitas itu tidak lain dikarenakan pemahaman parsial umat Islam (sebagai mayoritas penduduk Indonesia) terhadap ajaran-ajaran islam itu sendiri. Islam—sebagai agama humanis dan dinamis—sebenarnya membawa pesan atau nilai-nilai modernitas dalam ajarannya. Hal itulah yang diyakini para pembaru islam Indonesia seperti cak Nur atau Gus Dur.
Dengan latar sosio-kultural masyarakat Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim –tanpa mengenyampingkan eksistensi agama lain, Indonesia memiliki potensi yang besar bagi berkembangnya pluralisme dan toleransi. Memang secara religio-politik, seperti yang diungkapkan Ali Maschan Moesa dalam bukunya “Nasionalisme Kiai”, arus modernitas itu telah melahirkan tarik-ulur antara pemerintah (negara) dengan rakyat (Islam).
Di satu sisi, ada yang mengidealkan bentuk sekularistik (penyatuan agama dan negara) dalam system pemerintahan Indonesia, tetapi di lain sisi, banyak juga yang menolaknya. Kelompok sekularistik misalnya, berpandangan bahwa islam adalah agama yang membawa nilai-nilai universal dan modern. Sedangkan kelompok non-sekularistik berpendapat sebaliknya, modernitas adalah ancaman bagi keutuhan ajaran Islam.
Harus diakui, Pluralisme, sekularisme, dan modernisme adalah tiga grend isu di abad modern ini yang secara terang-terangan ditolak oleh sebagian besar muslim Indonesia. Alasannya sangat sederhana, yakni mereka menuduh tiga isme tersebut sebagai ancaman yang membahayakan Islam.
Pemahaman semacam itu memang tidak salah, tetapi lebih terjerumus pada pemahaman yang literal. Hal itu pun diakui oleh para pembaru Islam seperti Fazlur Rahman, cak Nur, Gusdur, dll. Menurut mereka Islam harus dipahami secara menyeluruh dan utuh, bukan parsial. Pemahaman terhadap al-quran dan hadis harus lah sistematis, rasional dan komprehensif. Dengan begitu, umat Islam dapat menangkap pesan-pesan moral-universal dalam ajaran-ajaran Islam. Pandangan semacam itulah yang kemudian disebut Neo-modernisme.
Noe-modernisme yang dimotori oleh Fazlur Rahman merupakan suatu paradigma berpikir yang lahir sebagai counter terhadap kejumudan berpikir umat Islam. Memang, lahirnya Neo-modernisme itu tidak bisa lepas dari sosio-kultural yang mengitarinya, yaitu kondisi dimana Fazlur Rahman hidup (Pakistan). Akan tetapi, di Indonesia Neo-modernisme juga berkembang. Tokoh-tokoh Neo-modernisme Indonesia diantaranya Nurcholish Madjis, Abdurrahman Wahid, dll.
Abdul A’la dalam bukunya “Dari Neomodernisme ke Islam Liberal, Jejak Fazlur Rahman Dalam Wacana Islam di Indonesia” menegaskan bahwa konsep Neo-modernisme Fazlur Rahman adalah suatu konsep yang mencoba melihat dan memahami pemikiran-pemikiran Islam dan Barat secara utuh dan padu. Bagi Rahman, Islam (al-quran dan hadis) menyimpan nilai-nilai modernitas jika dipahami secara utuh dan menyeluruh. Sebaliknya, pemahaman parsial terhadap Islam akan melahirkan sikap-sikap eksklusif, jumud, dan intoleran terhadap agama lain.
Kembali pada permasalahan modernitas di Indonesia. Realitas masyarakat majemuk menjadi suatu tantangan yang sangat besar bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Pasalnya, tumbuhnya nilai-nilai pluralitas, inklusivitas, toleransi, dan multikulturalisme (paham yang menghargai dan menghormati dalam perbedaan) dalam negara modern adalah suatu keniscayaan. Untuk itu, reformulasi dan rekonstruksi pemahaman tentang islam sangat perlu demi kemajuan umat islam itu sendiri.
Mengenai hal ini, saya sependapat dengan Fazlur Rahman bahwa antara Islam normative dan Islam histories harus dibedakan. Islam normative adalah Islam (al-quran dan hadis) yang dinamis dan humanis, yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Sedangkan Islam histories adalah ajaran-ajaran Islam yang telah bercampuraduk dengan interpretasi (pemahaman) manusia. Jadi, yang harus direformulasi dan direkonstruksi adalah Islam histories, bukun normatifnya.
Tidak dapat dihentikannya konflik-konflik social-keagamaan di Indonesia, adalah karena masyarakat Indonesia belum mampu secara mental hidup dalam perbedaan. Bangsa kita belum bisa menjadi bangsa multikultur seutuhnya. Hal itu ditandai dengan sikap-sikap intoleran yang berkembang dalam masyarakat beragama (Indonesia). misalnya, sikap eksklusif, fanatisme berlebihan, dan lain-lain. Sikap intoleran tersebut mengindikasikan bahwa umat beragama (kahususnya Islam) belum memahami ajaran-ajaran agamanya secara rasional, sistematis, dan komprehensif (baca:utuh dan menyeluruh).
Untuk itu, Neo-modernisme --yang digagas Fazlur Rahman dan dikembangkan cak Nur di Indonesia itu—patut kita apresiasi guna terwujudnya masyarakat madani atau masyarakat etika (meminjam istilah cak Nur). Dengan begitu, “demam” konflik yang melanda negeri ini dapat diminimalisasi.
Reinterpretasi dan reformulasi pemahaman islam dirasakan perlu untuk mengungkap nilai-nilai humanis, dinamis dan modernitas dalam ajaran-ajaran Islam (al-quran dan hadis). Menurut Rahman, Al-quran adalah kitab suci (kalam Allah) yang sesuai dalam segala zaman. Oleh karena itu, al-quran haruslah dipahami sesuai dengan konteks zaman yang berkembang. Akhirnya, semoga wacana kecil ini mampu menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan muslim Indonesia.[]

Rizem Aizid Alumnus PP Annuqayah Guluk-GUluk SUmenep Madura

Fenomena Poligami Ayat-Ayat Cinta

|


Fenomena Poligami Ayat-Ayat Cinta
Oleh: Rizem Aizid


Sukses besar film Ayat-Ayat Cinta dalam menggaet penonton disebut sejumlah kalangan film nasional sebagai kebanggaan bagi Industri Film Indonesia. Film, yang diangkat dari novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el-Shirazy, itu hanya membutuhkan waktu tiga pekan untuk memecah rekor penonton terbanyak, yakni hampir mencapai tiga juta penonton se-Indonesia (Sindo, 23/-3/08). Sungguh sebuah prestasi gemilang yang belum pernah diraih oleh film-film sejenis lainnya.
Kesuksesan film besutan Hanung Bramantyo itu, oleh sebagian orang, dianggap dapat mengangkat pamor Industri Film Indonesia di taraf internasional. Oleh karena itu, banyak tokoh-tokoh bangsa yang menyambut antusias film tersebut. Tak terkecuali wakil presiden Jussuf Kalla dan seluruh cabinet Indonesia bersatu. Bahkan, perbincangan tentang film –yang menurut saya kontroversial dan fenomenal—itu hampir mengalahkan isu-isu terkini di Indonesia. Seperti; isu konflik social, kontroversi Lumpur Lapindo, hingga kasus suap jaksa (korupsi).
Lantas, apa yang menjadi rahasia kesuksesan film “orang-orang islam” tersebut? Sehingga kehadirannya mampu menghipnotis pandangan public (Islam).
Menurut Noorca M Massardi, Pejabat Hubungan Masyarakat 21 Cineplex Group, Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah film berkualitas, baik dari segi sinematrogafi maupun ceritanya, yang bisa dinikmati semua kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Hal itulah yang menurutnya melatarbelakangi kesuksesan film tersebut.
Memang semua orang mengakui film itu sangat bagus dan berkualitas. Cerita yang diangkat merupakan potret percintaan yang islami. Akan tetapi, keindahan cerita dan bagusnya kualitas Ayat-Ayat Cinta tidak berbanding lurus dengan makna atau pesan moral yang tersimpan dalam kisah tersebut. Sebuah makna yang perlu untuk disimak secara kritis, filosofis, dan mendalam. Salah satu makna yang tersimpan dalam kisah percintaan anak manusia dalam budaya Timur Tengah itu adalah isu poligami.
Menurut hemat saya, isu poligami yang tersirat dalam cerita Ayat-Ayat Cinta telah menyinggung wacana poligami di negeri ini. Poligami yang beberapa waktu lalu marak dibicarakan, dibincangkan, dan diperdebatkan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan menonton film itu, orang akan dibenturkan dengan kontroversi seputar poligami. Ayat-Ayat Cinta, baik langsung atau tidak, ingin menyampaikan bahwa berpoligami itu boleh.
Secara teoritis, poligami merupakan sebuah budaya (kultur) yang berkembang di daerah Islam Arab (Timur Tengah). Kultur masyarakat Arab waktu itu sangat mendukung (melegalkan) praktek poligami. Bahkan dalam sejarahnya, seorang laki-laki dapat menikahi lebih dari sepuluh perempuan. Lantas bagaimana dengan Indonesia? tentu fenomena poligami akan berbeda.
Indonesia sebagai negara multikultur memiliki budaya dan adat (Tradisi) yang berbeda dengan budaya Arab. Perbedaan kultur inilah yang kemudian memicu munculnya pro dan kontra seputar poligami. Di Indonesia, tradisi poligami belum mengakar kuat berbeda dengan Arab. Akan tetapi, praktek-praktek poligami juga berkembang di negeri ini. Biasanya poligami berkembang dalam naunsa kehidupan aritokrasi (kerajaan). Dimana raja memiliki banyak selir, tetapi hanya satu permaisuri.
Untuk konteks kekinian (modern), pertumbuhan poligami di Indonesia menemui jalan buntu. Sebab, tidak semua rakyat negeri ini pro terhadap poligami, justru banyak dari mereka yang mengecam poligami sebagai tindakan barbarisme. Diakui atau tidak, dalam poligami pasti ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan. Dominasi-diskriminasi pun tidak bisa dihindari. Untuk itu, poligami adalah suatu budaya yang ditak cocok bagi kultur bangsa kita..
Dengan alasan itulah, banyak kalangan yang menolak praktek poligami di negeri ini. Biasanya, kelompok yang pro poligami berasal dari kaum tradisional atau salafi. Sebuah kelompok yang memiliki sikap fanatic terhadap ajaran-ajaran islam. Dan menurut para pembaru islam seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Fazlur Rahman, Cak Nur, dll, kelomok salafi adalah kelompok yang memahami ajaran-ajaran islam secara literal, tidak rasional, sistematis, dan komprehensif. Pemahaman parsial itulah yang kemudian menyebabkan kejumudan berpikir dalam islam.
Ahmad Shidqi dalam buku “Sepotong Kebenaran Milik Alifa” menegaskan bahwa bagi orang-orang salaf, poligami adalah suatu keniscayaan (keharusan) mengingat tingginya hasrat seksual laki-laki. Tujuan berpoligami adalah untuk menghindari perbuatan-perbuatan tercela, seperti zina, selingkuh, dan lain-lain. Dengan alasan itulah, Alifa (potret salafy, perempuan bercadar) dalam buku itu, menerima taken for granted praktek poligami sebagai ajaran islam yang berasal dari al-quran.
Menurut Muhammad Abduh, orang (muslim) itu dibolehkan berpoligami asal dapat memenuhi empat syarat pokok. Pertama, mereka harus berlaku adil terhadap pasangannya. Kedua, berpoligami tidak untuk kebutuhan hawa nafsu (hasrat seks) semata. Ketiga, secara meteri sudah mencukupi. Dan kempat, batas poligami dalam al-quran adalah empat.
Berdasarkan syarat-syarat tersebut, Islam membolehkan umatnya berpoligami. Pertanyaannya adalah, mampukan kita (muslim) memenuhi keempat syarat pokok tersebut?
Secara teoritis, Muhammad Abduh menegaskan bahwa tidak ada seorang pun umat islam saat ini yang mampu memenuhi keempat syarat pokok di atas. Realitas sudah membuktikan bahwa poligami hanya melahirkan diskriminasi dan marjinalisasi kaum perempuan. Lebih jauh, Abduh mengatakan bahwa orang yang bisa berlaku adil hanyalah rasulullah dan kempat shabatnya (khulafaurashidin), selain itu tidak bisa.
Kembali pada pembahasan awal, Fenomena poligami yang tersaji dalam cerita Ayat-Ayat Cinta merupakan sebuah budaya Timur Tengah, bukan budaya kita (Indonesia). Maka dari itu, hendaknya penonton dapat memilah dan memilih mana yang cocok untuk diambil dari kisah percintaan “islam” khas Timur Tengah tersebut.
Untuk itu, hendaknya kita pandai-pandai memetik hikmah dari film besutan Hanung Bramantyo itu, sehingga pesan moral yang disampaikan film itu mampu meningkatkan keimanan kita pada Tuhan.[]

Bedah Buku : Memecah Kebuntuan Demokrasi Liberal

|



Memecah Kebuntuan Demokrasi Liberal
Oleh: Rizem Aizid


(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)


Judul Buku : Melampaui Negara Hukum Klasik, Locke-Rousseau-Habermas
Penulis : Reza A.A. Wattimena
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, 2007
Tebal : 218 Halaman


Sepeninggal Orde Baru, 21 Mei 1998, Indonesia segera memasuki fase yang disebut dengan "liberalisasi politik awal". Inilah fase yang ditandai oleh serba ketidakpastian dan karenanya dinamai secara teoritis oleh O’Donnell dan Schimitter –dalam bukunya Transisi Menuju Demokrasi: Rangkaian Kemungkinan dan Ketidakpastian-- kurang lebih sebagai fase "transisi dari otoritarianisme entah menuju ke mana".
Ternyata, penerapan system Demokrasi liberal (liberalisasi politik) pasca lengsernya Orba, belum juga mampu menuntaskan berbagai problem kebangsaan yang kini melanda bangsa kita. Di samping itu, aspirasi rakyat pun tidak tersalurkan secara utuh. Sebab, prinsip dasar demokrasi liberal –sebagaimana yang diandaikan konsep Negara hokum klasik—adalah individu, masyarakat, ekonomi, dan kebudayaan harus berada di bawah (tunduk pada) kekuasaan negara. Jadi, kebebasan mereka masih terkungkung oleh dominasi Negara.
Karena itu, tak heran apabila persoalan-persoalan kebangsaan datang silih berganti. Mulai dari krisis moneter 1997, gesekan antar golongan/agama/suku, kenaikan BBM, bencana alam, pemanasan global, dan lain-lain. Semua persoalan itu mengindikasikan bahwa demokrasi liberal telah gagal (mengalami kebuntuan) untuk memecahkan persoalan bangsa dalam masyarakat yang plural dan majemuk seperti Indonesia ini.
Jika demokrasi liberatif sudah tidak mampu lagi memecah persoalan kebangsaan, maka Pertanyaannya adalah; demokrasi seperti apa mampu melakukannya?
Jawabannya hanya satu, yakni demokrasi deliberatif sebagaimana yang tersaji dalam buku ini. Buku berjudul Melampaui Negara Hukum Klasik, Locke-Rousseau-Habermas yang ditulis oleh Reza A. A. Wattimena, ini menyajikan konsep demokrasi deliberatif Jurgen Habermas secara komprehensif dan detil. Buku ini menawarkan demokrasi deliberatif yang di gagas Habermas sebagai solusi untuk memecah kebuntuan demokrasi liberal di negeri ini. Yang menjadi titik tolak penulis terhadap pandangan filsafat politik Habermas adalah Buku Jurgen Habermas yang berjudul Between Fact and Norms: Contribution to A Discourse Theory of Law and Democeacy yang menjadi sumber utama buku terbitan Kanisius ini.
Demokrasi deliberatif merupakan sebuah bentuk demokrasi yang menempatkan Negara dan masyarakat sebagai subjek, bukan objek sebagaimana konsep demokrasi liberal. Jadi, antara Negara dan warganya tidak ada yang memiliki otoritas paling besar. Keduanya memiliki atau memegang porsi kekuasaan yang sama. Kebijakan politis yang diambil pun harus melalui tindakan komunikatif antar keduanya. Itulah yang diandaikan Habermas dalam teori diskursusnya.
Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa buku ini merupakan upaya penulis untuk memberikan sumbang saran teoritis bagi kebuntuan proses demokratisasi di Negara kita. Pada realitasnya, belakangan ini Indonesia mengalami begitu banyak persoalan yang sangat kompleks. Berbagai pesoalan tersebut, secara tidak langsung mengancam keutuhan NKRI. Bangsa Indonesia kini tengah berada di tengah-tengah badai krisis multidimensi yang berakibat pada terciptanya disintegrasi bangsa. (hlm v)
Menurut Reza, sudah saatnya bangsa Indonesia menggeser filosofi hukum Negara, dari demokrasi liberalis ke demokrasi deliberatif. Penulis berkeyakinan bahwa Konsep demokrasi deliberatif Jurgen Habermas mampu menciptakan integrasi social dalam ruang kemajemukan. Habermas, yang kita kenal sebagai penerus teori kritis mazhab Frankfurt dan juga penerus tradisi kritis marxisme, berusaha menerapkan tindakan komunikatif dalam proses demokrasi di Negara modern. Dengan metode diskursus yang ditawarkannya, Habermas berhasil melahirkan konsep filosofi hukum Negara yang lebih adil, jujur, dan seimbang; yakni demokrasi deliberatif.
Habermas dalam bukunya the Theory of Communicative Action mengandaikan bahwa kebijakan-kebijakan politis harus dilandasi dengan tindakan komunikatif. Demokrasi deliberatif adalah proses demokratisasi politis yang melibatkan semua pihak dalam mengambil kebijakan. Deliberasi yang diandaikan Habermas di sini adalah rasionalitas publik.
Dengan model demokrasi deliberatif bagi Negara hukum demokratis modern ini, Habermas telah menyumbangkan suatu model pemerintahan demokratis, yang legitimasinya diraih dari pengunaan rasio secara public oleh seluruh warga Negara. (hlm 170).
Bagi Habermas, Negara tidak hanya bertugas sebagai pengontrol hak-hak warga negaranya sebagaimana yang diandaikan Locke dalam "Negara kecilnya" atau Negara sebagai pemegang otoritas tertinggi sebagaimana Hobbes mengandaikannya dalam konsep "Negara besar". Tetapi, Negara dan rakyat adalah dua elemen yang memiliki hubungan erat. Di mana kebijakan dihasilkan dari proses komunikatif antar keduanya (demokrasi deliberatif).
Dalam filsafat politik dan hukumnya, Habermas lebih menekankan pada tindakan komunikatif (teori diskursus). Artinya, pemerintah dan masyarakat harus duduk bareng (musyawarah) untuk menentukan suatu kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umum. Dengan begitu, kemajemukan dalam suatu bangsa tidak lagi menjadi hambatan bagi terciptanya integrasi social.
Di samping itu, Habermas juga berupaya mereformasi tatanan negara hukum demokratis, yang diandaikan sudah ada, melalui partisipasi dengan prinsip kesamaan dan otonomi social masyarakat sipil dalam proses penentuan kebijakan public berlandaskan teori dikursus. (hlm 6).
Buku ini sangat penting untuk di baca semua kalangan, baik akademisi, ahli politik dan kenegaraan, maupun masyarakat sipil. Sebab, pengandaian dasar Habermas, titik pijaknya, cakrawala, serta jalan keluar yang diusulkannya sehubungan probelmatika kebangsaan dipaparkan secara gamblang dan komprehensif oleh Reza dalam buku ini sebagai suatu sharing pengetahuan.
Akhirnya, semoga wacana filosofi hukum Negara yang ditawarkan Reza dalam buku ini mampu meredam problem kebangsaan yang kini tengah melanda Indonesia, dan juga dapat menciptakan integrasi bangsa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Selamat membaca.[]

Refleksi : Ketika Tuhan Pergi Meninggalkanku

|


Ketika Tuhan Pergi Meninggalkanku

Di era modern ini, banyak orang yang mendambakan datangnya sosok Tuhan dalam hidup mereka. Tak bisa dipungkiri memang, kemajuan tekhnologi dan kapitalisme global yang begitu pesat, telah (disadari atau tidak) meruntuhkan semua nilai-nilai teologis manusia modern. Orang tidak lagi peduli pada hakikat hidupnya, yakni (bagi saya) hidup untuk kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Saat ini justru banyak orang yang lebih berpikiran pragmatis (negative) dan mereka telah terjebak pada sikap materialistik, yang mungkin juga akan menjerumuskan manusia modern pada sikap anti-Tuhan. Memang, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak bisa dilhat. Tuhan tidak pernah menunjukkan dirinya pada makhluk-Nya. Namun begitu, Tuhan masih bisa dirasakan kehadirannya dalam hati dan jiwa manusia.
Lantas apakah yang kita cari dalam dunia yang semakin modern ini? Dunia yang semakin kehilangan nilai-nilai universalitas dan moralitasnya. Dunia,dimana semua orang lebih mementingkan kebutuhan (kepentingan) pribadinya ketimbang kepentingan umum. Kebahagiaan di sisi Tuhankah? Atau Cuma kebahagiaan semu yang terpotret pada gaya hidup hedonis? Semua pertanyaan itu merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak akan pernah terjawab secara konkret. Karena Tuhan memang Abstrak. Oleh karena itu, Tuhan telah pergi meninggalkan kita. Tuhan tidak lagi mau tahu urusan kita. Dan Tuhan tidak lagi mendengar keluh kesah atau suara hati hamba-Nya.
Mungkinkah Tuhan akan kembali, atau jangan-jangan Tuhan pergi karena murka pada kelakuan kita. Jika memang itu yang terjadi, Tuhan harus kita cari. Bukan Tuhan yang dating pada kita, tetapi kita lah yang harus mendatanginya untuk memohon ampun atas skeptisisme dan apatisme kita selama ini.

Membaca Indonesia Melalui Gus Dur

|


Membaca Indonesia Melalui Gus Dur
Oleh: Rizem Aizid
(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)

Wacana demokrasi yang digulirkan sepeninggal Orde Baru, 21 Mei 1998, hingga saat ini masih menjadi perdebatan public. Perdebatan itu bertujuan untuk menemukan identitas "sejati" demokrasi yang belum dimiliki oleh system demokrasi di Indonesia. Terciptanya keadilan, kesetaraan, dan kebebasan individu, tanpa kekerasan merupakan identitas demokrasi yang perlu digali. Jika tidak, demokrasi tidak akan pernah menjadi landasan filosofi hukum Negara yang mapan dan mampu menciptakan kemaslahatan bagi warganya.
Dalam rentang waktu sepuluh tahun ini, penerapan system demokrasi di Indonesia "seakan" mengalami kebuntuan. Demokrasi yang diterapkan belum mencerminkan kesetaraan, keadilan, dan kedaulatan bagi rakyat. Hal itu dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang cenderung menindas kaum minoritas. Demokrasi, sebagaimana diandaikan oleh Locke dan Rousseau, adalah suatu konsep politis (hukum) Negara yang bertugas melindungi dan menjamin kelangsungan hak-hak individu, yakni hak bebas, hak merdeka, dan hak milik.
Harus diakui, konsep Locke dan Rousseau itu memiliki kelemahan, yaitu Negara cenderung berpihak pada kaum borjuasi (istilah marx) daripada kaum proletar. Kelemahan itu terpotret dalam system demokrasi di negara ini. Kasus korban lumpur Lapindo dapat dijadikan contoh pelanggaran demokrasi oleh negara. Pada kasus tersebut, pemerintah cenderung berpihak pada Lapindo daripada melindungi hak-hak individu korban lumpur Lapindo.
Pertanyaannya adalah; dimanakah letak demokrasi itu? Dibalik jubah pemerintahkah, atau dibelakang meja para elite (borjuasi)kah, atau di atas penderitaan rakyat sipil (sivil society)? Jika memang Indonesia ingin menjadi negara yang demokratis, konsep demokrasi seperti apa yang tepat untuk konteks bangsa ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan mengantarkan tulisan ini melihat lebih jauh system demokrasi di negeri ini.
Pemikiran politik Gus Dur
Memperbincangkan demokrasi di Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari para pemikir politik yang dimiliki bangsa ini. Pasalnya, mereka merupakan tokoh-tokoh bangsa yang mampu merumuskan konsep demokrasi yang betul-betul demokratis, sehingga kemaslahatan rakyat pun terbentuk. Dari deretan pemikir politik yang bersumbangsih besar terhadap pembangunan demokrasi di Indonesia, pemikiran politik K.H. Abdurahman Ad-Dhakil Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, sangat menarik untuk diwacanakan.
Sebab, Gus Dur adalah satu-satunya sosok fenomenal yang dimiliki bangsa ini. Di samping itu, ia juga memiliki pengaruh yang kuat di kalangan mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdatul Ulama (NU). Sebagaimana kita ketahui, Gus Dur adalah kiainya para ulama NU (the king of ulama). Jadi, pemikiran teologis dan politiknya, sedikit banyak telah mempengaruhi pembangunan demokrasi di negeri ini. Selain itu, ia juga budayawan, ahli politik, cendekiawan, dan mantan presiden ke-3 RI.
Menurut Dr. Munawar Ahmad, dosen filsafat politik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gus Dur adalah pemikir politik yang mampu menawarkan pemikiran alternatif bagi pembangunan demokrasi di Indonesia, ia juga menjadi "pribumisasi" ide-idenya. Dalam disertasinya yang berjudul "Kajian Kritis Terhadap Pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 1970-2000", ia membagi lima pokok pemikiran politik Gus Dur, yakni (1) mengembangkan khazanah lokalitas Islam klasik Indonesia. (2) humanisme sebagai perlawanan terhadap kekerasan. (3) ide perlawanan cultural. (4) ide integralisme. Dan (5) analisis ilmiah atas realitas dunia Islam.
Kelima pokok pemikiran politik Gus Dur itu, berada dalam satu wadah, yakni demokrasi. Bagi Gus Dur, Indonesia harus memiliki system demokrasi khas Indonesia. Sebuah system politis yang relevan dengan konteks pluralitas masyarakat Indonesia. Perlu diakui, konsep demokrasi yang diandaikan Gus Dur itu masih sebatas ide politik yang belum terealisasi.
Sebagai the king of ulama, pemikiran politiknya tidak bisa dilepaskan dari tradisi agama (Islam). Menurutnya, hubungan antara Islam-demokrasi harus dipahami secara substantif, bukun simbolis. Nilai-nilai moral (religius) harus terintegralisasi ke dalam system demokrasi. Jika tidak, demokrasi akan pincang, seperti system demokrasi yang sedang berlangsung saat ini. Oleh karena pemikirannya ini, ia digolongkan kaum integralistik.
Secara teoritis, asumsi ontologis demokrasi adalah, kedaulatan (kekuasaan) berada di tangan rakyat. Ketika rakyat sudah diperbudak oleh kekuasaan (negara), maka system demokrasi di neara tersebut dapat dikatakan gagal. Pasalnya, adanya dominasi negara terhadap rakyat akan melahirkan berbagai gesekan social, seperti konflik antar kelompok, agama, etnis, maupun budaya. Hal itulah yang saat ini tengah melanda Indonesia.
Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia melakukan reformasi system demokrasi menuju yang lebih baik, yakni melampaui demokrasi liberal seperti yang ditawarkan Gus Dur. Demokrasi liberal yang menjadi kiblat bangsa ini telah gagal dalam menciptakan keadilan tanpa kekerasan dalam realitas pluralis masyarakat kita.
Menurut Umaruddin Masdar (1999), liberalisme yang dimaksud Gus Dur adalah filosofi hidup yang mementingkan hak-hak dasar manusia, sehingga ia mampu berkembang menjadi individu yang kreatif dan produktif. Dengan begitu, liberalisme dapat mewujudkan individu yang mulia berasaskan etika dan norma (moralitas).
Memang, sepintas Gus Dur apresiatif terhadap liberalisme, tetapi liberalisme yang dimaksudnya berbeda dengan liberalisme yang digagas Lock. Demokrasi liberal yang diandaikan Gus Dur, hemat saya, berada diantara demokrasi liberatif Locke dengan demokrasi deliberatif Habermas. Di satu sisi, Gus Dur mengandaikan adanya proses dialogis (Habermas: komunikatif) dalam demokrasi. Tetapi di lain sisi, ia yakin bahwa kebebasan individu (liberalisme) sangat penting.
Dalam buku membaca pikiran Gus Dur dan Amien Rais, dijelaskan bahwa demokrasi menurut Gus Dur, tidak hanya suatu system yang mampu menjamin kebebasan advokasi saja, namun juga memiliki nuansa etis yang mampu melahirkan keadilan tanpa kekerasan. Terjadinya kombinasi intetgralistik dari berbagai entitas, seperti politik, budaya, rasionalitas, dan kekuatan kultur adalah penting. Demokrasi seperti inilah yang oleh Gus Dur dinamakan demokrasi model Indonesia atau demokrasi "kultur". Suatu system demokrasi yang telah mengalami "pribumisasi" dengan kultur Indonesia. Demokrasi jenis inilah yang belum dimiliki bangsa kita saat ini.
Pada hemat saya, demokrasi "kultur" ala Gus Dur ini perlu diapresiasi oleh bangsa ini. Sebab, bangsa Indonesia saat ini membutuhkan kejelasan konsep filosofi hukum Negara. System demokrasi "gusdurian" ini, paling tidak, dapat meminimalisasi berbagai persoalan-persoalan kebangsaan. Akhirnya, semoga dengan system demokrasi yang jelas, Indonesia segera lepas dari jejaring krisis multidimensi yang sedang membelenggunya. Amin!

Membumikan Teologi Inklusif

|

Membumikan Teologi Inklusif
Oleh: Rizem Aizid
(Mahasiswa Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
(Jawapos, Rabu 26/09/2007)

Fenomena yang terjadi dalam masyarakat (baca:OKP) muslim Indonesia saat ini adalah ketidakmauan menerima isme-isme yang datang dari luar (Islam). Seperti; pluralisme, inklusivisme, liberalisme, sekularisme, dan modernisme. Isme-isme dalam konteks ini diartikan sebagai sebuah paham yang membawa pesan perbedaan dan kemajemukan, dan berasal dari Barat.
Ketidakmauan menerima isme-isme ini, menurut Luthfi Assyaukanie, dilatarbelakangi oleh banyaknya pemikir-pemikir muda (OKP) islam yang beranggapan bahwa pluralisme, sekularisme, dan modernisme bertentangan dengan semangat ajaran islam. Sebab, gagasan pluralisme akan membuat islam semakin lemah. Pandangan-pandangan seperti inilah yang telah membawa OKP islam pada kejumudan berpikir.
Secara histories, pada era 60-an/70an, banyak para pemikir pembaruan di Indonesia, yang salah satunya adalah Nurcholis Majid (cak Nur), yang berusaha membawa masuk sekularisme ke dalam islam. Akan tetapi, usaha cak Nur itu kurang mendapat respon dari sebagian pemikir islam waktu itu. Kurangnya respon sebagian OKP islam terhadap proyek sekularismenya cak Nur tersebut merupakan awal munculnya fase kemunduran (pemikiran) islam di Indonesia saat ini.
Hal itupun dipertegas oleh Muhammad Abduh, pemikir pembaruan asal Mesir, yang menyatakan bahwa "kemunduran umat Islam adalah karena adanya paham jumud dalam Islam sendiri." Jadi dapat disimpulkan bahwa umat Islam mundur adalah akibat dari kejumudannya sendiri. Lantas, bagaimana untuk menghapus paham jumud (kejumudan) yang sudah melekat dalam paradigma OKP-OKP Islam sekarang?
Untuk menghasilkan sebuah solusi yang solutif guna menjawab pertanyaan itu dibutuhkan waktu dan refleksi yang cukup panjang. Arti kata jumud menurut Abduh adalah keadaan membeku, keadaan statis, tak ada perubahan. Dengan definisi seperti itu, maka pengaruh paham jumud akan membuat umat Islam tidak menghendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan meskipun perubahan itu akan membawa Islam pada suatu fase kemajuan. Bisa dibilang, OKP Indonesia masih berpegang teguh pada tradisi konservatisme klasik.
Berkaitan dengan itu, mungkin judul buku Can Asian Think’s karya Qishar Mahbubani –seorang penulis asal India—sangat tepat menggambarkan kondisi OKP Islam Indonesia saat ini. apakah orang asia bisa berpikir? Jawabannya ternyata tidak. Orang asia tidak bisa berpikir. Yang dimaksud dengan tidak bisa berpikir di sini adalah kebanyakan orang Asia (baca:OKP Islam Indonesia) tidak dapat menerima kritik dan perbedaan. Padahal kritik dan perbedaan itu sangat penting untuk memajukan sebuah organisasi atau peradaban (Islam).
Secara ontologis, Ada dua paham yang memperngaruhi kondisi teologis umat Islam, yaitu ekslusivisme dan inklusivisme. Ekslusivisme memerupakan paham tertutup yang tidak mau menerima segala sesuatu yang datang dari luar golongannya. Sedangkan inklusivisme adalah paham terbuka yang mau menerima segala yang (positif) datang dari luar.
Orang-orang Eksklusif memandang orang lain berdasarkan keturunan, agama, ras, suku, dan golongan. Mereka tidak mau menerima orang yang dianggapnya tidak cocok dengan paham atau mazhab yang dianut alirannya. Hal ini kemudian akan menciptakan sebuah tindakan tertutup yang tidak mau menerima perubahan, kemajemukan, dan pluralisme agama (dalam konteks agama). Mungkin dalam Islam, sosok Al-Ghazali bisa dijadikan sebagai wakil dari sekian tokoh Islam yang menganut paham eksklusif ini. Dia sangat tertutup terhadap filsafat. Bahkan sampai-sampai dia mengeluarkan klaim ateis atau kafir terhadap tiga filosof muslim klasik.
Menurut hemat saya, Kemunduran, keterbelakangan, dan kemandegan pemikiran OKP Islam saat ini adalah diakibatkan dua hal yakni kejumudan berpikir dan adanya paham ekslusif dalam OKP islam Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana untuk keluar dari kejumudan dan ekslusifitas berpikir tersebut? Jawabannya hanya satu, yaitu dengan teologi inklusif
Teologi Inklusif
Berbeda dari ekslusivisme di atas, inklusivisme memandang orang lain dengan lebih arif dan bijak. Orang-orang inklusif ini sangat menghargai adanya pluralisme, perbedaan, dan kemajemukan. Mereka memandang semuanya sama seperti dirinya sendiri. Politik pengkafiran pun tidak berkembang dalam paham ini.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa orang inklusif lebih mulia dari pada eksklusif. Jika di eksklusif ada al-Ghazali, maka tokoh utama yang menganut paham inklusif ini terpotret pada sosok Ibnu Rusyd. Beliau sangat menjunjung rasionalitas dan pluralitas, keberagaman dan kemajemukan, baik dibidang agama maupun budaya, dan nilai-nilai universalitas lainnya.
Berangkat dari fenomena seperti itu, menurut saya, teologi inklusif adalah salah satu solusi yang solutif guna menghapus (mendekonstruksi) paham jumud dan ekslusif yang telah "membumi" dalam OKP Islam di Indonesia. Dengan teologi inklusif ini, Islam dapat berkembang ke arah yang lebih baik dan maju.
Maka dari itu, sekali lagi, untuk keluar dari keterupurukan dan keterbelakangan pemikiran yang kini mendera umat Islam di dunia dan OKP di Indonesia khususnya, harus menjadikan teologi inklusif sebagai satu-satunya paradigma dalam menyikapi realitas. Teologi inklusif, dengan demikian, adalah suatu kemanusiaan universal yang dalam al-qur’an, surat ar-rum ayat 30, disebutkan sebagai agama yang benar.
Menurut penulis, sudah saatnya kita (OKP) membuka diri untuk menerima perubahan, kemajemukan, dan perbedaan. Akhirnya, semoga dengan teologi inklusif ini, kejumudan berpikir yang mendera OKP Islam dapat terhapus. Amin!

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB