Politik Santri Merebut Hati Rakyat

|

Politik Santri Merebut Hati Rakyat
Oleh: Rizem Aizid

Judul buku : Politik Santri, Cara Menang Merebut Hati Rakyat
Penulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Impulse, Kanisius, 2009
Tebal : 304 halaman

Diakui atau tidak, Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Lebih dari tujuh puluh persen dari total penduduknya memeluk agama islam. Berdasarkan realitas itu, secara otomatis, kuantitatif kaum santri jauh lebih besar dari non-santri. Artinya, kaum santri memiliki posisi signifikan dalam peta pemikiran di negeri ini. Baik itu dibidang politik, sosial, keagamaan, maupun budaya. Untuk mempertahan eksistensinya, mereka memilih bergabung dengan partai-partai politik yang ada, baik yang berbasis Islam, ideologi sekuler, maupun nasionalis.
Meskipun anak-anak muda santri menempati posisi urgen dalam suatu partai politik, namun realitas menunjukkan bahwa partai politik kaum santri hampir selalu gagal merebut simpati rakyat. Dukungan yang datang kepada mereka tidak sebanding (lebih kecil) dengan kuantitatif eksistensi mereka di tanah air. Partai politik santri seakan mengalami stagnasi (baca:mati) di pentas perpolitikan negeri ini. Patut dipertanyakan, ada apa dengan partai politik santri? Kenapa, dengan jumlah kuantitatif yang begitu besar, partai ini tidak bisa merebut hati rakyat, yang nota bene berasal dari kaum santri itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu dicoba dijawab secara historis-kritis oleh Abdul Mnuir Mulkhan lewar karyanya yang berjudul Politik Santri, Cara Menang Merebut Hati rakyat. Buku ini mencoba memberikan ulasan kritis dengan mengingat realitas historis tentang partai politik kaum santri. Tulisan-tulisan yang tersaji di dalamnya merupakan kumpulan artikel yang pernah ditulis oleh penulis di beberapa media nasional dan lokal di Indonesia. Lewat buku ini, penulis mengajak pembaca untuk menengok kembali peristiwa politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan dalam rangka membangun dan merancang kembali masa depan dunia yang lebih baik. Penulis hendak memposisikan peran partai politik kaum santri diantara banyak partai-partai politik yang bersaing untuk memperubutkan hati rakyat.
Menurut penulis, masa depan suatu partai politik, baik yang dibangun di atas fondasi teologis, budaya lokal, atau ideologi sekuler, pada akhirnya ditentukan oleh satu hal, yakni komunikasi yang massif dengan publik pemilih. Komunikasi itulah yang akan menentukan seberapa besar dukungan yang akan didapat oleh sebuah partai. Artinya, sebuah partai politik bisa merebut hati rakyat dengan memaksimalkan komunikasi politik yang baik. Dengan begitu, akan ada kesamaan pemahaman antara partai politik dengan rakyat pemilih. Salah satu penyebab kegagalan partai politik kaum santri dalam merebut simpati rakyat, adalah karena mereka kurang menaruh perhatian pada kebutuhan komunikasi politik.
Secara praktis, anak-anak muda santri tak bisa dilepaskan dari yang namanya pesantren. Sebab, dari sanalah mereka berasal. Peta pemikiran mereka, baik di ranah politik, sosial, maupun keagamaan, sangat dipengaruhi oleh basis ke-pesantren-annya. Oleh sebab itu, partai politik kaum santri harus memaksimalkan pesantren sebagai wadah mencari simpati rakyat.
Dunia pesantren merupakan sisi lain dari partai politik kaum santri. Eksistensinya sangat menentukan sebuah partai untuk menggaet dukungan rakyat sebanyak mungkin. Sejarah membuktikan, partai-partai politik yang mendapatkan dukungan terbanyak (calonnya lolos ke kursi parlemen misalnya) adalah partai politik yang dekat dan atau mendapat dukungan dari pesantren. Sebab, meski sekarang adalah era globalisasi, namun masih banyak (mayoritas) masyarakat muslim Indonesia yang patuh pada pesantren (baca:kiai). Ke partai mana pesantren itu mengepakkan sayapnya, ke partai itulah masyarakat santri menjejakkan kakinya.
Di dalam buku ini, sisi historis partai politik kaum santri juga mendapatkan porsi khusus. Misalnya partai-partai islam awal kemerdekaan, yakni Masyumi dan NU. Menurut penulis, ada dua peta besar kehidupan sosial-budaya generasi baru santri, yaitu konservatif dan liberal.
Fenomena menarik lain yang diungkap buku ini adalah lahirnya partai islam baru dan gerakan sosial islam baru. Partai islam baru tersebut tidak mempunyai hubungan kultural dengan partai islam awal kemerdekaan. Partai-partai dan gerakan-gerakan baru itu tertumpu pada dua peta pemikiran sosial-budaya kaum santri (konservatif dan liberal). Di satu sisi, berorientasi untuk mempertahankan ajaran-ajaran islam sesuai dengan al-quran dan Sunnah. Sedangkan di sisi lain, berorientasi pada upaya pembaharuan pemikiran islam demi mencapai kembali kemajuan (kejayaan) peradaban islam, yang pernah dicapai, di masa lalu.
Pada dua cabang pemikiran di atas, anak-anak muda santri melebur ke dalam berbagai partai sekuler, nasionalis, dan islam. Salah satu contoh partai islam baru yang mengembangkan identitas modernis-tradisionalis, adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selain itu, Gerakan-gerakan islam yang menjadi wadah politik kaum santri, diantaranya; Jaringan Islam Liberal (JIL), Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Hizbut Tahrir, Kammi, Majelis Mujahidin, dan lain-lain. Ketiga yang terakhir merupakan gerakan sosial islam yang dikenal dengan gerakan fundametalis.
Sungguh menarik membaca buku setebal 304 halaman ini. Selain menyuratkan fakta-fakta dan data-data tentang perkembangan politik kaum santri lama dan baru, buku ini juga menyiratkan pesan bahwa partai politik santri harus bangkit dan merebut kembali kejayaan partai politiknya. Bagaimana partai politik santri bisa merebut hati rakyat? Adalah dengan memaksimalkan peran komunikasi politik, yang selama ini dilupakan. Oleh karena itu, buku ini penting dibaca oleh semua kalangan, terutama anak-anak muda santri di berbagai partai dan gerakan politik baru.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat mengubah pandangan dan perilaku politik kaum santri ke arah yang lebih “cair” dan mapan. Selamat membaca!

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB