Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia

|



Menengok Komunikasi Politik Penguasa Indonesia
Oleh: Rizem Aizid
(Alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura)


Judul Buku : Intrik Dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY
Penulis : Tjipta Lesmana
Penerbit : Gramedia Jakarta
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : xxx + 396 halaman


Menurut para filsuf besar –semacam; John Locke, David Hume, hingga Jurgen Habermas-- seorang pemimpin (baca:presiden) harus mempunyai konsep komunikasi politik yang mapan (jelas). Sebab, keberhasilan dalam memimpin sebuah negara sangat bergantung pada konsep politik yang terukur. Tanpa itu, mustahil negara tersebut akan maju. Sejak era klasik hingga modern sekarang, berbagai konsep politik telah ditunjukkan oleh para penguasa pada zamannya. Kebesaran Roma pada abad pertengahan, kejayaan Nazi (kekejaman Hitler), atau keberhasilan Amerika Serikat menjadi negara adi kuasa merupakan salah satu bukti betapa urgennya sebuah komunikasi politik yang mapan dan terukur.
Habermas misalnya, menawarkan demokrasi deliberatif untuk menciptakan sebuah negara ideal. Sebuah konsep politik yang mampu menjembatani kesenjangan antara penguasa dan rakyatnya. Perlu diakui, setiap pemimpin memiliki tipe dan gaya komunikasi yang berbeda dan unik. Antara Julius Cesar, Hitler, dan J.W. Bush pun berbeda. Karena perbedaan itulah, ada negara yang maju dan berkembang. Pertanyaannya adalah; bagaimana dengan komunikasi politik yang diterapkan para penguasa Indonesia? Kenapa sampai saat ini belum ada satu presiden pun yang bisa memajukan bangsa ini?
Harus diakui, sejak Indonesia berdiri (1945) sampai sekarang, belum ada satu presiden pun (dari enam presiden) yang betul-betul me-merdeka-kan bangsa ini. Kita masih terpuruk, baik secara ekonomi, sosial, politik, keamanan, maupun SDA. Kenapa hal itu bisa terjadi? Buku ini akan mengurai jawabannya.
Buku berjudul Intrik dan Lobi Para Penguasa, dari Soekarno sampai SBY yang ditulis oleh Tjipta Lesmana ini mencoba membeberkan secara detail dan komprehensif tentang gaya kepemimpinan para penguasa Indonesia berikut komunikasi politiknya. Buku ini adalah buku pertama yang berani membeberkan kelemahan dan kelebihan enam presiden secara blak-blakan. Tipe kepemimpinan Soekarno dan Soeharto tentu berbeda dengan tipe kepemimpinan Megawati dan Gus Dur. Begitu pula Habibi atau SBY.
Dalam proses penulisan karyanya, Tjipta menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam (indept interview) kepada beberapa nara sumbernya. Ia melakukan seleksi super ketat pada para informannya untuk mendapatkan informasi yang betul-betul akurat dan tepat sasaran.
Ada dua puluh lima orang yang menyatakan kesaksiannya tentang komunikasi politik enam presiden yang tertuang dalam buku ini. Mereka semua adalah orang-orang yang dekat dan tahu seluk-beluk pribadi sang presiden pada masanya. Seperti; Oei Tjoe Tat (menteri di masa Soekarno) dan Sujono Sudarsono (staf Kementerian PU di masa Soekarno) adalah dua nara sumber tunggal yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Keduanya memberikan kesaksian secara detail tentang komunikasi politik sang proklamator. (hlm. 381).
Dari hasil pengamatannya, Tjipta mengelompokkan ke enam presiden ke dalam tiga kategori, yakni; Soekarno dan Soeharto dikategorikannya sebagai pemimpin otoriter. Habibie dan SBY menjalankan kepemimpinan demokratis. Sedangkan Megawati dan Gus Dur termasuk pemimpin tipe laissez faire atau delegatif.
Adapun dari sisi pesan komunikasi politik, Tjipta menggolongkan Soekarno dan Soeharto sebagai pemimpin yang fokus dengan visi dan misi serta action oriented. Habibie serupa (kendati lebih rendah kadarnya) karena ia terlecut untuk meningkatkan kemampuan organisasi (negara). Presiden Gus Dur dan Megawati mempunyai pesan politik yang tidak jelas. Sedangkan SBY gemar beretorika soal visi dan misinya. Khusus untuk Megawati dan SBY, Tjipta mengkategorikan keduanya memiliki pesan komunikasi yang ''menyimpang'' dari umum, yakni kerap mengeluh dan membalas kritik dengan kritik (hlm. 357).
Sebagai hasil observasi mendalam yang melelahkan, mengingat rentang waktu yang sangat panjang dari era Soekarno sampai SBY, membuat penulis mengalami kesulitan. Menurutnya, ada dua kendala yang menghambat proses pengumpulan data, yaitu; pertama, minimnya informan yang dekat dan tahu seluk beluk pribadi Bung Karno. Saat ini, semua orang yang dekat dengan presiden pertama itu sudah banyak yang meninggal. Oleh karena itu, informasi-informasi tentang gaya kepemimpinannya hanya dikorek dari Oei Tjoe Tat dan Sujono Sudarsono. Kedua, pada masa SBY. Meskipun penulis mengumpulkan data sejak tahun 2002, ia hanya bisa menembus tiga nara sumber yang terkait dengan SBY, yakni Burhanuddin Napitupulu, Muladi, dan Juwono Sudarsono. (hlm. 386).
Menurut Tjipta, setelah melihat keenam gaya kepemimpinan mereka, ia menyimpulkan pada bagian akhir bahwa komunikasi politik Soeharto-lah yang paling efektif. Negara kita stabil, pembangunan ekonomi berhasil, dan kesejahteraan meningkat. Akan tetapi, kata Tjipta, semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial-ekonomi-politik yang tinggi.
Sungguh menarik membaca buku ini. Banyak keterangan-keterangan rahasia di balik kesuksesan para penguasa Indonesia, dari Soekarno sampai SBY, yang dipaparkan secara gamblang dan lugas kepada khalayak ramai. Kehadiran buku ini sangat penting, (1) mengingat pesta demokrasi akan digelar sebentar lagi, maka buku ini dapat menjadi acuan dasar bagi masyarakat dalam memilih pemimpin di masa yang akan datang. Pemimpin dengan konsep politik yang lebih mapan dari pada sebelumnya. (2) data-data disajikan secara akurat dan objektif berdasarkan nara sumber terpercaya. Akhirnya, semoga kehadiaran buku ini dapat menambah bahan referensi dalam menyongsong Indonesia yang lebih maju. Selamat membaca!

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB