Bedah Buku : Perempuan Dugem Yogyakarta

|


Perempuan Dugem Yogyakarta

Suara Merdeka, Mingu, 6 April 2008

Perlu diakui, dugem sudah menjadi tren di kalangan anak-anak muda modern. Dugem adalah suatu dunia yang menyajikan beragam fantasi, kenikmatan, kepuasan dan kesenangan semu, yang sangat digemari kaum muda. Dugem juga merupakan bagian dari gaya hidup hedonis yang tumbuh diperkotaan. Clubbing, fashion, shoping, new style, hingga pergaulan bebas merupakan cirri-ciri yang melekat pada dunia dugem. Karena itu, di kota-kota besar seperti Yogyakarta, mengunjungi club, minum alcohol, free sex, maupun fashion menjadi hal yang lumrah dan biasa dalam pergaulan remaja masa kini.
Buku ini memotret kehidupan seorang perempuan dugem di sudut-sudut kota Yogyakarta secara komprehensif, detail, dan terbuka. Perempuan “hedon” yang dalam buku ini ditampilkan sebagai sosok Daisy kepada pembaca, merupakan representasi dari kehidupan dugem yang berkembang di kota Yogyakarta.
Buku ini merupakan hasil reportase langsung sang penulis dengan Daisy, seorang perempuan pecandu dugem. Daisy adalah orang yang mengalami, terlibat, dan menjadi bagian dari budaya hedonis. Karena itu, kesaksian dari seorang Daisy cukup representative.
Buku ini bercerita tentang perjalanan Daisy yang berusaha mencari keuasan atau kesenangan ragawi dalam budaya dugem Yogyakarta. Penelitian (reportase) ini mengambil sample tempat di sekita jalan Laksda Adisucipto. Karena di ajlan inilah, banyak klub yang menjadi tempat nongkrong anak muda.
Munurut Gilang, budaya hedon merupakan suatu budaya yang ahistoris, tidak mempunyai akar sejarah kebudayaan yang jelas. Hedonisme hanya dapat dilacak sebagai representasi atau mata rantai industri hiburan. Adapun industri hiburan itu adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme global. Untuk itu, kebanyakn anak-anak muda yang menjadi korban budaya “hedon” ini berasal dari kampung (desa) yang jauh dari perkembangan tekhnologi.
Daisy sendiri mengakui berasal dari desa di sudut kota Ciamis. Keluarganya termasuk keras dan anti terhadap gaya hidup hedonisits. Akan tetapi, bagi Daisy, gaya hidup semacam itu memiliki keunikan tersendiri yang belum pernah ia temui (rasakan) dalam kebudayaan di desanya. Dengan alasan itulah, Daisy sangat menikmati (mencandu) gaya hidup dugem.
Kehidupan sehari-hari Daisy tidak pernah lepas dari klub, alcohol, tequila (minuman keras yang bisa membuat perempuan horny), dan fashion. Clubbing, free sex, pergaulan bebas, gonta-ganti pasanganguna mendapat kepuasan batiniah, merupakan bagian dari perjalanan Daisy dalam mencari kepuasan di Yogyakarta. Dugem bagi Daisy ibarat nasi yang menjadi kebutuhan pokok manusia.[] Rizem Aizid Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB