Tetralogi LP dan Kelahiran Penulis Berbakat

|

Tetralogi LP dan Kelahiran Penulis Berbakat
Oleh: Rizem Aizid
(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)

Membaca Tetralogi Laskar Pelangi (LP) karangan Andrea Hirata sungguh sangat mengasyikan dan menarik. Sebab, Andrea Hirata –meskipun novel ini adalah karya pertamanya—berhasil menyuguhkan cerita-cerita atau kisah-kisah yang dapat membuat pembaca berempati. Dalam tetralogi LP, kisah-kisah yang diangkat berasal dari perjalanan hidup sang penulis sendiri, yang mungkin semua orang pernah dan akan mengalaminya. Untuk itu, membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor akan membawa kita pada sebuah perjalanan panjang yang menggetarkan.
Kesuksesan Andrea mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Andrea tergolong pendatang baru dalam dunia tulis-menulis di negeri ini. Sebelum itu, namanya belum dikenal masyarakat banyak. Terbitnya Laskar Pelangi pertama kali pada Januari 2008 lalu, sukses mengantarkan namanya ke dalam sepuluh besar penulis novel Best seller. Novel yang kini sudah dicetak sebanyak empat kali itu semakin mengukuhkan Andrea sebagai penulis (novelis) berbakat negeri ini.
Meskipun hanya berbentuk novel, Namun Laskar Pelangi telah banyak digunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan ilmiah, seperti skripsi, karya ilmiah, dan lan-lain. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah; apa rahasia di balik kesuksesan Andrea dalam tetralogi LPnya? Bagaimana caranya menulis buku Best Seller? Dan apakah penulis pemula juga bisa melakukannya? Jawabannya “bisa”.
Harus diakui, di Indonesia budaya baca-tulis masih sangat minim. Banyak orang yang menomorduakan budaya ini. Jika dibandingkan dengan budaya lihat-dengar, tentu budaya baca-tulis berada jauh di belakang. Masyarakat kita lebih mengutamakan audio visual daripada media cetak (koran). Itu artinya, konsumsi baca dan tulis sangat kecil sekali. Sebaliknya, masyarakat kita lebih senang dengan sajian-sajian visual dalam layar televisi, karena lebih praktis.
Dalam sejarahnya, Sejak masa colonial budaya dengar dan lihat sudah mendominan dalam masyarakat indonesia. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang. Meskipun, saat ini sudah banyak fasilitas-fasilitas yang memudahkan kita untuk membaca dan menulis. Misalnya, berdirinya penerbit-penerbit buku yang sampai saat ini semakin membludak, atau tersedianya media cetak dengan sajian yang lengkap. Akan tetapi, kenapa garis damarkasi budaya baca-tulis masyarakat kita belum juga bergeser menuju pada kemajuan?
Bagaimanapun juga, kemajuan peradaban bangsa sangat bergantung pada seberapa besar budaya baca dan tulis masyarakatnya. Itu artinya, Indonesia tidak akan pernah maju jika rakyatnya masih menomorsatukan budaya lihat dan dengar.
Memang banyak orang yang beranggapan bahwa menulis itu sulit, menulis itu butuh bakat, dan menulis itu harus pintar. Mungkin anggapan semacam itu tidak bisa disalahkan, Namun lebih menjerumuskan kita pada paradigma pesimistis yang berbuah pada kemalesan untuk membaca dan menulis.
Syaiful Bari dalam artikelnya menulis itu mudah mengatakan bahwa semua orang bisa menulis. Sebab, untuk menulis yang dibutuhkan hanya ketekunan dan kemauan keras. Tanpa itu, mustahil orang akan bisa menulis dengan baik. Selanjutnya, David Hume dalam Peception of Human Mind menyatakan bahwa tulisan yang baik dan bermutu harus mampu memadukan antara dua sense manusia, yakni Impressions dan ideas. Pertama, Impressions merupakan faktor mental atau psikis manusia yang berperan mengatur emosi, hasrat, mood, dan rasa percaya diri untuk menulis. Kedua, ideas adalah gagasan atau ide. Itulah yang terpotrret pada sosok Andrea Hirata.
Melihat kesuksesan tiga tetralogi LPnya di atas, secara tidak langsung, budaya baca-tulis masyarakat kita mulai membaik. Tetralogi pertama adalah Laskar Pelangi, Buku ini bercerita tentang kisah sekelompok anak-anak yang terdiri atas 10 orang dan menamai diri mereka dengan Laskar Pelangi. Anak-anak itu berasal dari Belitung, kehidupannya miskin dan serba susah. Akan tetapi, segala kesulitan hidup akibat kemiskinan yang menimpa mereka, tidak membuat mereka berhenti untuk mengejar mimpi-mimpinya, yakni melepaskan diri dari penyakit kronis bernama kemiskinan. Keinginan besar itu di representasikan dengan keinginan luar biasa mewah di mata mereka. Kemewahan itu bernama pendidikan.
Andrea Hirata mampu menyampaikan pesannya dengan baik. Novel ini juga menjadi potret nasionalisme sang penulis, yakni kecintaannya terhadap tanah kelahiran dan masa kecilnya. Semua itu terangkum apik dalam metafor-metafor hiperbol Laskar Pelangi.
Tetralogi Kedua berjudul Sang Pemimpi. Berkisah tentang sebuah lantunan kehidupan yang memesona dan akan membuat kita percaya akan kekuatan cinta, kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat kita percaya kepada Tuhan. Lewat buku ini, Andrea akan membawa anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran yang berbeda tentang nasib, intelektualitas, dan kegembiraan meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru. Dua tokoh utama Sang Pemimpi adalah Arai dan Ikal. Kisah perjuangan hidup dalam kemiskinan dan cita-cita yang besar tersaji dengan bahasa yang apik, sederhana, dan menggugah.
Tetralogi Ketiga bernama Edensor. Jika Laskar Pelangi bercerita masa kecil 10 anak-anak di Belitung dan Sang Pemimpin berkisah tentang perjuangan dua anak (Ikal dan Arai) dalam mengejar dan mewujudkan mimpi-mimpinya hingga mereka berhasil pergi (sekolah) ke Eropa, maka tetralogi ketiga (Edensor) ini menceritakan kehidupan Ikal dan Arai sewaktu berada (kuliah) di Universitas de Paris, sorbonne, Prancis dan petualangan penaklukan gagah berani dataran Eropa dan Afrika; dari Belanda sampai ke Italia, dari Tunisia sampai Casablanca, dan kembali ke Portugal.
Kesuksesan tetralogi LP dalam menarik perhatian pembaca di tanah air, mengindikasikann bahwa budaya baca-tulis sudah mulai mengalami kemajuan. Oleh karena itu, lahirnya penulis-penulis pemula yang berbakat, tekun, dan berkemauan keras seperti Andrea patut kita apresiasi demi menyongsong masa depan bangsa yang cerah. Menulislah..!

The Teardrop Story Woman

|



The Teardrop Story Woman
Oleh: Rizem Aizid


(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)


Judul buku : Kisah Air Mata, The Teardrop Story Woman
Penulis : Catherine Lim
Penerjemah : Sujatrini Liza
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tebal buku : viii + 526 halaman
Cetakan : Januari 2008


Konon, di sebuah desa yang bernama Luping di Malaysia terlahir seorang perempuan dengan tanda "tahi lalat air mata". Tahi lalat yang berbentuk seperti tetesan air mata tepat di bagian samping matanya. Ia bernama Mei Kwei. Menurut kepercayaan, "tahi lalat air mata" merupakan kutukan para dewa. Oleh karena itu, Mei Kwei hidup dalam kungkungan mitos yang menyebabkan ia terasing dan dibenci keluarganya. Banyak orang yang menyebut Mei Kwei sebagai "anak" setan. Akibat itu pula, ia mengalami hari-hari tragis sepanjang hidupnya.
Mei Kwei adalah keturunan Cina perantauan di Malaysia. Ia tumbuh sebagai gadis desa yang memiliki keindahan tubuh dan kecantikan wajah melebihi gadis-gadis desa (Luping) lainnya. Semua orang di Luping dan dari luar Luping telah mendengar kecantikan Mei Kwei. Orang-orang kaya dari berbagai desa pun datang untuk melamarnya, menjadikannya permaisuri di istana emasnya. Sejak saat itu, kapal cinta Mei Kwei berlabuh dari satu lelaki ke lelaki lainnya, sebelum akhirnya bertemu dengan cinta abadi, lelaki impiannya.
Dalam kepercayaan masyarakat Luping, Terlahir menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan. Apalagi terlahir sebagai perempuan dengan tahi lalat berbentuk tetesan air mata jelas-jelas merupakan tanda kebencian dewa-dewa.. Oleh karena itu, kehadiran Mei Kwei tidak disukai oleh keluarganya, terutama bapaknya yang bernama Ah Oon Koh dan kakanya, Abang. Keduanya selalu memperlakuan Mei Kwei seperti binatang yang disiksa, dipukul, dan diasingkan.
Hari-hari yang dijalani Mei Kwei sangat berat. Ia hidup dalam kebencian, siksaan, dan penindasan keluarganya. Namun pada suatu hari, di saat ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang berparas cantik rupawan, kebahagiaan justru menghampirinya. Kebahagiaan itu dimulai sejak orang tua Yoong-- laki-laki terkaya dari Penang-- melamarnya. Karena iming-iming harta berlimpah, kebencian keluarganya berubah menjadi perhatian. Lantas, bagaimana kehidupan Mei Kwei selanjutnya? Apakah orang tua Yoong adalah lelaki impiannya, laki-laki pertama dan terakhir yang akan mengisi kekosongan hatinya? Dan apakah kutukan tahi lalat air mata itu masih berlaku, mengingat kebahagiaan sudah menunggu di depan mata?
Dengan berlatar belakang Malaysia pada tahun 1950-an yang penuh gejolak, cerita menggetarkan ini mengeksplorasi pencarian abadi cinta di lanskap dramatis yang dirobek oleh granat teroris. Novel berjudul The Teardrop Story Woman-Kisah Air Mata yang ditulis Catherine Lim, ini mengemas dengan sangat menarik lika-liku perjalanan (dramatis) cinta seorang gadis desa (Mei Kwei) di tengah teror kolonial. Dengan bahasa yang renyah, cerdas, dan memukau, Catherine Lim berhasil menyajikan sebuah kisah yang menarik dengan beragam kompleksitas permasalahan hidup. Mulai dari Kemiskinan, kebencian, cinta, terorisme, penindasan, poligami, tradisi, hingga keyakinan (agama).
Mei Kwei merupakan salah satu potret kelam perempuan (etnis) Cina di perantauan. Novel ini berusaha menyadarkan kita bahwa perempuan Cina selalu mendapat perlakuan diskriminatif, terindas, dan terasing di negeri perantauan. Dalam kisah Mei Kwei inilah, kita akan menemukan bukti sejarah ketertindasan perempuan, khususnya etnis Cina.
Tentang penulis, Catherine Lim lahir dan tumbuh besar di Malaysia tapi tinggal dan bekerja di Singapura. Dia mengajar Linguistik Terapan sebelum beralih menjadi penulis secara penuh. Catherine Lim telah mempublikasikan tujuh buah kumpulan cerpen (dua di antaranya digunakan sebagai teks ujian GCSE oleh Cambridge University), empat novel, sebuah buku puisi, serta ratusan artikel.
Paling tidak ada dua keunikan dari The Teardrop story Woman ini. Pertama, menggunakan setting Malaysia pada masa colonial Inggris. Kedua, menyuguhkan kisah tentang keragaman etnis di Melayu, terutama memberi wawasan tentang etnis Cina di perantauan.
Berangkat dari seting historis masa kolonial tahun 1950an di Malaysia, novel ini selain berkisah tentang lika-liku kehidupan seorang perempuan desa yang miskin, juga merupakan potret ketertindasan perempuan Cina di perantauan baik oleh kolonial maupun pribumi. Perlakuan-perlakuan diskriminasi, menindas, dan menomorduakan perempuan memang tidak bisa dihindari. Banyak sekali bukti-bukti sejarah tentang perlakuan semacam itu.
Laki-laki dan perempuan merupakan dua entitas berbeda. Akibat oposisi biner itu, terjadi superioritas (laki-laki) dan inferioritas (perempuan). Perempuan kerap menjadi korban kekerasan kaum adam, seperti pemukulan, cemoohan, pelecehan seksual, hingga pemerkosaan.
Perlu diketahui, penindasan perempuan telah menjadi beban sejarah yang sampai saat ini masih berkelanjutan. Penindasan itu tidak hanya terjadi di Malaysia seperti yang digambarkan Catherine Lim dalam novel ini, melainkan juga melanda kaum perempuan (Cina) di Indonesia. Banyak sekali cacatan sejarah yang membuktikan ketertindasan perempuan di Indonesia. Tragedi pemerkosaan massal yang dilakukan orang-orang pribumi terhadap perempuan Cina di Indonesia (1998) adalah salah satunya.
Cantik dan penuh semangat, Mei Kwei berhasil mengatasi takdir kelahirannya yang tak beruntung dan melepaskan diri dari pria-pria yang tidak bisa ia cintai kemudian jatuh dalam pelukan lelaki yang tak boleh ia cintai: pastor katolik, Bapa Francois Martin, seorang misioner yang dikirim ke Luping, sebuah kota kecil di Malaysia. Berhadapan dengan cinta Mei Kwei, komitmen Bapa Martin pada pangggilannya mulai retak, menampakkan jati diri lelaki yang tersembunyi di dalamnya. Tuntutan tubuh dan jiwa pun berubah menjadi benturan yang menakutkan.
Novel ini menarik untuk di baca. Selain kita disadarkan akan ketertindasan kaum perempuan secara umum, novel ini juga merekam secara apik kisah perempuan Cina perantauan pada masa colonial di Malaysia. Membaca novel ini seakan kita sedang mengalami langsung tragedi cinta yang dialami Mei Kwei. Selamat membaca!

IAIN dan Masa Depan Intelektual Muslim

|

IAIN dan Masa Depan Intelektual Muslim
Oleh: Rizem Aizid
(Pengurus LPM HumaniusH Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


Fenomena yang cukup menarik untuk disimak menjelang bergulirnya tahun ajaran baru adalah banyaknya masyarakat (orang tua) yang berlomba-lomba memilih sekolah lanjutan (Perguruan Tinggi) terbaik untuk anaknya. PT yang dianggap baik (berkualitas, mahal, dan ternama) akan diperebutkan banyak calon mahasiswa. Namun sebaliknya, PT yang (sudah) dicap jelek oleh masyarakat akan dijauhi. IAIN, mungkin termasuk salah satu PT yang memiliki citra jelek di mata masyarakat. Untuk itu, tak heran apabila calon-calon mahasiswa IAIN dari tahun ke tahun mengalami penurunan kuantitas.
Pertanyaannya adalah; apa yang menyebabkan citra IAIN jelek di mata masyarakat Indonesia? Mungkin masih segar dalam memori kita tentang buku kontroversial yang ditulis Adian Husaini beberapa waktu yang lalu. Buku yang diberi judul “Ada Pemurtadan di IAIN” itu sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi dan masyarakat pada umumnya. Sebab dalam tulisan itu, Adian Husaini menuduh IAIN sebagai kampus yang mencetak orang-orang “murtad”.
Tak bisa dipungkiri, kemunculan buku tersebut telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan IAIN di masa depan. Pasalnya, akibat tuduhan itu, image atau citra IAIN menjadi jelek di mata masyarakat (para orang tua). Hal itu pula yang mempengaruhi merosotnya prosentase mahasiswa IAIN dari tahun ke tahun. Fakta membuktikan, banyak masyarakat yang mulai berpaling dari IAIN. Mungkin kasus penutupan atau penarikan SK jurusan (Prodi) Sosiologi Agama (SA) di PTAIN se-Indonesia beberapa waktu lalu dapat menjadi bukti konkret menipisnya minat masyarakat terhadap IAIN.
Bagaimana pun juga, IAIN memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pembangunan Indonesia ke depan. Hal itu terbukti dari banyaknya para pemikir bangsa yang lahir dari “perut” IAIN. Sebut saja, ada Mukti Ali, Azyumardi Azra, Amin Abdullah (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Fatimah Husein, dan lain-lain. Mereka semua adalah para cendekiawan dan intelektual muslim Indonesia.
Melihat kontribusi besar IAIN terhadap lahirnya “kader-kader” cendekiawan muslim, peluang untuk menciptakan Indonesia yang maju masih terbuka lebar. Oleh karena itu, saya kira adalah kurang bijak menuduh “kader-kader” IAIN (khususnya Ushuluddin) dengan kata “murtad”. Apalagi kelahiran para pemikir muslim Indonesia dari perut IAIN memiliki andil besar bagi kemajuan Indonesia, khususnya Islam.
Menurut Fazlur Rahman, kemunduran Islam adalah karena kejumudan berpikir umat Islam itu sendiri. Dalam konteks inilah, diperlukan para pemikir pembaharu yang dapat mendobrak kejumudan berpikir tersebut. Dengan begitu, niscaya kejayaan Islam akan diraih. Untuk meraih kejayaan itu, diperlukan orang-orang semacam Mukti Ali, Amin Abdullah, Cak Nur, Azyumardi Azra, dan lain-lain dalam konteks pemikir pembaharu Indonesia. Sekali lagi, Mereka adalah para pemikir yang lahir dari perut IAIN.
Lantas, bagaimana nasib intelektual muslim Indonesia jika IAIN sudah tidak lagi diminati masyarakat luas, karena image jelek yang dilekatkan padanya? Bisakah bangsa ini maju tanpa mereka? Dua pertanyaan ini layak dipertanyakan terkait dengan kondisi IAIN, khususnya Ushuluddin saat ini. Adalah tugas kita bersama untuk mengembalikan citra positif IAIN di mata masyarakat Indonesia.
Melihat dari fenomena yang ada, klaim “murtad” yang dituduhkan Adian Husaini terhadap IAIN telah menutup hati banyak masyarakat. Akibatnya, mereka sudah enggan lagi menyekolahkan anaknya (generasi muda bangsa) di IAIN. Karena itulah, generasi muda IAIN dari tahun ke tahun semakin menurun. Jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan ushuluddin di IAIN harus “gulung tikar”. Semoga itu tidak terjadi di negeri ini.
Salah satu contoh yang mungkin cukup mewakili potret buram ushuluddin di negeri ini adalah fenomena yang menimpa ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dimana kuantitas dan kualitas mahasiswa dari tahun ke tahun mengalami penurunan (drastis). Begitu pula dengan minat belajarnya, seperti diskusi, membaca, dan menulis. Implikasinya sudah sangat jelas, yakni masa depan intelektual muslim semakin buram.
Perlu diakui, ushuluddin memiliki prospek yang sangat bagus dalam mencetak generasi muda bangsa yang mapan secara intelektualitas dan ke-iman-an. Banyak sekali pemikir-pemikir modern yang merupakan lulusan dari ushuluddin atau IAIN. Biasanya, jurusan atau program studi (Prodi) yang memiliki prospek bagus dalam mencetak para pemikir masa depan adalah di bidang FIlsafat. Sebab, di bidang inilah para filsuf dilahirkan. Di Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Filsafat diintegrasikan dengan Tauhid, sehingga menjadi Prodi Aqidah dan Filsafat (AF). Tujuannya adalah menciptakan pemikir muslim yang memiliki tingkat keimanan dan intelektualitas yang (sama-sama) tinggi (kuat).
Di samping itu, Sosiologi Agama (SA) juga menjadi salah satu Prodi yang menjanjikan masa depan yang cerah. Sebab, prospek ke depan SA berkaitkelindan dengan terwujudnya hubungan antar agama yang mapan. Untuk konteks Indonesia, tentu SA sangat penting guna mengantisipasi munculnya konflik-konflik agama. Namun sayangnya, Prodi yang bergerak di ranah pluralisme agama ini harus ditutup oleh pemerintah dengan alasan-alasan tekhnis, yakni sedikit peminatnya.
Penghapusan Sosiologi Agama
Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Departemen Agama (Depag) menurunkan kebijakan penghapusan Prodi Sosiologi Agama (SA) di PTAIN se-Indonesia. Menurut hemat saya, keputusan tersebut perlu ditinjau ulang. Sebab, eksistensi SA sangat penting dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia. SA merupakan sebuah studi yang melihat agama dari aspek sosialnya. Untuk itu, SA sebagai sebuah studi akademik dan sekaligus sebagai perspektif dalam melihat fenomena keagamaan masyarakat Indonesia, sangat berguna bagi terwujudnya kenyamanan beragama.
Menurut Umulyadi dalam artikelnya Agama Tanpa Sosiologi Agama (suara karya, 29/0208), mengatakan bahwa perodi SA sangat penting untuk menciptakan pluralisme yang mapan di negeri multikultur. Oleh karena itu, Indonesia (pemerintah) harus mengkaji ulang keputusan pencabutan SK SA tersebut.
Jika hal ini ditarik ke dalam konteks Hubungan Antar Agama (HAA) di Indonesia, SA dapat dijadikan penengah atas konflik-konflik agama yang terjadi. Harus diakui, masyarakat Indonesia belum siap secara mental hidup dalam perbedaan (agama). Perspektif teologis yang digunakan dalam memandang HAA, hanya berakibat pada kemunculan berbagai konflik agama di negeri ini.
Akhirnya, dengan melihat prospek yang ditawarkan Prodi Filsafat dan Sosiologi Agama di atas, saya berkesimpulan bahwa eksistensi ushuluddin, khususnya dua Prodi tersebut, sangat penting. Sebab, hanya merekalah yang bisa mengontrol dan mengarahkan masa depan bangsa Indonesia. Lantas, apa yang akan terjadi ketika ushuluddin sudah tidak lagi diminati?

Memberantas Bandit Berdasi

|


Memberantas Bandit Berdasi

Judul buku : Bandit Berdasi-Korupsi Berjamaah
Penulis : Suhartono W. Pranoto
Penerbit : Impulse Kanisius, Yogyakarta
Tebal buku : 216 halaman
Cetakan : I, 2008


Media Indonesia, 10 Mei 2008

Kelengseran rezim Orde Baru (Soeharto), pada mei 1998, hanya menyisakan sekian persoalan kebangsaan yang hingga detik ini belum terpecahkan. Ironisnya, persoalan-persoalan peninggalan (warisan) Soeharto tersebut semakin parah. Salah satunya adalah praktek korupsi. Saat ini, korupsi semakin bermetamorfosis ke dalam berbagai bentuknya. Di samping itu, korupsi juga merambah ke semua level birokrasi, mulai dari birokrasi pusat (besar/atas) hingga non-pusat (kecil/bawah).
Memang sejak pemerintahan SBY-JK, pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) menjadi target utama program 100 hari SBY. Akan tetapi, lagi-lagi hasilnya mengecewakan. Waktu 100 hari yang diancangkan SBY itu belum (tidak) berjalan maksimal, sehingga korupsi masih mendera negeri ini. Secara terminologis, korupsi merupakan suatu bentuk penyelewengan hak dan atau kewajiban. Baik dalam bentuk kerja, uang, waktu, jabatan, maupun kebijakan.
Korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan para elite yang umum disebut white collar crime atau kejahatan kerah putih. Dalam istilah yang lebih mutakhir sering disebut kejahatan kaum berdasi dan pelaku kejahatan yang lihai dan berkaliber itu sering dikenal dengan sebutan bandit. Oleh karena itu, para pelaku korupsi (koruptor) yang notabene adalah para elite birokrasi, dalam buku ini disebut Bandit Berdasi (BB).
Buku berjudul Bandit Berdasi-Korupsi Berjamaah, Merangkai Hasil Kejahatan Pasca-Reformasi yang ditulis oleh Suhartono W. Pranoto, ini berkisah tentang sepak terjang dan kehidupan bandit berdasi (para elite) di negeri ini. Penulis melihat kejahatan korupsi yang dilakukan oleh BB dari berbagai aspek, mulai dari aspek budaya, social, sejarah, ekonomi, kejahatan, hingga politik. Buku ini adalah buku pertama yang memotret dunia Bandit Berdasi (koruptor) secara lengkap dan komprehensif. Yang dimaksud dengan bandit berdasi dalam buku ini adalah para elite birokrasi pelaku korupsi. Selain itu, pada bagian terakhir buku Suhartono memberikan tawaran solusi bagaimana caranya memberantas bandit berdasi.
Persoalan korupsi memang persoalan yang pelik dan rumit. Berbagai cara pun telah dilancarkan oleh pemerintah guna membendung arus korupsi yang semakin deras. Namun hasilnya lagi-lagi nihil. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya pemberantasan korupsi dari rezim ke rezim selalu gagal? apa yang menyebabkan bandit berdasi tidak mau melepas “dasi” korupsinya? dan jalan pintas apa yang harus (layak) ditempuh pemerintah (khususnya SBY) dalam memberantas bandit berdasi di negeri ini? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu diurai secara lengkap dan komprehensif oleh Suhartono dalam buku setebal 216 halaman ini.
Menurut Suhartono, korupsi di negeri ini bukan lagi sebuah penyakit social yang dapat diberantas dengan mudah, tetapi lebih pada penyakit budaya yang sangat sulit disembuhkan. Korupsi sudah menjadi kebiasaan turun temurun dalam birokrasi kita, mulai dari birokrasi feodal sampai neofeodal, dari kakek, ayah, hingga anak-anaknya. Oleh karena itu, korupsi sangat sulit diberantas. Jalan yang cukup efektif untuk memberantas BB adalah dengan pendekatan budaya.
Dalam birokrasi feodal misalnya, pembagian status social ke dalam dua kelompok turut mempengaruhi lahirnya perilaku korupsi, yaitu wong gede (meliputi; raja, birokrat, tuan tanah, dan para elite lainnya) dan wong cilik (meliputi; rakyat jelata, petani, buruh, dan lain-lain). Hubungan yang terjalin pun bersifat patron-klien. Jelas yang diuntungkan adalah mereka yang memiliki status social tinggi (wong gede). Biasanya, korupsi terjadi dalam wilayah yang pertama (wong gede). Pasalnya, para elite birokrasi berasal dari status social tertinggi. Sedangkan wong cilik tersubordinasi.
Dalam sejarahnya, budaya feodalisme kembali dipraktekkan pada kekuasaan otoriter Soeharto. Dimana pemerintahan yang dianut bersifat sentralistik mengikuti budaya feodal. Dari sini, perilaku korupsi kembali terjadi.
KKN yang dilakukan oleh para BB disebut extra ordinary crime karena bersifat elitis dan bermodalkan wewenang dan intelektualitas yang menghasilkan miliaran rupiah. Transparency Internasional untuk Indonesia mencatat pada 2003, telah terjadi korupsi di lingkungan PNS, Parpol, Polri, Militer, dalam bentuk suap, pemerasan halus, manipulasi, politik uang, dan kolusi bisnis. Sejak saat itu, korupsi tidak hanya terjadi pada tingkat atas dan menengah, melainkan juga pada tingkat bawah, daerah terisolasi, dan bahkan orang buta huruf sekalipun sesuai dengan omzet local.
Manisnya korupsi sudah dinikmati oknum eksekutif dan legislatif di tingkat pusat sebelum keluarnya UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 tentang Otonomi Daerah dan Keungan Daerah (hlm. 29). Mengikuti model kepatronan (feodalisme), maka sejak dikeluarkannya UU itu, korupsi justru marak terjadi di tingkat bawah (daerah). Akibatnya, sampai saat ini korupsi yang sudah mendarah daging dan mengakar kuat dalam birokrasi itu belum juga teratasi.
Satu contoh kecil yang sering kita jumpai dalam pergaulan sehari-hari, misalnya suap atau uang pelicin. Dalam jejaring birokrasi, uang pelicin berguna untuk memudahkan seseorang dalam melakukan administrasi. Artinya, untuk mendapatkan KTP di Kelurahan dengan cara yang mudah dan cepat, maka harus ada uang pelicinnya. Tanpa uang pelican, niscaya prosesnya akan lama dan (diper)sulit. Fenomena semacam ini adalah contoh kecil praktek korupsi BB di tingkat bawah.
Pada bagian terakhir buku ini, Suhartono mengajukan sebuah pertanyaan besar terkait pemberantasan korupsi oleh BB, yaitu apakah pendekatan budaya untuk memberantas kejahatan korupsi yang dilakukan oleh BB pada umumnya dapat berjalan efektif?
Sungguh menarik membaca buku ini. Selain memberikan informasi baru seputar dunia bandit berdasi dan korupsinya, juga menyadarkan kita bahwa bandit berdasi adalah perampok dan pembunuh dengan cara yang halus. Untuk itu, sudah saatnya Indonesia bangkit dan mengubur semua bandit berdasi dengan melepaskan “dasi” mereka. Sehingga negeri ini terbebas dari kejahatan korupsi. Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat memberikan sumbangan solusi bagi pemberantasan korupsi oleh pemerintah. Selamat membaca!
Rizem Aizid, Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura

Menghidupkan Kembali Lesbumi

|



Menghidupkan Kembali Lesbumi


Judul buku : LESBUMI, Strategi Politik Kebudayaan
Penulis : Choirotun Chisaan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal buku : xvi + 247 halaman


Suara Merdeka, 4 Mei 2008


Dalam peta sejarah perpolitikan Indonesia, tahun 1950-1960an merupakan tahun-tahun yang banyak melahirkan catatan sejarah “penting” bangsa Indonesia. Mulai dari sejarah pelanggaran kemanusiaan (HAM), G/30/S PKI, Gerwani, pemberontakan orang-orang yang tidak teridentifikasi, dan peristiwa-peristiwa berdarah lainnya. Pada rentang waktu itu pula, Indonesia mengalami sebuah transisi kekuasaan dari kekuasaan Orde Lama (Orla) yang dikomandoi Soekarno ke kekuasaan Orde Baru (Orba) yang dimotori Soeharto. Di samping itu, sejarah-sejarah “penting” juga terjadi dalam ranah kebudayaan. Misalnya, banyaknya lembaga-lembaga kebudayaan yang lahir dari partai politik pada 1960-an.
Realitas sejarah mengakui bahwa, rentang waktu 1950-1960an terjadi semacam perselingkuhan antara kebudayaan dengan partai politik (parpol). Hal itu ditandai oleh maraknya lembaga kebudayaan yang lahir dari perut parpol. Akibatnya, posisi politik dan seni-budaya menjadi tidak jelas. Pada fase-fase tertentu, seni-budaya dipandang sebagai produk suatu proses politik. Artinya, ruang-ruang partai politik melahirkan suatu lembaga kesenian. Misalnya, Lekra dari partai PKI, Lesbumi dari partai NU, LKN dari PNI, dan lain-lain.
Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) adalah sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai NU (Nahdatul Ulama), saat organisasi ini menjadi partai politik pada 1960an. Kelahiran Lesbumi di tubuh partai politik NU itu, sebenarnya mengusung sebuah jargon politik yang mengidealkan adanya nilai-nilai religius dalam kesenian dan politik Indonesia. Akan tetapi hingga saat ini, orientasi Lesbumi itu belum sepenuhnya terwujud. Hal itu dikarenakan eksistensi Lesbumi yang masih terkatung-katung.
Memang pada masa-masa 1960an, lembaga kebudayaan NU itu sangat massif dan hampir mampu menyaingi Lekra. Akan tetapi, pada periode 70-80an, Lesbumi seakan lenyap terhempas angin modernitas. Kabarnya pun tidak banyak diketahui orang. Dengan kata lain, Lesbumi seakan menghilang di telan tanah kebudayaan Indonesia.
Buku berjudul Lesbumi, Strategi politik Kebudayaan yang ditulis oleh Choirotun Chisaan, ini membicarakan perjalanan panjang Lesbumi secara komprehensif dan detail, khususnya pada era 1950-1960an sampai sekarang. Boleh dibilang, buku ini merupakan buku pertama yang mengkaji seluk beluk sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai NU (Lesbumi), yang didirikan pada 1962.
Menurut Choirotun Chisaan, kelahiran Lesbumi ditandai dengan tiga momen histories. Pertama, dikeluarkannya manifesto politik oleh presiden Soekarno. Kedua, pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia pada awal 1960-an. Dan Ketiga, keberadaan Lekra (1950) yang makin menampakan kedekatan hubungan dengan PKI, baik secara kelembagaan maupun ideologis. Ketiga momen histories itulah yang secara eksternal melatarbelakangi kelahiran Lesbumi. Di samping itu, adanya keinginan dalam tubuh NU untuk semakin meningkatkan seni-budaya “kader-kader”nya menjadi factor internal lahirnya Lesbumi.
Terkait dengan tiga momen histories di atas, buku ini bermaksud menganalisis tiga persoalan pokok. Pertama, historisitas Lesbumi, yaitu kelahiran dan perkembangan, pendiri-pendiri dan tujuan-tujuannya, serta landasan ideologis dan warna seni-budaya Lesbumi. Tokoh-tokoh utama Lesbumi diantaranya; Djamaludin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani, Misbah Yusa Biran, Anas Ma’ruf, dan lain-lain. Mereka semua adalah seniman-budayawan yang tergabung ke dalam partai NU melalui gerakan Lesbumi. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah; apa latar belakang yang mendorong lahirnya Lesbumi dan perkembangannya dalam sejarah politik kebudayaan di Indonesia?
Persoalan kedua, bagaimana posisi Lesbumi di tengah perdebatan politik aliran seni-budaya di Indonesia dalam kurun waktu 1960-an? Ketiga, dinamika intern yang terjadi dalam tubuh partai NU dengan lahirnya Lesbumi. Secara konkret, persoalan ini diarahkan pada pertanyaan: bagaimana respon ulama terhadap munculnya Lesbumi? Adakah kontroversi antara seniman-aktivis Lesbumi dengan tradisi seni-budayanya dan ulama dengan tradisi pesantrennya?
Ketiga persoalan itu dibahas secara detail dan komprehensif dalam buku setebal 247 halaman ini. Persoalan-persoalan seputar Lesbumi dikaji serius oleh Choirotun Chisaan, selain sebagai sumbangan wacana bagi realitas Lesbumi saat ini, juga untuk memenuhi kelengkapan akademik, yaitu sebagai kajian yang diangkat pada tesis S2-nya. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk dicermati guna menambah wawasan seputar lembaga kebudayaan yang lahir dari persinggungan politik pada tahun 1950-1960an (Lesbumi). Akhirnya, semoga lahirnya buku ini dapat menghidupkan kembali Lesbumi di era reformasi ini. selamat membaca!
Rizem Aizid Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB