Menuju Islam Inklusif

|


Menuju Islam Inklusif
Oleh: Rizem Aizid

Wacana tentang kebangkitan Islam bukanlah inovasi (bid’ah) maupun sesuatu yang baru, juga bukan aspek eksklusif dari misi penyebaran Islam (dakwah). Gagasan reformasi (kebangkitan) Islam mempunyai sejarah yang sangat panjang dan rumit. Hal itu ditandai dengan kemunculan para pemikir pembaru Islam, mulai dari Al-Ghazali (pada zaman klasik), Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Khomeini, dll (pada zaman modern).
Dalam peta reformasi pemikiran Islam, setidaknya, pemikir pembaru Islam terbagi ke dalam dua kategori, yakni kategori kelompok revivalis masa awal dan revivalis masa kini. Kelompok pertama (al-Ghazali) mengusung tugas utama untuk membersihkan debu-debu dari wajah (agama) Islam. Dalam pandangan mereka, sejak beberapa abad pasca kepemimpinan Khulafaurrasihdin, Islam sudah tidak lagi sebagai sumber kebenaran, tetapi telah dijadikan budak oleh sebuah “identitas kebudayaan/peradaban”. Oleh karena itu, adalah tugas mereka untuk memurnikan kembali islam. Berbagai bentuk bid’ah, penyelewengan interpretasi, hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam) merupakan debu-debu yang berusaha dibersihkan dari wajah islam oleh kelompok ini.
Berbeda dengan al-Ghazali, tugas yang diemban oleh Iqbal dkk (revivalis masa kini) adalah mencoba untuk mendamaikan antara kebakaan dan kefanaan, tradisi dan modernitas, islam dan sekularisme, dan lain-lain. Memahami dan memelihara pesan abadi agama dalam gelombang perubahan dan pembaruan yang begitu besar merupakan inti perjuangan dan pengorbanan kaum reformis pada zaman kita.
Akan tetapi, upaya pembaruan yang dilakukan oleh kaum revivalis dan reformis, mulai dari Al-Ghazali sampai Khomeini, ternyata belum juga mampu membawa suatu perubahan segar bagi kemajuan Islam masa kini. Terbukti, hingga saat ini Islam masih berada dalam masa kegelapan (darkness). Eksklusivisme, kejumudan berpikir, hingga fanatisme berlebihan dalam beragama adalah bukti konkret keterbelakangan (kemunduran) Islam. Di samping itu, sikap-sikap intoleransi yang ditunjukkan umat Islam terhadap agama lain (non-Islam), semakin memperburuk wajah Islam. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya reformasi Islam hingga saat ini belum juga membuahkan hasil? Dimanakah letak kekeliruan para reformis terdahulu dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan (baca:pemurnian) Islam? Dan solusi apa yang tepat untuk memecah kebuntuan ini?
Menurut Abdul Karim Soroush (2002), dalam bukunya Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama, upaya pembaruan yang dilakukan oleh para pembaru terdahulu memiliki satu kelemahan dasar, yaitu tidak adanya teori epistemologi yang tepat dalam upaya reformasi Islam. Konsep epistemologi itu harus memandang aspek perubahan dan keabadian sebagai suatu kesatuan yang utuh dan padu, bukan parsial.
Persoalan yang belum bisa dipecahkan oleh kaum reformis dan revivalis masa dahulu adalah; mereka tidak membedakan dua pintu kembar yang menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan islam, yakni pembedaan antara agama dan ilmu agama, pemahaman pribadi tentang agama dan agama itu sendiri, dan islam sebagai identitas dan islam sebagai kebenaran. Bagi Soroush (2002), untuk bisa meraih kembali kejayaan islam, umat islam kontemporer harus mampu membedakan kedua pintu kembar tersebut. Di sinilah letak rantai pemikiran kaum reformis yang terputus itu.
Berangkat dari kegelisahan inilah, Abdul Karim Soroush (2002) menggagas suatu teori epistemologi yang dianggap mampu menjembatani rantai yang terputus itu. Ia menyebut teorinya dengan ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama”.
Selama ini, Islam tengah berada diambang ketidakpastian. Boleh dibilang, Islam saat ini membutuhkan suatu revolusi pemikiran yang dapat membawa kemajuan bagi Islam. Salah satu jalan adalah dengan reformulasi dan reinterpretasi semua ajaran Islam yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, pintu pencerahan Islam niscaya akan terbuka.
Hal itu juga disadari oleh Fazlur Rahman, bapak neo-modernisme asal Pakistan, bahwa reformulasi ajaran Islam sangat penting bagi kemajuan Islam itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, Islam yang oleh Rahman perlu direformulasi adalah Islam historis. Dalam bukunya, Islam, ia membagi Islam ke dalam dua bentuk, yakni Islam normatif dan Islam Historis.
Islam normatif adalah Islam (AL-Quran dan Hadist) yang bersumber langsung dari nabi Muhammad saw. Sedangkan Islam Historis adalah ajaran-ajaran Islam yang sudah bercampuraduk dengan interpretasi atau pemahaman manusia. Oleh karena itu, ia bersifat temporal yang bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Hampir sama dengan Rahman, Soroush melalui teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” mencoba untuk mendamaikan antara agama dan ilmu agama, ukhrawi dan duniawi, nalar dan wahyu, dan Islam dan sekularisme. Teori ini tidak bermaksud ingin memodernkan Islam atau memodifikasi ajaran Islam, melainkan untuk memperjelas tentang proses pemahaman manusia (muslim) tentang agama (Islam).
Pada kenyataannya, agama dan ilmu agama sering disalahartikan sehingga menyebabkan pemahaman yang keliru tentang inti agama itu sendiri. Salah satu contoh yang hingga saat ini belum juga terpecahkan adalah konflik atau perselisihan antar agama. Agama yang satu menuding agama yang lain sebagai bid’ah, begitu pula sebaliknya. Truth claim semacam itulah yang membuat Islam tidak maju-maju (stagnan).
Untuk konteks lokal (Indonesia) misalnya, persoalan tentang aliran Ahmadiyah, yang oleh sebagian umat Islam dianggap melecehkan agama Islam, telah memicu lahirnya konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik agama yang terjadi di Ambon, Poso, Maluku dan sekitarnya, juga menjadi bukti ketidakmampuan umat Islam indonesia dalam membedakan antara agama dan ilmu agama. Yang seharusnya sakral (agama) menjadi profan (fatwa), begitu sebaliknya.
Dalam realitas berkonflik inilah, teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” memegang peran urgen. Inti dari teori ini menjelaskan bahwa agama bersifat sakral, suci, dan abadi. Sedangkan ilmu agama bersifat temporal, evolutif, dan bisa berubah sesuai dengan konteks zamannya. Ilmu agama inilah yang oleh Rahman disebut Islam Historis.
Dengan mengaplikasikan teori ini dalam konteks Islam masa kini, saya yakin, pemahaman muslim tentang agama (Islam) akan semakin tercerahkan sehingga diharapkan mampu meredam berbagai gejolak konflik yang masih dan akan berlangsung. Kejumudan berpikir, eksklusivisme, maupun fanatisme agama tidak akan menghantui pemikiran umat Islam lagi, sebaliknya, Islam inklusif akan terlahir. Semoga!

Menuju Islam Inklusif

|


Menuju Islam Inklusif
Oleh: Rizem Aizid

Wacana tentang kebangkitan Islam bukanlah inovasi (bid’ah) maupun sesuatu yang baru, juga bukan aspek eksklusif dari misi penyebaran Islam (dakwah). Gagasan reformasi (kebangkitan) Islam mempunyai sejarah yang sangat panjang dan rumit. Hal itu ditandai dengan kemunculan para pemikir pembaru Islam, mulai dari Al-Ghazali (pada zaman klasik), Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Khomeini, dll (pada zaman modern).
Dalam peta reformasi pemikiran Islam, setidaknya, pemikir pembaru Islam terbagi ke dalam dua kategori, yakni kategori kelompok revivalis masa awal dan revivalis masa kini. Kelompok pertama (al-Ghazali) mengusung tugas utama untuk membersihkan debu-debu dari wajah (agama) Islam. Dalam pandangan mereka, sejak beberapa abad pasca kepemimpinan Khulafaurrasihdin, Islam sudah tidak lagi sebagai sumber kebenaran, tetapi telah dijadikan budak oleh sebuah “identitas kebudayaan/peradaban”. Oleh karena itu, adalah tugas mereka untuk memurnikan kembali islam. Berbagai bentuk bid’ah, penyelewengan interpretasi, hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama (Islam) merupakan debu-debu yang berusaha dibersihkan dari wajah islam oleh kelompok ini.
Berbeda dengan al-Ghazali, tugas yang diemban oleh Iqbal dkk (revivalis masa kini) adalah mencoba untuk mendamaikan antara kebakaan dan kefanaan, tradisi dan modernitas, islam dan sekularisme, dan lain-lain. Memahami dan memelihara pesan abadi agama dalam gelombang perubahan dan pembaruan yang begitu besar merupakan inti perjuangan dan pengorbanan kaum reformis pada zaman kita.
Akan tetapi, upaya pembaruan yang dilakukan oleh kaum revivalis dan reformis, mulai dari Al-Ghazali sampai Khomeini, ternyata belum juga mampu membawa suatu perubahan segar bagi kemajuan Islam masa kini. Terbukti, hingga saat ini Islam masih berada dalam masa kegelapan (darkness). Eksklusivisme, kejumudan berpikir, hingga fanatisme berlebihan dalam beragama adalah bukti konkret keterbelakangan (kemunduran) Islam. Di samping itu, sikap-sikap intoleransi yang ditunjukkan umat Islam terhadap agama lain (non-Islam), semakin memperburuk wajah Islam. Pertanyaannya adalah; kenapa upaya reformasi Islam hingga saat ini belum juga membuahkan hasil? Dimanakah letak kekeliruan para reformis terdahulu dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan (baca:pemurnian) Islam? Dan solusi apa yang tepat untuk memecah kebuntuan ini?
Menurut Abdul Karim Soroush (2002), dalam bukunya Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama, upaya pembaruan yang dilakukan oleh para pembaru terdahulu memiliki satu kelemahan dasar, yaitu tidak adanya teori epistemologi yang tepat dalam upaya reformasi Islam. Konsep epistemologi itu harus memandang aspek perubahan dan keabadian sebagai suatu kesatuan yang utuh dan padu, bukan parsial.
Persoalan yang belum bisa dipecahkan oleh kaum reformis dan revivalis masa dahulu adalah; mereka tidak membedakan dua pintu kembar yang menjadi kunci kemajuan dan kebangkitan islam, yakni pembedaan antara agama dan ilmu agama, pemahaman pribadi tentang agama dan agama itu sendiri, dan islam sebagai identitas dan islam sebagai kebenaran. Bagi Soroush (2002), untuk bisa meraih kembali kejayaan islam, umat islam kontemporer harus mampu membedakan kedua pintu kembar tersebut. Di sinilah letak rantai pemikiran kaum reformis yang terputus itu.
Berangkat dari kegelisahan inilah, Abdul Karim Soroush (2002) menggagas suatu teori epistemologi yang dianggap mampu menjembatani rantai yang terputus itu. Ia menyebut teorinya dengan ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama”.
Selama ini, Islam tengah berada diambang ketidakpastian. Boleh dibilang, Islam saat ini membutuhkan suatu revolusi pemikiran yang dapat membawa kemajuan bagi Islam. Salah satu jalan adalah dengan reformulasi dan reinterpretasi semua ajaran Islam yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, pintu pencerahan Islam niscaya akan terbuka.
Hal itu juga disadari oleh Fazlur Rahman, bapak neo-modernisme asal Pakistan, bahwa reformulasi ajaran Islam sangat penting bagi kemajuan Islam itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, Islam yang oleh Rahman perlu direformulasi adalah Islam historis. Dalam bukunya, Islam, ia membagi Islam ke dalam dua bentuk, yakni Islam normatif dan Islam Historis.
Islam normatif adalah Islam (AL-Quran dan Hadist) yang bersumber langsung dari nabi Muhammad saw. Sedangkan Islam Historis adalah ajaran-ajaran Islam yang sudah bercampuraduk dengan interpretasi atau pemahaman manusia. Oleh karena itu, ia bersifat temporal yang bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Hampir sama dengan Rahman, Soroush melalui teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” mencoba untuk mendamaikan antara agama dan ilmu agama, ukhrawi dan duniawi, nalar dan wahyu, dan Islam dan sekularisme. Teori ini tidak bermaksud ingin memodernkan Islam atau memodifikasi ajaran Islam, melainkan untuk memperjelas tentang proses pemahaman manusia (muslim) tentang agama (Islam).
Pada kenyataannya, agama dan ilmu agama sering disalahartikan sehingga menyebabkan pemahaman yang keliru tentang inti agama itu sendiri. Salah satu contoh yang hingga saat ini belum juga terpecahkan adalah konflik atau perselisihan antar agama. Agama yang satu menuding agama yang lain sebagai bid’ah, begitu pula sebaliknya. Truth claim semacam itulah yang membuat Islam tidak maju-maju (stagnan).
Untuk konteks lokal (Indonesia) misalnya, persoalan tentang aliran Ahmadiyah, yang oleh sebagian umat Islam dianggap melecehkan agama Islam, telah memicu lahirnya konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik agama yang terjadi di Ambon, Poso, Maluku dan sekitarnya, juga menjadi bukti ketidakmampuan umat Islam indonesia dalam membedakan antara agama dan ilmu agama. Yang seharusnya sakral (agama) menjadi profan (fatwa), begitu sebaliknya.
Dalam realitas berkonflik inilah, teori ”penyusutan dan pengembangan interpretasi agama” memegang peran urgen. Inti dari teori ini menjelaskan bahwa agama bersifat sakral, suci, dan abadi. Sedangkan ilmu agama bersifat temporal, evolutif, dan bisa berubah sesuai dengan konteks zamannya. Ilmu agama inilah yang oleh Rahman disebut Islam Historis.
Dengan mengaplikasikan teori ini dalam konteks Islam masa kini, saya yakin, pemahaman muslim tentang agama (Islam) akan semakin tercerahkan sehingga diharapkan mampu meredam berbagai gejolak konflik yang masih dan akan berlangsung. Kejumudan berpikir, eksklusivisme, maupun fanatisme agama tidak akan menghantui pemikiran umat Islam lagi, sebaliknya, Islam inklusif akan terlahir. Semoga!

Magnum Opus Sang Medievalis

|




Magnum Opus Sang Medievalis
Oleh: Rizem Aizid


Judul buku : The Name of the Rose
Penulis : Umberto Eco
Penerjemah :Nin Bakdi Soemanto
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tebal buku : xxx + 624 halaman
Cetakan : I, 2008



Sejarah mencatat, Zaman Pertengahan di Barat merupakan Zaman keemasan bagi kekristenan sekaligus masa kegelapan bagi filsafat. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena pada abad itu alam pikiran Eropa berada (tunduk) di bawah payung agama (gereja). Kekuatan akal (rasio) harus tunduk pada wahyu (gereja), filsafat harus tunduk pada teologi, dll.
Pada masa-masa kegelapan itu, banyak filosof atau pakar ilmu pengetahuan yang menjadi korban kekejaman Gereja, karena pemikiran-pemikirannya dianggap melenceng dari agama (bidah). Pada abad pertengahan, filsafat yang berkembang adalah filsafat Plato dan Aristoteles yang dikristenkan. Tokoh-tokohnya adalah Thomas Aquinas dan Agustinus. Mereka adalah filosof kristen yang mencoba mengkristenkan ajaran-ajaran Plato dan Aristoteles.
Di pihak lain, intervensi Gereja di berbagai aspek, mulai dari filsafat, politik, sosial, hingga iman telah menimbulkan banyak perselisihan atau konflik, baik horizontal maupun vertikal. Konflik tidak hanya terjadi antara kerajaan dengan gereja, namun juga terjadi di dalam gereja, antara biara dengan biara. Beragam pembunuhan misterius pun terjadi dalam biara.
Bagaimana dan seperti apa kisah pembunuhan misterius yang muncul akibat konflik intern dalam biara itu terjadi?
Buku berjudul The Name of the Rose yang ditulis oleh Umberto Eco, ini berusaha merekonstruksi tragedi pembunuhan berantai yang tarjadi dalam biara Melk pada Abad Pertengahan. Lewat karya ini, Eco berhasil menyajikan ulang suatu kisah nyata di abad pertengahan yang hampir menjadi ”mitos”. Bisa dibilang, novel ini adalah Magnum Opus Umberto Eco. Sebab dari banyak buku yang telah ditulisnya, buku ini adalah karya terbesarnya tentang abad pertengahan. Di samping itu, metode intertekstualitas dan abduksi yang digunakannya menambah kekayaan data (informasi) tentang tema utama novel ini. Novel ini adalah novel detektif terbesar dan fenomenal.
Dalam pengantar buku ini dijelaskan, pada awalnya Eco sempat memberi judul novel ini dengan Abbazia del delitto (Biara Kejahatan), karena tema utama yang diangkat adalah kejahatan pembunuhan yang terjadi dalam sebuah biara. Akan tetapi, Eco lebih memilih The name of the rose (il nome dalam bahasa Italia, Nama Mawar dalam bahasa Indonesia) sebagai judul novelnya, karena dianggap mencakup semua persoalan yang diangkatnya, mulai dari kasus-kasus pembunuhan di Biara Melk dan penyelidikannya, budaya biara, sampai informasi-inforamasi penting tentang Abad Pertengahan. Oleh karena itulah, novel ini berjudul The Name of the Rose (il nome/Nama Mawar).
Di italia, il nome dapat menggaruk banyak konsumen dari berbagai segmen dengan kepentingan yang berbeda-beda. Orang-orang yang terlibat pada abad pertengahan pada umumnya, sejarah gereja (dan secara khusus sejarah ordo-ordo religius), kritikus sastra pasti tidak akan tahan untuk tidak membaca magnum opus ini.
Eco berhasil mengangkat tema lama bahkan tema yang jarang disentuh menjadi objek imajinasi yang menarik. Hal itu karena periode yang dikisahkan eco selama ini dianggap sebagai periode tradisional, gelap, atau pramodern yang jarang disentuh orang-orang modern. Di tangan medievalis (ahli abad pertengahan) dan novelis seperti eco, periode ini disajikan secara berbeda;unik dan menarik.
Tokoh utama yang diangkat Eco dalam cerita ini adalah seorang Fransiskan dari Jerman bernama Adso. Novel ini merupakan kesaksian dan memoar Adso ketika dia berada di Biara Melk pada tahun 1327 di akhir bulan November. Eco mengumpulkan serpihan-serpihan memoar atau tulisan Adso dari berbagai literatur. Oleh karena itu, metode yang dipakai Eco dalam menulis novel ini adalah intertektualitas. Dia menghubungkan satu teks dengan teks lain, dan bahkan tak canggung-canggung menggunakan sebuah teks mapan, ortodoks, doktrinal, dan bahkan biblis (di sini ia mengambil ayat dari Injil Yohanes). Hlm. Xiv
Kisah pembunuhan berantai yang terjadi di biara Benediktan Melk disajikan ke dalam tujuh pembahasan (tujuh hari). Hari pertama, Eco mengisahkan tentang kedatangan Adso dengan gurunya William Baskerville, seorang Inggris dengan tradisi intelektual oxford, ke sebuah biara Benediktan Melk. Tugas Adso ke biara tersebut adalah untuk meneliti kasus kematian seorang biarawan muda bernama Adelmo dari Otranto, seorang ilmuniator dalam perpustakaan biara Melk. Selain itu, Adso dan gurunya menjadi utusan raja dalam pertemuan yang akan diadakan di biara itu untuk mendamaikan antara kelompok Fransiskan (yang dekat dengan raja) dan kelompok Paus (dengan dukungan para Dominikan).
Hari kedua, hari ketiga, hari keempat, hari kelima, dan hari kenam, Eco mengisahkan tentang rentetan pembunuhan yang menimpa para petugas perpustakan di biara Melk. Mereka adalah Adelmo, Venantius, Berenger, Severinus, dan Maleakhi. Enam hari dari kedatangan Adso dan gurunya ke biara Melk belum membuahkan hasil dalam penyelidikannya. Akan tetapi, pada hari ketujuh, dia telah menemukan titik terang tentang pembunuhan misterius di biara tersebut. Dengan berlagak seorang detektif profesional, mereka berhasil mengungkap misteri kematian enam biara petugas perpustakaan itu. Dengan tersangka bernama Jorge de burgos, salah satu biarawan Melk.
Sebagai seorang storyteller yang ulung, Eco sukses menyuguhkan sebuah kisah (nyata) pembunuhan berantai yang rumit itu menjadi enak diikuti dan mudah dipahami. Sedangkan informasi-informasi tentang abad pertengahan yang disajikan secara selektif menunjukkan bahwa Eco adalah medievalis (ahli abad pertengahan) yang erudit.
Sungguh menarik membaca novel ini. Selain menyajikan informasi-informasi penting tentang abad pertengahan, buku ini juga mengajarkan kita bahwa kejahatan bisa muncul dari kesalehan. Dengan demikian, il nome bisa berfungsi sebagai cermin yang sedang mendeformalisasikan gambaran tentang dunia abad pertengahan selama ini, yakni dunia yang ditata sesuai dengan Aristoteleanisme yang sudah dikristenkan. Selamat membaca!

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB