Pengantar Singkat Memahami Agnostik Dan Gnostik

|


Pengantar Singkat Memahami Agnostik Dan Gnostik

Pendahuluan

Kajian bidang teologi, memang tidak bisa dilepaskan dari perdebatan seputar Tuhan, Eksistensi Tuhan, dan hal-hal metafisis atau transenden lainnya. Diskursus seputar ketuhanan tidak pernah menemukan satu pemahaman yang benar-benar final. Sebab, banyak kalangan (filosif dan teolog) yang masih berselisih pendapat tentang diskursus ini.
Memang, berbicara tentang Tuhan adalah berbicara masalah keyakinan masing-masing individu yang tidak bisa diganggu gugat atau di intervensi oleh individu lain. Oleh karena itu, persoalan-persoalan agama yang paling fundamental dan ekstrem telah menyebabkan pecahnya agama ke dalam banyak aliran atau sekte-sekte religius.
Ironisnya, sekte-sekte atau aliran dalam agama ini tak jarang menimbulkan konflik keagamaan. Baik konflik intern maupun ekstern. Hal itu, menurut saya, di picu oleh ketidaksepemahaman tentang konsep dan ajaran masing-masing sekte tentang agama (Tuhan).
Agnostic dan Gnostik yang akan dibahas dalam makalan ini merupakan dua aliran yang lahir dari ketidakpuasan manusia atas ajaran-ajaran yang ditawarkan oleh suatu agama tentang Tuhan. Tulisan ini berusaha memaparkan bagaimana pandangan aliran agnostic dan gnostik tentang Tuhan dalam keberagamaan manusia?
Tulisan ini merupakan sebuah pengantar menuju pemahaman konsep kaum agnostic dan gnostik dalam wilayah filosofis. Dengan tulisan ini, diharakan pembaca akan semakin tepancing dan tertarik untuk lebih mendalami ajaran atau pandangan kaum agnostic dan gnostik secara komprehensif dan detil. Pendekatan deskriptif-historis yang digunakan saya dalam tulisan ini, semoga mampu meluruskan kekeliruan pemahaman kita saat ini tentang kedua aliran tersebut.
Minimnya sumber rujukan atau referensi dan penguasaan materi yang kurang memadai, membuat tulisan ini banyak kekurangan dan harus disempurnakan dikemudian hari. Oleh karena itu, tulisan ini bukanlah satu-satunya tulisan yang membahas tentang pandangan agnostic dan gnostik tentang Tuhan (agama) secara komprehensif. Maka itu, dengan lahirnya tulisan ini, saya harap pembaca dapat mengembangkan sendiri pemahaman tentang kedua aliran itu. Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah khazanah pengetahuan kita tentang pandangan agnostic dan gnostik tentang Tuhan.
Sekilas tentang paham Agnostik/Agnostisisme
Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis yang berkeyakinan bahwa suatu nilai kebenaran dari sebuah klaim tertentu –umumnya yang berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dsb—adalah tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostic mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dpat mengetahui secara definitive pengetahuan tentang “ Yang Absolut” atau dapat dikatakan jugabahwa wallaupun perasaan secara subjektif dimungkinkan, namun secara objektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi (dibuktikan kebenarannya). Dalam kedua hal itu, maka agnostikisme mengandung unsure skeptisisme1.
Agnostisisme berasal dari bahasa Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya adalah “seseorang yang tidak mengetahui”. Perlu digarisbawahi bahwa agnostisisme tidak sama dengan ateisme.
Memang, perbedaan tipis antara agnostikisme dengan ateisme telah membuat orang salah paham dan hamper menyamakan keduanya. Padahal, letak perbedaan antara agnostikisme dan ateisme adalah dalam hal keyakinan atau pengakuan akan eksistensi Tuhan dan agama manusia. Kaum agnostic mengakui agama dan eksistensi Tuhan,sedangkan kaum ateis tidak mengakui keduanya secara simbolik.
Agnostikisme merupakan kebalikan dari gnostikisme (yang akan dibahas pada sub bab berikutnya). Agnostikisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada, tetapi kita tidak dapat menjangkau atau mengetahui keberadaan, sifat-sifat, dan dzat Tuhan dengan kemampuan akal. Sebab, kemampuan akal manusia itu terbatas. Menurut saya, pandanga seperti ini hamper mirip atau sama dengan kaum deisme yang menganggap bahwa Tuhan itu berada jauh dari manusia. Artinya, manusia tidak dapat mengetahui banyak informasi tentang Tuhan secara detil.
Berbeda dengan ateisme, golongan ini jelas-jelas menafikan adanya Tuhan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, mereka termasuk golongan yang dianggap tidak ber-Tuhan. Secara definitive, dapat ditarik kesimpulan bahwa agnostikisme berbeda atau tidak sama dengan ateisme. Atau dengan kata lain, agnostikisme bukan ateisme. Keduanya adalah aliran yang berbeda pandangan tentang eksistensi Tuhan (walaupun perbedaannya sangat tipis).
Bisa dikatakan bahwa agnostic adalah pendangan skeptis tentang kemampuan manusia mengetahui eksistensi Tuhan dengan akal. Sebab, dalam pandangan kaum agnostic, Tuhan itu bisa ada tapi juga bisa tidak ada. Skeptisisme semacam inilah yang kemudian membuat banyak orang terjebak untuk menyamakan agnostic dengan ateis.
Kalau ada paham yang dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan ada dan paham dengan mengatakan bahwa Tuhan tak ada, ada pula yang ragu-ragu tentang adanya Tuhan, atau lebih tepatnya disebut paham yang berpandangan bahwa manusia tidak sanggup dan tidak mampu memperoleh pengetahuan tentang Tuhan melalui kekuatan akal, maka paham itu adalah agnistikisme. Paham ini tidak dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan itu ada, akan tetapi Tuhan mungkin ada namun manusia tidak bisa mengetahui secara pasti tentang-Nya.
2
Dalam sejarahnya, kata agnostic itu diciptakan oleh Thomas Henry Huzley (1825-1895), sebagai lawan dari kata ‘gnostik’ yang berpandangan bahwa pengetahuan tentang Tuhan dpat diketahui oleh manusia melalui akalnya. Pada saat itu, kaum agamawan berpandangan bahwa mereka dapat memperoleh pengetahuan secara pasti dan positif tentang Tuhan. Akan tetapi, Huxley sebaliknya, dia tidak percaya bahwa manusia dapat mengetahui Tuhan secara pasti dan positif. Sebab, menurutnya, pengetahuan manusia tentang alam nyata saja tidak mungkin positif seratus persen apalagi tentang alam gaib.
Berangkat dari pandangan itulah, Huxley mengatakan bahwa mnausia tidak mampu mengetahui tentang Tuhan secara komprehensif. Berkaitan dengan ateisme dan teisme, Huxley merupakan orang yang konsisten dengan sikapnya. Dia tidak mau memilih salah satu dari dua paham yang mengakui adanya Tuhan dan tidan mengakua adanya Tuhan itu. Tetapi, dia lebih memiliki untuk menjadi agnostic. Oleh karena itu, dia dapat dikatan sebagai bapak agnostikisme.
Paham agnostikisme tidak dengan tegas menduadanya adanya Tuhan, seperti halnya dengan ateisme. Oleh karena itu, seorang agnostic percaya akan adanya Tuhan, tetapi tidak dpat mengetahui keberadaan, sifat-sifat, dan wujud Tuhan itu. Bagi agnostic, Tuhan adalah sumber bagi segala yang ada. Apakah Tuhan itu satu atau banyak, apakah Tuhan itu bersifat baik atau buruk, atau apakah Dia maha tahu atau tida, manusia tidak dapat mengetahuinya. Sifat-sifat Tuhan itu amat jauh dan besar untuk diketahui manusia.
3
Sekilas tentang paham Gnostik
Gnostik berkembang dari abad kedua hingga abad keempat Masehi. Gnostik merupakan paham terbalik dari agnostic. Gnostik berasal dari bahasa yuani yaitu gnosis yang berarti pengetahuan dan merujuk pada pengetahuan mistis atau rahasia dari Allah dan penyatuan diri dengan Allah.
Orang-orang gnostik meyakini bahwa manusia dapat mengetahui eksistensi, sifat-sifat, dan dzat Tuhan. Dengan pandangan seperti itu, maka tak heran apabila paham ini memungkinkan adanya penyatuan Tuhan dengan manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana proses penyatuan Tuhan dengan manusia itu terjadi? Dan apakah itu mungkin terjadi?
Penyatuan manusia dengan Tuhan dalam pandangan gnostik itu snagat mungkin. Bagi mereka, ada beberapa langkah atau cara untuk sampai pada penyatuan tersebut. Berikut ringkasan filosofi gnostik.
Pertama, gnostik mengajar pengetahuan rahasia tentang dualisme yaitu dunia adalah jahat dan alam roh adalah baik. Kedua, Allah tidak berbeda dari manusia, namun manusia memiliki sifat ke-ilahi-an. Allah adalah semangat dan cahaya dalam setiap individu. Bila seseorang mengerti dirinya, dia akan mengerti semuanya. Ketiga, masalah fundamental dalam gnostik bukanlah dosa tetapi ketidakmengertian. Cara untuk menyatukan diri dengan Tuhan adalah dengan mencapai pengetahua mistis terlebih dahulu.
Keempat, keselamatan dicapai dengan memperoleh pengetahuan atau gnosis dari alam semesta dan dari diri sendiri. Kelima, tujuan gnostik adalah unity dengan Tuhan. Ini dicapai dengan membebaskan manusia dari tubuh yang tidak suci supaya jiwa dapat pergi melewati udara dan menghindar dari yang jahat dan menyatukan diri dengan Tuhan.
Dengan melalui lima tahapan tersebut, maka manusia dapat menyatukan diri dengan Tuhan. Dalam sejarah perkembangan agama-agama, ajaran gnostik tentang penyatuan manusia dengan Tuhan ini banyak ditentang oleh kaum agama-agama dunia seperti Kristen, yahudi, maupun islam. Sebab, ajaran tersebut tidak sesuai dengan ajaran yang dating dari Tuhan melalui wahyu.
Seperti dalam Kristen, menurut ajaran gnostik, yesus tidak berbeda dari para pengikutnya. Para pengikut yesus yang telah mencapai gnostik (pengetahuan tentang Tuhan) akan menjadi seorang kristus seperti yesus. Professor agama dari Ubiversitas Princeton, Dr. Elaine Pagels menulis, “siapa yang mencapai gnosis bukan lagi seorang Kristen tetapi kristus.” Jadi esus bukanlah anak Allah dan penyelamat yang mati untuk menebus dosa dunia tetapi hanyalah seorang guru yang memberikan pengetahuan rahasia kepada para pengikutnya.
Akan tetapi, filosofi gnostik tersebut bertentangan dengan pengajaran perjanjian lama dan baru. Alkitab menentang ajaran gnotik tetnang sifat Allah, Kristus, materi dunia,dosa, keselamatan, dan kehidupan akhir. Agama yahudi dan Kristen menetnag ajaran gnostik dan menganggapnya ajaran sesat, beitu juga seblaiknya, gnostik menentang ajaran Kristen. Filosifi gnostik yang dikisahkan pada keseluruhan injil Yudas, seperti literature gnostik yang lain, hanya terdapat sedikit sekali persamaan dengan perjanjian baru. Injil Yudas bahkan bertentangan dengan perjanjian baru.
Dalam islam, hal serupa juga terjadi pada beberapa tokoh tasawuf yang,menurut saya, tergolonga gnostik. Seperti tokoh sufi al-Hallaj. Beliau adalah sosok histories, benar-benar hidup, yang dihukum mati pada tahun 922 M karena ajarannya tentang penyatuan manusia dengan Tuhannya dianggap membahayakan iman orang awam. Sufi kelahiran iran itu mendapat hukuman mati setelah pengadilan politis menyatakan bahwa dia bersalah karena telah menyebarkan ajaran sesat.
4
Sebagaimana kita ketahui bahwa ajaran-ajaran sufi al-Hallaj yang paling ekstrem adalah tentang penyatuan dirinya dengan Allah, sebagaimana yang tersirat dalam ucapannya ana al-Haq. Konsep tersebut hamper sama dengan seorang sufi yang pernah hidup sezaman dengan wali songo di Indonesia, yakni Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang atau San Ali. Beliau juga dihukum mati oleh kerajaan demak dengan dimototi para wali songo karena ajarannya dianggap menyesatkan.
Kedua contoh tersebut mengindikasikan bahwa tiga agama besar tidak sependapat atau menolak ajaran kaum gnostik tentang kemungkinan terjadinya penyatuan antara manusia dengan Tuhan. (Rizem Aizid/ Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

1 Wikipedia, Ensiklopedi bebas berbahasa Indonesia, 25 November 2007, jam 06.30
2 Lihat Harun Nasution, falsafah agama, hlm 44
3 Lihat Harun Nasution, falsafah agama, hlm 45
4 Louis Massignon, Al-Hallaj, hlm 17

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB