Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia

|


Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia
Oleh: Rizem Aizid
Judul Buku : Intrik Dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY
Penulis : Tjipta Lesmana
Penerbit : Gramedia Jakarta
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : xxx + 396 halaman

Menurut para filsuf besar –semacam; John Locke, David Hume, hingga Jurgen Habermas-- seorang pemimpin (baca:presiden) harus mempunyai konsep komunikasi politik yang mapan (jelas). Sebab, keberhasilan dalam memimpin sebuah negara sangat bergantung pada konsep politik yang terukur. Tanpa itu, mustahil negara tersebut akan maju. Sejak era klasik hingga modern sekarang, berbagai konsep politik telah ditunjukkan oleh para penguasa pada zamannya. Kebesaran Roma pada abad pertengahan, kejayaan Nazi (kekejaman Hitler), atau keberhasilan Amerika Serikat menjadi negara adi kuasa merupakan salah satu bukti betapa urgennya sebuah komunikasi politik yang mapan dan terukur.
Habermas misalnya, menawarkan demokrasi deliberatif untuk menciptakan sebuah negara ideal. Sebuah konsep politik yang mampu menjembatani kesenjangan antara penguasa dan rakyatnya. Perlu diakui, setiap pemimpin memiliki tipe dan gaya komunikasi yang berbeda dan unik. Antara Julius Cesar, Hitler, dan J.W. Bush pun berbeda. Karena perbedaan itulah, ada negara yang maju dan berkembang. Pertanyaannya adalah; bagaimana dengan komunikasi politik yang diterapkan para penguasa Indonesia? Kenapa sampai saat ini belum ada satu presiden pun yang bisa memajukan bangsa ini?
Harus diakui, sejak Indonesia berdiri (1945) sampai sekarang, belum ada satu presiden pun (dari enam presiden) yang betul-betul me-merdeka-kan bangsa ini. Kita masih terpuruk, baik secara ekonomi, sosial, politik, keamanan, maupun SDA. Kenapa hal itu bisa terjadi? Buku ini akan mengurai jawabannya.
Buku berjudul Intrik dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY yang ditulis oleh Tjipta Lesmana ini mencoba membeberkan secara detail dan komprehensif tentang gaya kepemimpinan para penguasa Indonesia berikut komunikasi politiknya. Buku ini adalah buku pertama yang berani membeberkan kelemahan dan kelebihan enam presiden secara blak-blakan. Tipe kepemimpinan Soekarno dan Soeharto tentu berbeda dengan tipe kepemimpinan Megawati dan Gus Dur. Begitu pula Habibi atau SBY.
Dalam proses penulisan karyanya, Tjipta menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam (indept interview) kepada beberapa nara sumbernya. Ia melakukan seleksi super ketat pada para informannya untuk mendapatkan informasi yang betul-betul akurat dan tepat sasaran.
Ada dua puluh lima orang yang menyatakan kesaksiannya tentang komunikasi politik enam presiden yang tertuang dalam buku ini. Mereka semua adalah orang-orang yang dekat dan tahu seluk-beluk pribadi sang presiden pada masanya. Seperti; Oei Tjoe Tat (menteri di masa Soekarno) dan Sujono Sudarsono (staf Kementerian PU di masa Soekarno) adalah dua nara sumber tunggal yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Keduanya memberikan kesaksian secara detail tentang komunikasi politik sang proklamator. (hlm. 381).
Dari hasil pengamatannya, Tjipta mengelompokkan ke enam presiden ke dalam tiga kategori, yakni; Soekarno dan Soeharto dikategorikannya sebagai pemimpin otoriter. Habibie dan SBY menjalankan kepemimpinan demokratis. Sedangkan Megawati dan Gus Dur termasuk pemimpin tipe laissez faire atau delegatif.
Adapun dari sisi pesan komunikasi politik, Tjipta menggolongkan Soekarno dan Soeharto sebagai pemimpin yang fokus dengan visi dan misi serta action oriented. Habibie serupa (kendati lebih rendah kadarnya) karena ia terlecut untuk meningkatkan kemampuan organisasi (negara). Presiden Gus Dur dan Megawati mempunyai pesan politik yang tidak jelas. Sedangkan SBY gemar beretorika soal visi dan misinya. Khusus untuk Megawati dan SBY, Tjipta mengkategorikan keduanya memiliki pesan komunikasi yang ''menyimpang'' dari umum, yakni kerap mengeluh dan membalas kritik dengan kritik (hlm. 357).
Sebagai hasil observasi mendalam yang melelahkan, mengingat rentang waktu yang sangat panjang dari era Soekarno sampai SBY, membuat penulis mengalami kesulitan. Menurutnya, ada dua kendala yang menghambat proses pengumpulan data, yaitu; pertama, minimnya informan yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Saat ini, semua orang yang dekat dengan presiden pertama itu sudah banyak yang meninggal. Oleh karena itu, informasi-informasi tentang gaya kepemimpinannya hanya dikorek dari Oei Tjoe Tat dan Sujono Sudarsono. Kedua, pada masa SBY. Meskipun penulis mengumpulkan data sejak tahun 2002, ia hanya bisa menembus tiga nara sumber yang terkait dengan SBY, yakni Burhanuddin Napitupulu, Muladi, dan Juwono Sudarsono. (hlm. 386).
Menurut Tjipta, setelah melihat keenam gaya kepemimpinan mereka, ia menyimpulkan pada bagian akhir bahwa komunikasi politik Soeharto-lah yang paling efektif. Negara kita stabil, pembangunan ekonomi berhasil, dan kesejahteraan meningkat. Akan tetapi, kata Tjipta, semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial-ekonomi-politik yang tinggi.
Sungguh menarik membaca buku ini. Banyak keterangan-keterangan rahasia di balik kesuksesan para penguasa Indonesia, dari Soekarno sampai SBY, yang dipaparkan secara gamblang dan lugas kepada khalayak ramai. Kehadiran buku ini sangat penting, (1) mengingat pesta demokrasi akan digelar sebentar lagi, maka buku ini dapat menjadi acuan dasar bagi masyarakat dalam memilih pemimpin di masa yang akan datang. Pemimpin dengan konsep politik yang lebih mapan dari pada sebelumnya. (2) data-data disajikan secara akurat dan objektif berdasarkan nara sumber terpercaya. Akhirnya, semoga kehadiaran buku ini dapat menambah bahan referensi dalam menyongsong Indonesia yang lebih maju. Selamat membaca!

Demokrasi Deliberatif Untuk Indonesia

|


Demokrasi Deliberatif Untuk Indonesia
Oleh: Rizem Aizid

Judul Buku : Demokrasi Deliberatif: Menimbang ''Negara Hukum'' dan ''Ruang Publik'' dalam Teori Diskursus Habermas
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius, Jogjakarta
Edisi : Pertama, 2009
Tebal : 246 Halaman

Bagi sebuah negara, baik negara maju atau yang masih berkembang, sistem politik negara sangat penting. Sistem politik negara merupakan suatu filosofi hukum negara (ideologi) yang menjadi rujukan dalam menyelesaikan problematika kebangsaan. Ada banyak sistem politik negara yang berkembang dewasa ini, seperti; demokrasi, teokrasi, fasisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain. Indonesia, sejak sepuluh tahun terakhir ini, menjadikan demokrasi liberal sebagai filosofi hukum negara. Sebuah ideologi yang memberikan kebebasan tanpa batas kepada individu (rakyat).
Namun, sistem demokrasi liberal ternyata belum mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan di negeri ini. Terbukti, terorisme, korupsi, konflik antar suku dan agama, hingga kecurangan politik pun masih marak terjadi. Berdasarkan fakta yang ada, bisa dibilang, demokrasi liberal mengalami kebuntuan. Menurut Habermas, sistem demokrasi liberal memiliki dua kelemahan dasar, yakni mereduksi individu dari kelompoknya dan menciptakan individu-individu yang egoistis.
Kasus-kasus semacam terorisme, konflik agama, maupun korupsi merupakan contoh konkrit dari sikap egoistis individu tersebut. Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia mencari sistem baru yang bisa memecahkan berbagai persoalan kebangsaan. Sehingga, kerukunan, kesatuan, dan keutuhan benar-benar terjadi di negeri multikultur ini. Pertanyaannya kemudian; adakah filosofi hukum negara yang ideal untuk konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia ini?
Jawaban dari pertanyaan itu yang coba dijelaskan oleh buku ini. Buku berjudul Demokrasi Deliberatif: Menimbang “Negara Hukum” dan “Ruang Publik” dalam Teori Diskursus Habermas yang ditulis oleh F. Budi Hardiman, ini mencoba menawarkan solusi konkrit bagi persoalan-persoalan tersebut. Sebagaimana judulnya, F. Budi Hardiman menawarkan sistem Demokrasi Deliberatif sebagai filosofi hukum negara yang ideal untuk konteks Indonesia kekinian. Menurutnya, demokrasi deliberatif sangat pas menggantikan demokrasi liberal yang sudah usang dan tidak relevan dengan konteks masyarakat majemuk. Buku ini merupakan sebuah analisis sistematis dan kritis atas Teori Diskursus Habermas dan model ‘demokrasi deliberatif’-nya.
F.Budi Hardiman adalah pemikir Indonesia lulusan Jerman yang telah mempelajari pemikiran-pemikiran Habermas sejak era 90-an, khususnya pemikiran Habermas di bidang politik. Oleh karena itu, pengetahuannya tidak perlu diragukan lagi.
Di dalam buku ini, setelah menjelaskan Teori Diskursus dan penerapannya pada hukum dan negara hukum, penulis mengupas secara komprehensif pemikiran Habermas mengenai sirkulasi deliberasi politis dari kelompok-kelompok civil society dalam ruang publik menuju ke dalam sistem politik, termasuk problem agama dalam ruang publik dan gerakan-gerakan protes. Untuk memastikan pendiriannya, penulis menempatkan Teori Diskursus dalam konstelasi perdebatan antara liberalisme dan komunitarianisme di dalam filsafat politik kontemporer dan secara kritis memeriksa asumsi-asumsi Habermas untuk membuka diskusi lebih lanjut.
Menurutnya, demokrasi deliberatif merupakan sebuah konsep filosofi hukum Negara yang sangat cocok bagi Negara modern seperti Indonesia. Dengan mengintegrasikan teori diskursus (tindakan komunikatif) ke dalam ruang politik, demokrasi deliberatif (diyakini) mampu menjadi system demokrasi yang betul-betul demokratis. Dimana rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi dan kebijakan-kebijakan public diambil melalui proses komunikatif antar dua elemen Negara, yakni pemerintah dan masyarakat sipil. Dengan demikian, persoalan-persoalan konflik diyakini dapat teratasi.
Demokrasi deliberatif adalah suatu konsep politis (kenegaraan) yang mencoba meradikalkan konsep Negara hukum Klasik yang di gagas oleh Locke dan Rousseau dengan teori diskursus (tindakan komunikatif). Melalui proses radikalisasi ini, konsep demokrasi di Negara modern (Indonesia) akan menjadi landasan filosofis bagi terciptanya tatanan (integrasi) bangsa yang berasaskan kesamaan dan keadilan.
Habermas, yang kita kenal sebagai penerus teori kritis mazhab Frankfurt dan juga penerus tradisi kritis neo-marxis, berusaha menerapkan tindakan komunikatif dalam proses demokrasi di Negara modern. Dengan metode diskursus yang ditawarkannya, dia berhasil melahirkan konsep filosofi hukum Negara yang lebih adil, jujur, dan seimbang.
Baginya, Negara tidak hanya bertugas sebagai pengontrol hak-hak warganya sebagaimana yang diandaikan Locke dalam “Negara kecilnya” atau Negara sebagai pemegang otoritas tertinggi sebagaimana Hobbes mengandaikannya dalam konsep “Negara besar”. Tetapi, Negara dan rakyat adalah dua elemen yang memiliki hubungan erat. Di mana kebijakan publilk dihasilkan melalui proses komunikatif antar keduanya.
Catatan kritis di sini, demokrasi deliberatif tak hanya ''menuntut'' penyebaran hak-hak partisipasi, melainkan juga interaksi dinamis antara institusi-institusi resmi guna berkembangnya opini dan aspirasi politik yang tak terinstitusionalisasi (hal. 171).
Buku ini sangat menarik dibaca, terlepas dari sifatnya yang ''filosofis'' sehingga bagi sebagian besar pembaca dipastikan akan menganggapnya sebagai buku ''berat'', Analisis F. Budi Hardiman kali ini menawarkan sebuah model menarik untuk pemahaman dan praktik negara hukum demokratis dalam masyarakat Indonesia pasca-Suharto. Buku ini juga dilengkapi dengan teks hasil wawancara penulis dengan Habermas sendiri. Sebuah bacaan wajib bagi para politikus, aktivis HAM, dosen, aktivis sosial dan hukum, mahasiswa dan masyarakat luas yang peduli pada pentingnya esensi demokrasi dalam masyarakat majemuk.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat membantu Indonesia mengatasi persoalan-persoalan yang mengancam keutuhan NKRI. Selamat membaca!

Menguak Spirit Jihad Ilmiah ala Yudian Oleh: Rizem Aizid

|

Pemenang (Juara III) Lomba Resensi Nasional ‘Jihad Ilmiah Dari Tremas ke Harvard’ Prof. K. Yudian Wahyudi

Menguak Spirit Jihad Ilmiah ala Yudian
Oleh: Rizem Aizid
(Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Judul Buku : Jihad Ilmiah, Dari Tremas ke harvard
Penulis : Prof. L. Yudian Wahyudi, Ph. D.
Penerbit : Pesantren NAWESEA Press
Cetakan : revisi, Februari 2009
Tebal buku : xii + 187 halaman

Fenomena yang melanda dunia akademika PTAIN dalam beberapa puluh tahun belakang ini, adalah munculnya krisis intelektual di kalangan dosen-dosen PTAIN. Kebanyakan dari mereka hanya mementingkan ‘label’ dari pada ‘mutu’. Mereka bangga dengan gelar Master yang diperoleh dari kampus-kampus ternama di dunia. Akan tetapi, mereka lupa pada kewajiban ilmiahnya, yaitu menyumbangkan hasil pemikiran mereka demi kemajuan Islam Indonesia. Ironisnya, Krisis intelentual itu telah menyeret mereka ke dalam ‘lembah’ kemerosotan prestasi, baik ditingkat lokal maupun non-lokal (Internasional). Selain itu, salah satu faktor yang cukup mencolok adalah munculnya ‘kedengkian ilmiah’ dikalangan dosen PTAIN. Kedengkian ilmiah itu, dapat dilihat dari cara sebagian dosen PTAIN yang mencemooh dosen-dosen yang sedang kuliah di McGill University.
Komaruddin Hidayat atau Azyumardi Azra, misalnya, menganggap McGill sebagai kampus tak mutu. Kenapa? Karena McGill berada di urutan terakhir dari sepuluh besar kampus terbaik di dunia. Bukan nomor satu, bukan nomor dua, atau bukan nomor lima. Hal itu menyebabkan Internal Criticism merebak di kalangan dosen PTAIN. Dan masih banyak lagi selentingan-selentingan miring, yang semakin menjustifikasi kedengkian ilmiah mereka.
Berikutnya, krisis intelektual itu juga ditandai oleh maraknya ‘import ilmiah’ di PTAIN. Artinya, PTAIN banyak mendatangkan para pemikir dari Barat, seperti M. Arkoun, Edward W. Said, Hasan Hanafi, dll, untuk mempresentasikan tentang Islam Arab di Indonesia. Sementara, dosen-dosen lokal sendiri hampir tak berkutik. Tak ada dari mereka yang di ‘ekspor’ untuk memprentasikan Islam Indonesia di Arab atau Eropa apalagi Amerika (Barat). Jika diibaratkan, dosen PTAIN bagai ‘katak’ dalam ‘tempurung’.
Akan tetapi, kini, PTAIN bisa bernafas lega. Sebab, beberapa tahun ini ada salah satu, dan memang satu-satunya, dosen PTAIN yang menjadi sorotan dunia Barat. Sepak terjang ilmiahnya telah melampaui dosen-dosen lokal sekaliber Cak Nur atau Komaruddin Hidayat. Secara tidak langsung, ia telah mendongkrak prestasi-prestasi PTAIN, baik ditingkat lokal maupun non-lokal. Ya, Dia adalah Yudian Wahyudi. Seorang dosen UIN Sunan Kalijaga yang mendapatkan gelar Master di McGill University dan telah melanglang buana mempresentasikan sejumlah makalahnya di tingkat internasional. Sepak terjangnya di dunia akademik, patut diacungi jempol. Ia telah berhasil menjadi dosen PTAIN pertama, semoga bukan yang terakhir, yang mempresentasikan Islam Indonesia di Fransisco, Mesir, Oxford, bahkan Harvard. Bahkan, ia dengan leluasa mengkritik Oksidentalisme Hanafi di depan M. Arkoun dan E. Said, pada ajang penganugerahan Doktor Honoris Causa, di London. (lihat bab VIII).
Patut dipertanyakan; bagaimana bisa seorang dosen PTAIN yang menerima gelar Master dari McGill, yang menurut dosen-dosen PTAIN di cap sebagai kampus ‘buruk’, menjadi orang pertama yang mempresentasikan kajian desertasinya dan makalahnya di tingkat internasional? Bagaimana bisa seorang Yudian mampu menembus segi tiga dunia --Harvard Low School (Boston), The First World Congress for Middle Eastern Studies (Jerman), dan MESA (Washington, DC)? Sepak terjang Yudian itulah, yang oleh buku ini disebut ‘jihad ilmiah’.
Buku yang berjudul Jihad Ilmiah, Dari Tremas ke Harvard, ini menceritakan perjalanan panjang Yudian di pentas kompetisi intelektual Barat, yang disajikan secara lugas dan komprehensif. Bisa dibilang, buku ini adalah berjenis bibliografi, yang ditulis untuk mendokumentasikan jihad ilmiah yang telah dijalaninya. Jihad di sini dikaitkan dengan kerja keras ilmiah. Kerja keras yang diarahkan untuk menjawab external criticism dan internal criticism. Pertama, Jihad Ilmiah ingin membuktikan kepada ‘mahasiswa McGill’ bahwa dosen-dosen PTAIN bisa berprestasi di tingkat internasional. Kedua, ia ingin mengkounter cemoohan dosen-dosen PTAIN yang belum ke McGill atas Dosen-dosen yang sedang kuliah di McGill. Pada tahap ini, jihad bahkan dilancarkan untuk menghancurkan “tempurung” yang menutupi “katak”. Walhasil, dosen-dosen PTAIN yang dulu emoh pada McGill, justru sekarang mereka demam McGill.
Oleh karena itu, kedua kubu, dosen PTAIN dan McGill, patut berterima kasih pada Yudian karena prestasi yang ditorehkannya telah mengharumkan nama kedua kubu, PTAIN dan McGill University, dikancah internasional.
Lewat jihad ilmiahnya, Yudian telah membuktikan kompetensi dosen-dosen PTAIN di pentas kompetisi internasional. Namanya banyak dikenal para filsuf besar, seperti Hanafi, E. Said, M. Arkoun, dan lain-lain. Paling tidak, ia telah menjadi domba yang sukses di kandang harimau.
Secara keseluruhan, buku ini berkisah tentang perjalanan Yudian di pentas intelektual Barat. Bagaimana kerja kerasnya dalam mengubah tradisi dosen-dosen PTAIN dari ‘minus-ulama’ ke ‘ulama-plus’? bagaimana perjuangan dan spiritnya dalam menuntaskan disertasinya? Bagaimana perjuangannya berkompetisi dengan para intelektual Barat? Semuanya tersaji dari bab I sampai bab XI. Selain itu, ringkasan sejumlah makalah yang telah dipresentasikan di ajang-ajang bergengsi di Barat, seperti MESA, penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada M. Arkoun dan Edward W. Said, dan lain-lain, tersaji di buku ini.
Sebagian dari makalah yang dipresentasikannya, adalah kajian atas disertasinya dari bab 1, 2, dan 3. Dan beberapa topik tambahan. Ada enam topik yang dipresentasikan Yudian di pentas internasional, yaitu (1) Konstitusionalisasi Hukum Islam. (2) Filsafat Tantangan dan Kemukjizatan al-Qur’an. (3) Epistemologi Pembebas dari kesesatan al-Ghazali. (4) Dinamika Politik “Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah. (5) Rekonsrtuksi Peradaban Islam dan kritik atas Oksidentalisme Hanafi (6) Kritik Atas Teori geo-Epistemologi Al-Jabiri.
Dari enam topik di atas, topik yang cukup menarik, adalah tentang Oksidentalisme Hasan Hanafi yang dipresentasikan di depan dua raksasa dunia: orientalisme dan oksidentalisme (M. Arkoun dan E.W. Said). Dalam presentasinya, Ia mengkritik sikap Hanafi terhadap Barat. Yang menjadi objek kajiannya adalah muqaddimah, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai Oksidentalisme Hanafi.
Sebuah lompatan intelektual yang cukup jauh, di tengah ‘demam’ Oksidentalisme Hanafi di tingkat dosen PTAIN, ia justru melawan arus. Ia mengkritik oksidentaslime Hanafi tersebut. Menurutnya, Hanafi telah terjebak pada westernisasi, lebih khusunya ‘orientalisme terbalik’. Ia mengkritik orientaslisme sebagai perusak peradaban timur. Akan tetapi, Hanafi justru menggunakan epistemologi orientalis dalam karyanya Muqaddimah. Ia telah terjebak pada dualisme yang ketinggalan zaman. Dualisme Hanafi telah menyembunyikan pola-pola dominasi internal (self) yang terkadang jauh lebih buruk dari dominasi eksternal (other). ‘Kita’ menuduh ‘mereka’ melakukan konspirasi melawan ‘kita’, padahal kenyataannya berbagai perang saudara ‘kita’ jauh lebih mengancam. Ini adalah salah satu kegagalan Oksidentalisme Hanafi, sebagaimana terpapar dalam buku ini. Kegagalan lain Hanafi adalah, ia kehilangan daya obyektivitasnya. Ia telah menggunakan epistemologi orientalisme (yang sangat ia kritik) dalam oksidentalismenya, sehingga oksidentalismenya tak ubahnya wajah lain dari orientalisme. Menurut Yudian, Oksidentalisme Hanafi merupakan bentuk lain Orientalisme.
Sisi lain yang menarik dari jihad ilmiah ala Yudian adalah, ia berani melakukan kerja ilmiah yang sangat berat. Yaitu, mengkomparasikan tiga pemikiran tokoh (Hanafi, Al-Jabiri, dan Cak Nur) di tiga negara Islam besar (Mesir, Maroko, dan Indonesia) sebagai kajian disertasinya. Hal ini yang belum pernah dilakukan oleh dosen-dosen PTAIN sebelumnya. Cak Nur, misalnya, hanya mengkaji satu tokoh yakni Ibn Taimiyah dalam disertasinya.
Kenapa saya bilang kerja keras? Karena selain harus keliling dunia untuk mengumpulkan data-data primer, juga harus bertemu langsung dengan sang tokoh. Kecuali (almarhum) Cak Nur. Bab I, Yudian mengangkat tema; The Slogan ‘Back to the Qur’an and the Sunnah’ as the Idela Solution to the Decline of Islam in the modern Age (Dinamika Politik Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah di Mesir, Maroko, dan Indonesia). Pada bab ini, ia membandingkan enam pemikiran tokoh dari masing-masing negara tentang slogan ‘Kembali Kepada al-Qur’an dan Sunnah’. Pada bagian ini, ia dituntut untuk, paling tidak, mengetahui atau menguasai keenam tokoh tersebut.
Sedangkan untuk bab II, ia membutuhkan kerja keras dalam mempelajari pemikiran tiga pembaru Islam, Hanafi, Al-Jabiri, dan Nurcholis Madjid. Begitu pula pada bab III, ia harus menerjemahkan beberapa buku asli Hanafi, yang salah satunya berjudul “The Hermeneutics of the Return to the Qur’an and Sunnah”. Untuk menjajagi kadar ke-ilmiah-an disertasinya.
Menurut hemat saya, buku ini memiliki banyak kelebihan daripada kelemahannya. Pertama, buku ini dapat mendongkrak semangat dosen-dosen atau calon dosen PTAIN sebagai calon intelektual muslim masa depan. Kedua, buku ini menyajikan petualangan yang sangat menarik, yang belum dilakukan orang lain sebelumnya. Ketiga, buku ini telah mendongkrak prestasi PTAIN di pentas lokal maupun internasional. Keempat, orang yang membaca buku ini akan termotivasi untuk melakukan hal yang pernah dilakukan penulis dalam jihad ilmiahnya. dan kelima, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto eksklusif sewaktu Yudian berada di Barat. Sedangkan untuk kelemahannya, buku ini hampir tidak memilikinya. Kecuali pada masalah tekhnis percetakan saja.
Setelah membaca buku ini, timbul pertanyaan dalam benak saya; kapan saya bisa seperti Yudian? Dan apakah saya bisa melakukan “jihad ilmiah” seperti yang dilakukannya? Semoga dengan membaca buku ini, muncul “Yudian-Yudian” baru dengan spirit “jihad ilmiah”nya di masa yang akan datang. Selamat membaca!


Politik Santri Merebut Hati Rakyat

|

Politik Santri Merebut Hati Rakyat
Oleh: Rizem Aizid

Judul buku : Politik Santri, Cara Menang Merebut Hati Rakyat
Penulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Impulse, Kanisius, 2009
Tebal : 304 halaman

Diakui atau tidak, Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Lebih dari tujuh puluh persen dari total penduduknya memeluk agama islam. Berdasarkan realitas itu, secara otomatis, kuantitatif kaum santri jauh lebih besar dari non-santri. Artinya, kaum santri memiliki posisi signifikan dalam peta pemikiran di negeri ini. Baik itu dibidang politik, sosial, keagamaan, maupun budaya. Untuk mempertahan eksistensinya, mereka memilih bergabung dengan partai-partai politik yang ada, baik yang berbasis Islam, ideologi sekuler, maupun nasionalis.
Meskipun anak-anak muda santri menempati posisi urgen dalam suatu partai politik, namun realitas menunjukkan bahwa partai politik kaum santri hampir selalu gagal merebut simpati rakyat. Dukungan yang datang kepada mereka tidak sebanding (lebih kecil) dengan kuantitatif eksistensi mereka di tanah air. Partai politik santri seakan mengalami stagnasi (baca:mati) di pentas perpolitikan negeri ini. Patut dipertanyakan, ada apa dengan partai politik santri? Kenapa, dengan jumlah kuantitatif yang begitu besar, partai ini tidak bisa merebut hati rakyat, yang nota bene berasal dari kaum santri itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu dicoba dijawab secara historis-kritis oleh Abdul Mnuir Mulkhan lewar karyanya yang berjudul Politik Santri, Cara Menang Merebut Hati rakyat. Buku ini mencoba memberikan ulasan kritis dengan mengingat realitas historis tentang partai politik kaum santri. Tulisan-tulisan yang tersaji di dalamnya merupakan kumpulan artikel yang pernah ditulis oleh penulis di beberapa media nasional dan lokal di Indonesia. Lewat buku ini, penulis mengajak pembaca untuk menengok kembali peristiwa politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan dalam rangka membangun dan merancang kembali masa depan dunia yang lebih baik. Penulis hendak memposisikan peran partai politik kaum santri diantara banyak partai-partai politik yang bersaing untuk memperubutkan hati rakyat.
Menurut penulis, masa depan suatu partai politik, baik yang dibangun di atas fondasi teologis, budaya lokal, atau ideologi sekuler, pada akhirnya ditentukan oleh satu hal, yakni komunikasi yang massif dengan publik pemilih. Komunikasi itulah yang akan menentukan seberapa besar dukungan yang akan didapat oleh sebuah partai. Artinya, sebuah partai politik bisa merebut hati rakyat dengan memaksimalkan komunikasi politik yang baik. Dengan begitu, akan ada kesamaan pemahaman antara partai politik dengan rakyat pemilih. Salah satu penyebab kegagalan partai politik kaum santri dalam merebut simpati rakyat, adalah karena mereka kurang menaruh perhatian pada kebutuhan komunikasi politik.
Secara praktis, anak-anak muda santri tak bisa dilepaskan dari yang namanya pesantren. Sebab, dari sanalah mereka berasal. Peta pemikiran mereka, baik di ranah politik, sosial, maupun keagamaan, sangat dipengaruhi oleh basis ke-pesantren-annya. Oleh sebab itu, partai politik kaum santri harus memaksimalkan pesantren sebagai wadah mencari simpati rakyat.
Dunia pesantren merupakan sisi lain dari partai politik kaum santri. Eksistensinya sangat menentukan sebuah partai untuk menggaet dukungan rakyat sebanyak mungkin. Sejarah membuktikan, partai-partai politik yang mendapatkan dukungan terbanyak (calonnya lolos ke kursi parlemen misalnya) adalah partai politik yang dekat dan atau mendapat dukungan dari pesantren. Sebab, meski sekarang adalah era globalisasi, namun masih banyak (mayoritas) masyarakat muslim Indonesia yang patuh pada pesantren (baca:kiai). Ke partai mana pesantren itu mengepakkan sayapnya, ke partai itulah masyarakat santri menjejakkan kakinya.
Di dalam buku ini, sisi historis partai politik kaum santri juga mendapatkan porsi khusus. Misalnya partai-partai islam awal kemerdekaan, yakni Masyumi dan NU. Menurut penulis, ada dua peta besar kehidupan sosial-budaya generasi baru santri, yaitu konservatif dan liberal.
Fenomena menarik lain yang diungkap buku ini adalah lahirnya partai islam baru dan gerakan sosial islam baru. Partai islam baru tersebut tidak mempunyai hubungan kultural dengan partai islam awal kemerdekaan. Partai-partai dan gerakan-gerakan baru itu tertumpu pada dua peta pemikiran sosial-budaya kaum santri (konservatif dan liberal). Di satu sisi, berorientasi untuk mempertahankan ajaran-ajaran islam sesuai dengan al-quran dan Sunnah. Sedangkan di sisi lain, berorientasi pada upaya pembaharuan pemikiran islam demi mencapai kembali kemajuan (kejayaan) peradaban islam, yang pernah dicapai, di masa lalu.
Pada dua cabang pemikiran di atas, anak-anak muda santri melebur ke dalam berbagai partai sekuler, nasionalis, dan islam. Salah satu contoh partai islam baru yang mengembangkan identitas modernis-tradisionalis, adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selain itu, Gerakan-gerakan islam yang menjadi wadah politik kaum santri, diantaranya; Jaringan Islam Liberal (JIL), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Hizbut Tahrir, Kammi, Majelis Mujahidin, dan lain-lain. Ketiga yang terakhir merupakan gerakan sosial islam yang dikenal dengan gerakan fundametalis.
Sungguh menarik membaca buku setebal 304 halaman ini. Selain menyuratkan fakta-fakta dan data-data tentang perkembangan politik kaum santri lama dan baru, buku ini juga menyiratkan pesan bahwa partai politik santri harus bangkit dan merebut kembali kejayaan partai politiknya. Bagaimana partai politik santri bisa merebut hati rakyat? Adalah dengan memaksimalkan peran komunikasi politik, yang selama ini dilupakan. Oleh karena itu, buku ini penting dibaca oleh semua kalangan, terutama anak-anak muda santri di berbagai partai dan gerakan politik baru.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat mengubah pandangan dan perilaku politik kaum santri ke arah yang lebih “cair” dan mapan. Selamat membaca!

Patrol Banyuwangi, Pudarnya Musik Tradisional di Tengah Modernitas

|

Patrol Banyuwangi, Pudarnya Musik Tradisional di Tengah Modernitas
Oleh: Rizem Aizid

Patrol merupakan musik tradisional rakyat khas Banyuwangi yang tergolong jenis musik hiburan. Penampilannya pun hanya dilakukan sekali dalam setahun, yaitu pada saat bulan Puasa. Patrol digunakan masyarakat Banyuwangi untuk meronda memeriahkan dan menyemarakkan suasana malam bulan Puasa. Adapun pelaksanaannya dimulai sekitar tengah malam dan berakhir pada menjelang pukul 3 pagi, pada saat orang yang berpuasa bersantap “sahur”. (Ensiklopedi Seni Musik dan Seni Tari Daerah, Laporan Penilitian dan Pencatatan Kebudayaan Jawa Timur, tahun 1996/1997, hal : 192 ).
Selain patrol, kesenian tradisional rakyat Banyuwangi sangat beragam. Ada Jaranan Banyuwangi, Janger, Pacul Goang, Terbang Gending, dan lain-lain. Dari sekian kesenian musik tradisional Banyuwangi itu, Patrol termasuk salah satu jenis musik tradisional yang tetap bertahan (eksis) di tengah goncangan modernisasi. Artinya, musik patrol masih banyak diminati masyarakat (tradisional), selain karena keunikan simbolisasinya (pakaian, alat-alat musik,dll) juga karena mengusung makna filosofis yang sangat menyentuh hati. Nilai-nilai natural-filosofis kesenian tradisional ini terletak pada gaya (style) permainan dan lantunan musiknya. Untuk itu, tulisan ini akan sedikit menggambarkan musik tradisional rakyat Banyuwangi dalam bentuk seni-musik Patrol.
Dalam sejarahnya, Kesenian tradisional (Patrol) memiliki banyak keistimewaan dan keunikan dalam bentuk dan symbol yang diusungnya. Mulai dari symbol fisik (seragam yang dipakai) sampai symbol non-fisik (pesan-pesan moral). Salah satu keunikan itu adalah sisi naturalisme musik tradisional yang tidak terdapat pada musik-musik pop-modern.
Harus diakui, kemajemukan bangsa Indonesia tidak hanya pada ranah agama, etnisitas, maupun budaya. Kesenian tradisional berupa musik dan tarian, juga menjadi bagian penting dalam kemajemukan tersebut. Oleh karena itu, Indonesia harus bangga dengan kekayaan budaya-seni yang dimilikinya. Kebudayaan dan kesenian itu perlu untuk selalu dilestarikan dan dijaga dari “kolonialisasi” budaya-pop Barat.
Kesenian musik Patrol memiliki kekhasan lantunan musik yang tidak dimiliki musik-musik pop masa kini. Bukan karena alat-alat musik patrol yang terbuat dari bamboo, tetapi karena bunyi yang dihasilkannya mampu menyatukan manusia (pendengar) dengan alam semesta. Boleh dibilang, patrol adalah musik tradisional ke-alam-an.
Keindahan lantunan musik patrol menawarkan sensasi-sensasi melebihi musik-musik pop-modern. Bagi para pendengarnya, patrol dapat membuat mereka seakan-akan menyatu dengan alam. Oleh karena keunikan itulah, patrol masih dilestarikan (eksis) dalam masyarakat modern Banyuwangi.
Dalam realitas saat ini, musik tradisional patrol masih mampu menunjukkan eksistensinya di tengah kepungan budaya pop-modern. Memang, ketenaran dan “ngtrenitas” patrol masih jauh tertinggal dari musik-musik pop-modern seperti Dang Dut, Pop, Rock, Gendang Kempul, dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketertinggalan itu tidak membuat patrol Banyuwangi tenggelam atau terlarut dalam genangan modernitas dan globalisasi. Justru sebaliknya, adalah tantangan bagi kesenian tradisional patrol untuk tetap eksis.
Tenggelamnya Nilai-Nilai ke-Alam-an Musik Patrol
Patrol mempunyai nilai-nilai filosofis ke-alam-an dalam setiap dentuman bunyinya. Hal itulah yang mengkibatkan musik patrol masih digemari masyarakat Banyuwangi. Jika dicermati secara mendalam dan menyeluruh, musik tradisional ini, secara tersirat, berusaha menyadarkan manusia (kita) bahwa manusia dan alam adalah satu dan bersifat mutualisme (saling membutuhkan). Keduanya memiliki kesamaan yang padu. Untuk itu, hubungan antara manusia dengan alam harus seimbang. Artinya, manusia tidak boleh merusak alam jika tidak ingin dirusak oleh alam.
Namun sayangnya, nilai-nilai filosofis tersebut tidak banyak diketahui orang. Selama ini, orang hanya menjadikan musik patrol sebagai musik untuk memeriahkan ronda malam. Patrol seakan sudah kehilangan ruh ke-alam-annya. Oleh karena minimnya pamahaman masyarakat terhadap nilai-nilai filosofis-humanis yang ada dalam patrol itulah, musik ini menjadi sekadar musik mainan belaka.
Di samping itu, adanya pergeseran budaya masyarakat tradisional akibat arus globalisasi dan modernitas yang tidak dapat dibendung, semakin menenggelamkan pamor patrol sebagai musik tradisional dalam belantara musik domestic. Musik patrol harus bersanding dengan musik pop-modern seperti Dangdut, Pop, Rock, dll. Hasilnya sangat jelas sekali, patrol berada jauh dibelakang. Masyarakat, tepatnya kaum muda, lebih memilih musik pop-modern ketimbang musik tradisional. Sebab, musik tradisional dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak mode.
Perlu diakui, Nilai-nilai humanisme dan naturalisme yang diusung musik patrol saat ini sudah hampir tidak kelihatan lagi. Pasalnya, orang hanya menjadikan musik ini sebagai musik untuk bersenang-senang, bukan menikmati secara mendalam. Oleh karena itu, kesenian musik tradisional masyarakat Banyuwangi tersebut sudah mengalami pergeseran budaya (paradigma). Dalam hal ini, Ada dua tipologi budaya yang berbeda. Pertama, tipologi masyarakat tradisional yang menempatkan musik patrol sebagai musik tradisional dengan berbagai keunikan dan keistimewaan serta pesan-pesan moral tradisionalnya. Kedua, tipologi masyarakat hedonis (modernis). Mereka menempatkan musik patrol hanya sebatas musik tradisional untuk kesenangan semata.
Dari dua tipologi itu, dapat disimpulkan bahwa pergeseran budaya pada musik patrol diakibatkan oleh arus budaya pop masa kini. Akibatnya, kesenian musik tradisional patrol tidak lagi se-tenar beberapa puluh tahun atau abad yang lalu, dimana modernitas dan globalisasi masih belum menggilas kebudayaan masyarakat Banyuwangi. Apapun itu, yang parlu dilakukan saat ini adalah melestarikan dan menjaga agar kesenian tradisional patrol tetap eksis dalam kepungan modernitas.
Patrol VS Pop, Budaya Tradisonal VS Budaya Modern
Jamak diakui, budaya tradisional dan budaya modern merupakan dua jenis kebudayaan kontradiktif yang tumbuh dalam masyarakat. Di satu pihak, masyarakat masih mengedepankan nilai-nilai etis, moral, dan tradisi dalam setiap aktivitasnya. Di sini, nilai-nilai tradisional berada di atas segalanya. Sedangkan di lain pihak, nilai-nilai tersebut tidak begitu berarti dalam pergaulan masyarakat modern. Perlu diketahui, dalam realitas masyarakat modern, nilai-nilai tradisional (norma, etis, moral, dan tradisi) tidak lagi dinomorsatukan.
Demikian pula yang terjadi pada kesenian tradisional patrol. Nilai-nilai etis, moral, dan tradisi masih sangat kental. Akan tetapi, kekentalan nilai-nilai tersebut tidak bisa menandingi budaya pop-modern. Musik-musik modern-hedonistis yang notabene mematikan nilai-nilai tradisional sangat digemari oleh kaum muda ‘hedon’ modern. Kematian nilai-nilai tradisionalitas itu sangat tampak pada beberapa jenis musik modern, seperti Dang dut, Hip Hop, dll. Sebagaimana kita ketahui, musik Dang Dut saat ini sudah tidak lagi mengindahkan tata norma masyarakat tradisional.
Dalam perkembangannya, Dang Dut yang kini mulai digemari masyarakat Indonesia telah kehilangan ruh tradisionalitasnya. Hal itu dapat dilihat dari simbolisasi permainannya. Misalnya, mempertontonkan sensualitas, busana (pakaian) yang serba terbuka dan mini, goyangan tubuh yang melanggar norma, dan lain-lain.
Mungkin masih segar dalam ingatan kita tentang kasus-kasus penyanyi Dang Dut yang baru-baru ini dikecam masyarakat luas. Ada Inul Daratista, Dewi Persik, Trio Macan, dan teman-teman sejenisnya. Mereka telah mencemarkan nama baik musik Dang Dut. Musik yang dulunya menghormati tata norma tradisional, kini telah berani tampil buka-bukaan. Karena merekalah, musik Dang Dut tidak lagi mengindahkan tata norma atau adat masyarakat tradisional.
Berbeda dengan jenis musik patrol. Musik ini masih kental dengan aroma khas tradisionalitasnya. Meskipun pada perkembangan terkini, musik patrol juga sedikit mengalami perubahan (agak kemodernan). Akan tetapi, itu tidak menghilangkan ruh tradisionalitasnya.
Hal semacam ini tidak hanya menimpa kesenian musik patrol di Banyuwangi, banyak kesenian tradisional lainnya yang masih bertahan dengan nilai-nilai tradisionalitasnya. Seperti, Jaranan, Zapin Melayu, Kentrung, Kerapan Sapi (Madura), dan kesenian tradisional lainnya. Akhirnya, semoga patrol Banyuwangi mampu menunjukkan taringnya (eksis) di tengah berbagai terpaan gelombang modernitas dan globalisasi di Indonesia. Amin!

Menggagas Ulang Makna Republik

|

Menggagas Ulang Makna Republik
Oleh: Rizem Aizid

Judul Buku : Republikanisme dan Keindonesiaan, Sebuah Pengantar
Penulis : Robertus Robet
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, 2007
Tebal Buku : xiv + 140 Halaman

Republik adalah sebuah label yang kerap dipakai oleh Negara-negara modern. Republic menjadi prasyarat fundamental dari pendirian komunitas bersama bernama Negara. Dalam konteks ini, Republic merupakan fondasi bagi pendirian sebuah Negara-bangsa yang kokoh. Pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang Republic sangat penting, sebab maju atau tidaknya sebuah nation-state ditentukan oleh penerapan system Republic yang baik dan benar.

Di Indonesia, banyak masyarakat yang belum mampu memahami secara utuh makna republic. Ironisnya, ketidakmampuan memahami itu telah membawa Indonesia pada sebuah fase kemunduran. Perpecahan wilayah, konflik daerah, korupsi, pelanggaran HAM, dan lainnya adalah bukti konkret ketidakmampuan Indonesia menangkap makna dan semangat yang di usung “Republic”.

Indonesia sebagai Negara republic belum mampu menangkap pesan-pesan moral yang ada di balik konsep tersebut. Politik, moralitas, demokrasi, kebersamaan, kesertaan, dan universalitas adalah bagian-bagian penting (baca:spirit) yang tersembunyi dalam republik. Semangat itulah yang berusaha diungkap buku ini. Tujuan republic adalah menegakkan keadilan hukum dan membentuk politik yang bermoral. Untuk itu, adalah perlu merumuskan ulang makna “Republic”.

Buku berjudul Republikanisme dan Keindonesiaan yang ditulis oleh Robertus Robet, ini berupaya menghadirkan kembali semangat dan pemahaman utuh dan menyeluruh akan konsep Republic di Negara ini. Tujuannya adalah agar kita mampu menangkap pesan di balik penggunaan kata Republik oleh para pendiri negeri ini. Mengapa republic dan bukan yang lain? Buku ini merupakan pengantar yang menjelaskan secara komprehensif konsep republic mulai dari Aritoteles, Cicero, Machiavelli, Harrington, Hannah Arend, hingga Hatta (republikan Indonesia).

Selama ini, Pengetahuan kita tentang Republic merupakan taken for granted. Dalam buku ini dijelaskan tentang pengertian republic dan republikanisme beserta hubungannya dengan demokrasi dan politik sebuah Negara. Secara garis besar, republikanisme dalam buku ini diartikan sebagai “prinsip-prinsip atau ajaran dan teori mengenai pemerintahan republic.” Sementara republic sendiri diartikan sebagai “suatu komunitas politik bersama yang diorganisir oleh pemerintahan yang mendasarkan diri pada prinsip demokrasi, termasuk system perwakilan yang diadakan dengan kesepakatan untuk mengabdi pada pencapaian tujuan-tujuan hidup bersama yang baik di bawah prinsip hukum dan persamaan.” (hlm.4)

Berangkat dari definisi tersebut, kita dapat melihat bahwa Indonesia saat ini betul-betul kehilangan spirit Republic. Bangsa ini belum mampu menangkap dan memahami makna yang tersirat di balik konsep tersebut. Dalam system republic, politik adalah etika. Karena politik selalu mensyaratkan kepentingan umum, kebersamaan, dan kesertaan. Oleh karena itu, politik adalah juga republic.

Menurut penulis buku ini, Hatta adalah satu-satunya tokoh yang sangat antusias pada system republic. Dia adalah penggagas republic Indonesia. System republic yang diandaikan Hatta adalah terciptanya perpolitikan bangsa yang dilandaskan pada nilai-nilai etis (moralitas). Demokrasi yang didengung-dengungkan harus menjunjung nilai universalitas dan kebersamaan. Namun sayangnya, idealisme Hatta tersebut belum tercapai hingga saat ini. Indonesia, secara esensial, belum menjadi Negara republic. Hal itu dapat di lihat dari bobroknya moralitas bangsa dan kacaunya perpolitikan negeri ini.

Secara teoritis, republic yang digagas oleh Aristoteles dan Cicero sangat berguna untuk membersihkan politik dari berbagai kepentingan pribadi. Republikanisme, menurut kedua tokoh ini, berusaha menjawab persoalah-persoalan utama tentang bagaimana keadilan berelasi dengan politik? (hlm17)

Dalam konsep zoon politikon (manusia adalah makhluk politik)nya, Aristoteles berupaya membersihkan politik dari kepentingan terselubung (pribadi). Inti doktirn zoon politikon adalah dunia politik menaruh perhatian pada pembangunan penuh karakter warga. Melalui politiklah, warga menjabarkan keutamaan moral, dan dari situlah keadilan baru bisa tercapai.

Dalam konteks yang lebih modern, republic berdiri pada tiga landasan pokok, yaitu; Pertama, republic merupakan sebuah konsep yang memisahkan antara pemerintah dan masyarakat, yang umum (public) dan yang privat (pribadi). Dalam arti bahwa masyarakat dan kepentingan umum (public) adalah yang utama (prioritas), sedangkam pemerintah dan kepentingan pribadi adalah untuk melayani kepentingan public (masyarakat).

Kedua, lembaga kepartaian politik harus berfungsi sebagai penyalur aspirasi rakyat (publik). Dalam artian bahwa berdirinya beragai parpol di Negara republic adalah semata-mata untuk melindungi rakyat dari kezaliman penguasa. Dengan kata lain, kepentingan umum adalah kepentingan parpol.

Ketiga, republic adalah demokrasi. Demokrasi merupakan system pemerintahan yang inklud dalam republic. Dimana ada republic, di situ ada demokrasi. Dalam hal ini, keikutsertaan masyarakat (public) dalam membangun nation-state atau menentukan kebijakan negara adalah wajib. Karena Negara adalah milik rakyat dan pemerintah hanyalah tangan rakyat.

Tiga landasan filosofis tersebut, merupakan basic struktur (meminjam Marx) dari sebuah bangunan republic. Jika fodasinya tidak kokoh, maka bangunan republic akan roboh dan hancur. Oleh karena itu, konsep republic harus ditopang oleh dua kekuatan, yaitu demokrasi yang demokratis dan politik yang bermoral.

Konsep republic yang ditawarkan Hatta --sebagai republikan Indonesia—merupakan konsep yang mencakup dua kekuatan tersebut. Politik bagi Hatta memiliki fungsi intrinsik yang mulia, yakni perbuatan kenegaraan demi kesejahteraan Negara dan masyarakat (hlm 112). Dalam artian ini, politik yang dipahami Hatta adalah politik sebagaimana para filsuf moral memahaminya semenjak Aristoteles.

Sungguh menarik sekali membaca buku setebal 140 halaman ini. Selain kita disajikan hal-hal (pengetahuan) baru tentang konsep republic, buku ini juga memberikan tawaran konkret bagaimana menghidupkan semangat republic di Indonesia. Untuk itu, buku ini sangat penting bagi masyarakat, khususnya pemerintah, untuk menggagas ulang makna republic dalam konteks keindonesiaan. Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat memberikan pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap konsep Republik di negeri ini. Selamat membaca!

Pengantar Singkat Memahami Agnostik Dan Gnostik

|


Pengantar Singkat Memahami Agnostik Dan Gnostik

Pendahuluan

Kajian bidang teologi, memang tidak bisa dilepaskan dari perdebatan seputar Tuhan, Eksistensi Tuhan, dan hal-hal metafisis atau transenden lainnya. Diskursus seputar ketuhanan tidak pernah menemukan satu pemahaman yang benar-benar final. Sebab, banyak kalangan (filosif dan teolog) yang masih berselisih pendapat tentang diskursus ini.
Memang, berbicara tentang Tuhan adalah berbicara masalah keyakinan masing-masing individu yang tidak bisa diganggu gugat atau di intervensi oleh individu lain. Oleh karena itu, persoalan-persoalan agama yang paling fundamental dan ekstrem telah menyebabkan pecahnya agama ke dalam banyak aliran atau sekte-sekte religius.
Ironisnya, sekte-sekte atau aliran dalam agama ini tak jarang menimbulkan konflik keagamaan. Baik konflik intern maupun ekstern. Hal itu, menurut saya, di picu oleh ketidaksepemahaman tentang konsep dan ajaran masing-masing sekte tentang agama (Tuhan).
Agnostic dan Gnostik yang akan dibahas dalam makalan ini merupakan dua aliran yang lahir dari ketidakpuasan manusia atas ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh suatu agama tentang Tuhan. Tulisan ini berusaha memaparkan bagaimana pandangan aliran agnostic dan gnostik tentang Tuhan dalam keberagamaan manusia?
Tulisan ini merupakan sebuah pengantar menuju pemahaman konsep kaum agnostic dan gnostik dalam wilayah filosofis. Dengan tulisan ini, diharakan pembaca akan semakin tepancing dan tertarik untuk lebih mendalami ajaran atau pandangan kaum agnostic dan gnostik secara komprehensif dan detil. Pendekatan deskriptif-historis yang digunakan saya dalam tulisan ini, semoga mampu meluruskan kekeliruan pemahaman kita saat ini tentang kedua aliran tersebut.
Minimnya sumber rujukan atau referensi dan penguasaan materi yang kurang memadai, membuat tulisan ini banyak kekurangan dan harus disempurnakan dikemudian hari. Oleh karena itu, tulisan ini bukanlah satu-satunya tulisan yang membahas tentang pandangan agnostic dan gnostik tentang Tuhan (agama) secara komprehensif. Maka itu, dengan lahirnya tulisan ini, saya harap pembaca dapat mengembangkan sendiri pemahaman tentang kedua aliran itu. Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita tentang pandangan agnostic dan gnostik tentang Tuhan.
Sekilas tentang paham Agnostik/Agnostisisme
Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis yang berkeyakinan bahwa suatu nilai kebenaran dari sebuah klaim tertentu –umumnya yang berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dsb—adalah tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostic mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dpat mengetahui secara definitive pengetahuan tentang “ Yang Absolut” atau dapat dikatakan jugabahwa wallaupun perasaan secara subjektif dimungkinkan, namun secara objektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi (dibuktikan kebenarannya). Dalam kedua hal itu, maka agnostikisme mengandung unsure skeptisisme1.
Agnostisisme berasal dari bahasa Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya adalah “seseorang yang tidak mengetahui”. Perlu digarisbawahi bahwa agnostisisme tidak sama dengan ateisme.
Memang, perbedaan tipis antara agnostikisme dengan ateisme telah membuat orang salah paham dan hamper menyamakan keduanya. Padahal, letak perbedaan antara agnostikisme dan ateisme adalah dalam hal keyakinan atau pengakuan akan eksistensi Tuhan dan agama manusia. Kaum agnostic mengakui agama dan eksistensi Tuhan,sedangkan kaum ateis tidak mengakui keduanya secara simbolik.
Agnostikisme merupakan kebalikan dari gnostikisme (yang akan dibahas pada sub bab berikutnya). Agnostikisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada, tetapi kita tidak dapat menjangkau atau mengetahui keberadaan, sifat-sifat, dan dzat Tuhan dengan kemampuan akal. Sebab, kemampuan akal manusia itu terbatas. Menurut saya, pandanga seperti ini hamper mirip atau sama dengan kaum deisme yang menganggap bahwa Tuhan itu berada jauh dari manusia. Artinya, manusia tidak dapat mengetahui banyak informasi tentang Tuhan secara detil.
Berbeda dengan ateisme, golongan ini jelas-jelas menafikan adanya Tuhan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, mereka termasuk golongan yang dianggap tidak ber-Tuhan. Secara definitive, dapat ditarik kesimpulan bahwa agnostikisme berbeda atau tidak sama dengan ateisme. Atau dengan kata lain, agnostikisme bukan ateisme. Keduanya adalah aliran yang berbeda pandangan tentang eksistensi Tuhan (walaupun perbedaannya sangat tipis).
Bisa dikatakan bahwa agnostic adalah pendangan skeptis tentang kemampuan manusia mengetahui eksistensi Tuhan dengan akal. Sebab, dalam pandangan kaum agnostic, Tuhan itu bisa ada tapi juga bisa tidak ada. Skeptisisme semacam inilah yang kemudian membuat banyak orang terjebak untuk menyamakan agnostic dengan ateis.
Kalau ada paham yang dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan ada dan paham dengan mengatakan bahwa Tuhan tak ada, ada pula yang ragu-ragu tentang adanya Tuhan, atau lebih tepatnya disebut paham yang berpandangan bahwa manusia tidak sanggup dan tidak mampu memperoleh pengetahuan tentang Tuhan melalui kekuatan akal, maka paham itu adalah agnistikisme. Paham ini tidak dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan itu ada, akan tetapi Tuhan mungkin ada namun manusia tidak bisa mengetahui secara pasti tentang-Nya.
2
Dalam sejarahnya, kata agnostic itu diciptakan oleh Thomas Henry Huzley (1825-1895), sebagai lawan dari kata ‘gnostik’ yang berpandangan bahwa pengetahuan tentang Tuhan dpat diketahui oleh manusia melalui akalnya. Pada saat itu, kaum agamawan berpandangan bahwa mereka dapat memperoleh pengetahuan secara pasti dan positif tentang Tuhan. Akan tetapi, Huxley sebaliknya, dia tidak percaya bahwa manusia dapat mengetahui Tuhan secara pasti dan positif. Sebab, menurutnya, pengetahuan manusia tentang alam nyata saja tidak mungkin positif seratus persen apalagi tentang alam gaib.
Berangkat dari pandangan itulah, Huxley mengatakan bahwa mnausia tidak mampu mengetahui tentang Tuhan secara komprehensif. Berkaitan dengan ateisme dan teisme, Huxley merupakan orang yang konsisten dengan sikapnya. Dia tidak mau memilih salah satu dari dua paham yang mengakui adanya Tuhan dan tidan mengakua adanya Tuhan itu. Tetapi, dia lebih memiliki untuk menjadi agnostic. Oleh karena itu, dia dapat dikatan sebagai bapak agnostikisme.
Paham agnostikisme tidak dengan tegas menduadanya adanya Tuhan, seperti halnya dengan ateisme. Oleh karena itu, seorang agnostic percaya akan adanya Tuhan, tetapi tidak dpat mengetahui keberadaan, sifat-sifat, dan wujud Tuhan itu. Bagi agnostic, Tuhan adalah sumber bagi segala yang ada. Apakah Tuhan itu satu atau banyak, apakah Tuhan itu bersifat baik atau buruk, atau apakah Dia maha tahu atau tida, manusia tidak dapat mengetahuinya. Sifat-sifat Tuhan itu amat jauh dan besar untuk diketahui manusia.
3
Sekilas tentang paham Gnostik
Gnostik berkembang dari abad kedua hingga abad keempat Masehi. Gnostik merupakan paham terbalik dari agnostic. Gnostik berasal dari bahasa yuani yaitu gnosis yang berarti pengetahuan dan merujuk pada pengetahuan mistis atau rahasia dari Allah dan penyatuan diri dengan Allah.
Orang-orang gnostik meyakini bahwa manusia dapat mengetahui eksistensi, sifat-sifat, dan dzat Tuhan. Dengan pandangan seperti itu, maka tak heran apabila paham ini memungkinkan adanya penyatuan Tuhan dengan manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana proses penyatuan Tuhan dengan manusia itu terjadi? Dan apakah itu mungkin terjadi?
Penyatuan manusia dengan Tuhan dalam pandangan gnostik itu snagat mungkin. Bagi mereka, ada beberapa langkah atau cara untuk sampai pada penyatuan tersebut. Berikut ringkasan filosofi gnostik.
Pertama, gnostik mengajar pengetahuan rahasia tentang dualisme yaitu dunia adalah jahat dan alam roh adalah baik. Kedua, Allah tidak berbeda dari manusia, namun manusia memiliki sifat ke-ilahi-an. Allah adalah semangat dan cahaya dalam setiap individu. Bila seseorang mengerti dirinya, dia akan mengerti semuanya. Ketiga, masalah fundamental dalam gnostik bukanlah dosa tetapi ketidakmengertian. Cara untuk menyatukan diri dengan Tuhan adalah dengan mencapai pengetahua mistis terlebih dahulu.
Keempat, keselamatan dicapai dengan memperoleh pengetahuan atau gnosis dari alam semesta dan dari diri sendiri. Kelima, tujuan gnostik adalah unity dengan Tuhan. Ini dicapai dengan membebaskan manusia dari tubuh yang tidak suci supaya jiwa dapat pergi melewati udara dan menghindar dari yang jahat dan menyatukan diri dengan Tuhan.
Dengan melalui lima tahapan tersebut, maka manusia dapat menyatukan diri dengan Tuhan. Dalam sejarah perkembangan agama-agama, ajaran gnostik tentang penyatuan manusia dengan Tuhan ini banyak ditentang oleh kaum agama-agama dunia seperti Kristen, yahudi, maupun islam. Sebab, ajaran tersebut tidak sesuai dengan ajaran yang dating dari Tuhan melalui wahyu.
Seperti dalam Kristen, menurut ajaran gnostik, yesus tidak berbeda dari para pengikutnya. Para pengikut yesus yang telah mencapai gnostik (pengetahuan tentang Tuhan) akan menjadi seorang kristus seperti yesus. Professor agama dari Ubiversitas Princeton, Dr. Elaine Pagels menulis, “siapa yang mencapai gnosis bukan lagi seorang Kristen tetapi kristus.” Jadi esus bukanlah anak Allah dan penyelamat yang mati untuk menebus dosa dunia tetapi hanyalah seorang guru yang memberikan pengetahuan rahasia kepada para pengikutnya.
Akan tetapi, filosofi gnostik tersebut bertentangan dengan pengajaran perjanjian lama dan baru. Alkitab menentang ajaran gnotik tetnang sifat Allah, Kristus, materi dunia,dosa, keselamatan, dan kehidupan akhir. Agama yahudi dan Kristen menetnag ajaran gnostik dan menganggapnya ajaran sesat, beitu juga seblaiknya, gnostik menentang ajaran Kristen. Filosifi gnostik yang dikisahkan pada keseluruhan injil Yudas, seperti literature gnostik yang lain, hanya terdapat sedikit sekali persamaan dengan perjanjian baru. Injil Yudas bahkan bertentangan dengan perjanjian baru.
Dalam islam, hal serupa juga terjadi pada beberapa tokoh tasawuf yang,menurut saya, tergolonga gnostik. Seperti tokoh sufi al-Hallaj. Beliau adalah sosok histories, benar-benar hidup, yang dihukum mati pada tahun 922 M karena ajarannya tentang penyatuan manusia dengan Tuhannya dianggap membahayakan iman orang awam. Sufi kelahiran iran itu mendapat hukuman mati setelah pengadilan politis menyatakan bahwa dia bersalah karena telah menyebarkan ajaran sesat.
4
Sebagaimana kita ketahui bahwa ajaran-ajaran sufi al-Hallaj yang paling ekstrem adalah tentang penyatuan dirinya dengan Allah, sebagaimana yang tersirat dalam ucapannya ana al-Haq. Konsep tersebut hamper sama dengan seorang sufi yang pernah hidup sezaman dengan wali songo di Indonesia, yakni Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang atau San Ali. Beliau juga dihukum mati oleh kerajaan demak dengan dimototi para wali songo karena ajarannya dianggap menyesatkan.
Kedua contoh tersebut mengindikasikan bahwa tiga agama besar tidak sependapat atau menolak ajaran kaum gnostik tentang kemungkinan terjadinya penyatuan antara manusia dengan Tuhan. (Rizem Aizid/ Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

1 Wikipedia, Ensiklopedi bebas berbahasa Indonesia, 25 November 2007, jam 06.30
2 Lihat Harun Nasution, falsafah agama, hlm 44
3 Lihat Harun Nasution, falsafah agama, hlm 45
4 Louis Massignon, Al-Hallaj, hlm 17

Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia

|



Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia
Oleh: Rizem Aizid
(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)


Judul Buku : Intrik Dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY
Penulis : Tjipta Lesmana
Penerbit : Gramedia Jakarta
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : xxx + 396 halaman


Menurut para filsuf besar –semacam; John Locke, David Hume, hingga Jurgen Habermas-- seorang pemimpin (baca:presiden) harus mempunyai konsep komunikasi politik yang mapan (jelas). Sebab, keberhasilan dalam memimpin sebuah negara sangat bergantung pada konsep politik yang terukur. Tanpa itu, mustahil negara tersebut akan maju. Sejak era klasik hingga modern sekarang, berbagai konsep politik telah ditunjukkan oleh para penguasa pada zamannya. Kebesaran Roma pada abad pertengahan, kejayaan Nazi (kekejaman Hitler), atau keberhasilan Amerika Serikat menjadi negara adi kuasa merupakan salah satu bukti betapa urgennya sebuah komunikasi politik yang mapan dan terukur.
Habermas misalnya, menawarkan demokrasi deliberatif untuk menciptakan sebuah negara ideal. Sebuah konsep politik yang mampu menjembatani kesenjangan antara penguasa dan rakyatnya. Perlu diakui, setiap pemimpin memiliki tipe dan gaya komunikasi yang berbeda dan unik. Antara Julius Cesar, Hitler, dan J.W. Bush pun berbeda. Karena perbedaan itulah, ada negara yang maju dan berkembang. Pertanyaannya adalah; bagaimana dengan komunikasi politik yang diterapkan para penguasa Indonesia? Kenapa sampai saat ini belum ada satu presiden pun yang bisa memajukan bangsa ini?
Harus diakui, sejak Indonesia berdiri (1945) sampai sekarang, belum ada satu presiden pun (dari enam presiden) yang betul-betul me-merdeka-kan bangsa ini. Kita masih terpuruk, baik secara ekonomi, sosial, politik, keamanan, maupun SDA. Kenapa hal itu bisa terjadi? Buku ini akan mengurai jawabannya.
Buku berjudul Intrik dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY yang ditulis oleh Tjipta Lesmana ini mencoba membeberkan secara detail dan komprehensif tentang gaya kepemimpinan para penguasa Indonesia berikut komunikasi politiknya. Buku ini adalah buku pertama yang berani membeberkan kelemahan dan kelebihan enam presiden secara blak-blakan. Tipe kepemimpinan Soekarno dan Soeharto tentu berbeda dengan tipe kepemimpinan Megawati dan Gus Dur. Begitu pula Habibi atau SBY.
Dalam proses penulisan karyanya, Tjipta menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam (indept interview) kepada beberapa nara sumbernya. Ia melakukan seleksi super ketat pada para informannya untuk mendapatkan informasi yang betul-betul akurat dan tepat sasaran.
Ada dua puluh lima orang yang menyatakan kesaksiannya tentang komunikasi politik enam presiden yang tertuang dalam buku ini. Mereka semua adalah orang-orang yang dekat dan tahu seluk-beluk pribadi sang presiden pada masanya. Seperti; Oei Tjoe Tat (menteri di masa Soekarno) dan Sujono Sudarsono (staf Kementerian PU di masa Soekarno) adalah dua nara sumber tunggal yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Keduanya memberikan kesaksian secara detail tentang komunikasi politik sang proklamator. (hlm. 381).
Dari hasil pengamatannya, Tjipta mengelompokkan ke enam presiden ke dalam tiga kategori, yakni; Soekarno dan Soeharto dikategorikannya sebagai pemimpin otoriter. Habibie dan SBY menjalankan kepemimpinan demokratis. Sedangkan Megawati dan Gus Dur termasuk pemimpin tipe laissez faire atau delegatif.
Adapun dari sisi pesan komunikasi politik, Tjipta menggolongkan Soekarno dan Soeharto sebagai pemimpin yang fokus dengan visi dan misi serta action oriented. Habibie serupa (kendati lebih rendah kadarnya) karena ia terlecut untuk meningkatkan kemampuan organisasi (negara). Presiden Gus Dur dan Megawati mempunyai pesan politik yang tidak jelas. Sedangkan SBY gemar beretorika soal visi dan misinya. Khusus untuk Megawati dan SBY, Tjipta mengkategorikan keduanya memiliki pesan komunikasi yang ''menyimpang'' dari umum, yakni kerap mengeluh dan membalas kritik dengan kritik (hlm. 357).
Sebagai hasil observasi mendalam yang melelahkan, mengingat rentang waktu yang sangat panjang dari era Soekarno sampai SBY, membuat penulis mengalami kesulitan. Menurutnya, ada dua kendala yang menghambat proses pengumpulan data, yaitu; pertama, minimnya informan yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Saat ini, semua orang yang dekat dengan presiden pertama itu sudah banyak yang meninggal. Oleh karena itu, informasi-informasi tentang gaya kepemimpinannya hanya dikorek dari Oei Tjoe Tat dan Sujono Sudarsono. Kedua, pada masa SBY. Meskipun penulis mengumpulkan data sejak tahun 2002, ia hanya bisa menembus tiga nara sumber yang terkait dengan SBY, yakni Burhanuddin Napitupulu, Muladi, dan Juwono Sudarsono. (hlm. 386).
Menurut Tjipta, setelah melihat keenam gaya kepemimpinan mereka, ia menyimpulkan pada bagian akhir bahwa komunikasi politik Soeharto-lah yang paling efektif. Negara kita stabil, pembangunan ekonomi berhasil, dan kesejahteraan meningkat. Akan tetapi, kata Tjipta, semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial-ekonomi-politik yang tinggi.
Sungguh menarik membaca buku ini. Banyak keterangan-keterangan rahasia di balik kesuksesan para penguasa Indonesia, dari Soekarno sampai SBY, yang dipaparkan secara gamblang dan lugas kepada khalayak ramai. Kehadiran buku ini sangat penting, (1) mengingat pesta demokrasi akan digelar sebentar lagi, maka buku ini dapat menjadi acuan dasar bagi masyarakat dalam memilih pemimpin di masa yang akan datang. Pemimpin dengan konsep politik yang lebih mapan dari pada sebelumnya. (2) data-data disajikan secara akurat dan objektif berdasarkan nara sumber terpercaya. Akhirnya, semoga kehadiaran buku ini dapat menambah bahan referensi dalam menyongsong Indonesia yang lebih maju. Selamat membaca!

Ber-Islam ala Cak Nur

|

Ber-Islam ala Cak Nur
Oleh : Rizem Aizid

Judul buku : Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan
Penulis : Nurcholish Madjid
Penerbit : Mizan Pustaka
Tebal buku : 452 halaman
Edisi : I (Hard Cover), 2008


Wacana tentang kebangkitan Islam bukanlah sebuah inovasi (bid’ah) maupun sesuatu yang baru, juga bukan aspek eksklusif dari misi penyebaran Islam (dakwah). Gagasan reformasi (kebangkitan) Islam mempunyai sejarah yang sangat panjang dan rumit. Hal itu ditandai dengan kemunculan para pemikir pembaru Islam; mulai dari Al-Ghazali, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, hingga Nurcholis Madjid (Cak Nur).
Seiring dengan perkembangan sains dan perubahan zaman yang semakin sekuler ini, tuntutan pembaruan dalam pemikiran islam menjadi suatu keniscayaan. Islam harus lebih terbuka dan tidak menutup diri dari modernisasi. Karena itulah, Cak Nur dengan getol memperjuangkan sekularisme di Indonesia. Sekularisme, modernisme, dan liberalisme adalah tre-gendre yang diusung Cak Nur dalam upaya reformasi islam, khususnya di Indonesia.
Untuk mengetahui sejauh mana ide-ide pembaruan (modernisasi) yang diusung cak Nur, kini telah hadir untuk keduakalinya buku berjudul Islam, kemodernan, dan Keindonesiaan yang ditulis oleh Cak Nur sendiri. Buku ini merupakan edisi baru (hard cover) karya original sang pembaru Islam Indonesia tersebut. Harus diakui, buku ini adalah magnum opus yang menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran utama Cak Nur lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai persoalan-persoalan masa kini; Islam, modernisme, dan keindonesiaan.
Cak Nur adalah salah satu tokoh neomodernisme Indonesia. Pemikiran-pemikirannya merupakan pengembangan dari pemikiran Fazlur Rahman, sang bapak neomodernisme asal Pakistan. Neomodernisme adalah suatu metode yang mencoba melihat dan memahami pemikiran-pemikiran Islam dan Barat secara utuh dan padu. Bagi Cak Nur, Islam harus dilibatkan dalam persoalan-persoalan modernistik, sebab Islam mengandung nilai-nilai modernitas dalam setiap ajarannya.
Dalam pandangannya, ajaran-ajaran Islam yang sudah tidak sesuai dengan konteks zaman modern hendaknya direkonstruksi dan direformulasi. Mengenai hal ini, ia berusaha memadukan antara nasionalisme, modernisme, dan Islam untuk konteks keIndonesiaan. Adapun cita-citanya sebagai sang pembaru adalah mewujudkan jiwa keindonesiaan yang Islami, bukan berarti Indonesia harus menjadi negara Islam, melainkan Islam di Indonesia hendaknya terbuka terhadap modernisme beserta anak turunannya (pluralisme, liberalisme, dan sekularisme).
Melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, ia berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Dengan demikian, niscaya kejayaan Islam masa lampau akan terwujud.
Namun pada kenyataannya, tidak semua umat Islam mau menerima dan terbuka terhadap perubahan (modernisme). Banyak juga yang, langsung atau tidak, menolak dan mengecam modernisme sebagai ancaman yang berbahaya bagi eksistensi islam. Akibat pandangan itulah, hingga saat ini pintu kejayaan islam belum juga terbuka. Tiga isu besar di abad modern (Pluralisme, sekularisme, dan modernisme) dinilai sebagai ancaman bagi Islam yang harus dijauhi dan diperangi. Dalam konteks inilah, ide-ide modernisme Cak Nur memegang peran yang signifikan. Menurutnya, Islam harus dipahami secara komprehensif, bukan parsial. Pemahaman terhadap Al-Qur'an dan hadis haruslah sistematis, rasional dan utuh. Dengan begitu, umat Islam dapat menangkap pesan-pesan moral-universal dalam ajaran Islam.
Sungguh menarik sekali membaca buku setebal 452 halaman ini. Di dalamnya, kita akan disuguhi ide-ide cemerlang Cak Nur. Bagai samudra yang luas, buku ini menyimpan banyak informasi dan pengetahuan yang komprehensif dan detil tentang Islam. Karena itu, buku ini wajib dibaca siapa saja yang menginginkan Islam maju dan jaya seperti dulu lagi. Di samping itu, lewat buku ini, penulis berusaha menyadarkan kita (kaum muslim) bahwa kebangkitan peradaban Islam hanya bisa terjadi jika umat Islam mampu memahami agamanya secara utuh, sistematis, dan rasional.
Akhirnya, semoga kehadiran buku Cak Nur ini dapat menghidupkan kembali pemikiran-pemikirannya di Indonesia dan menjadi kunci terbukanya pintu pencerahan bagi umat Islam. Selamat membaca!


Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB