Menguak Spirit Jihad Ilmiah ala Yudian Oleh: Rizem Aizid

|

Pemenang (Juara III) Lomba Resensi Nasional ‘Jihad Ilmiah Dari Tremas ke Harvard’ Prof. K. Yudian Wahyudi

Menguak Spirit Jihad Ilmiah ala Yudian
Oleh: Rizem Aizid
(Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Judul Buku : Jihad Ilmiah, Dari Tremas ke harvard
Penulis : Prof. L. Yudian Wahyudi, Ph. D.
Penerbit : Pesantren NAWESEA Press
Cetakan : revisi, Februari 2009
Tebal buku : xii + 187 halaman

Fenomena yang melanda dunia akademika PTAIN dalam beberapa puluh tahun belakang ini, adalah munculnya krisis intelektual di kalangan dosen-dosen PTAIN. Kebanyakan dari mereka hanya mementingkan ‘label’ dari pada ‘mutu’. Mereka bangga dengan gelar Master yang diperoleh dari kampus-kampus ternama di dunia. Akan tetapi, mereka lupa pada kewajiban ilmiahnya, yaitu menyumbangkan hasil pemikiran mereka demi kemajuan Islam Indonesia. Ironisnya, Krisis intelentual itu telah menyeret mereka ke dalam ‘lembah’ kemerosotan prestasi, baik ditingkat lokal maupun non-lokal (Internasional). Selain itu, salah satu faktor yang cukup mencolok adalah munculnya ‘kedengkian ilmiah’ dikalangan dosen PTAIN. Kedengkian ilmiah itu, dapat dilihat dari cara sebagian dosen PTAIN yang mencemooh dosen-dosen yang sedang kuliah di McGill University.
Komaruddin Hidayat atau Azyumardi Azra, misalnya, menganggap McGill sebagai kampus tak mutu. Kenapa? Karena McGill berada di urutan terakhir dari sepuluh besar kampus terbaik di dunia. Bukan nomor satu, bukan nomor dua, atau bukan nomor lima. Hal itu menyebabkan Internal Criticism merebak di kalangan dosen PTAIN. Dan masih banyak lagi selentingan-selentingan miring, yang semakin menjustifikasi kedengkian ilmiah mereka.
Berikutnya, krisis intelektual itu juga ditandai oleh maraknya ‘import ilmiah’ di PTAIN. Artinya, PTAIN banyak mendatangkan para pemikir dari Barat, seperti M. Arkoun, Edward W. Said, Hasan Hanafi, dll, untuk mempresentasikan tentang Islam Arab di Indonesia. Sementara, dosen-dosen lokal sendiri hampir tak berkutik. Tak ada dari mereka yang di ‘ekspor’ untuk memprentasikan Islam Indonesia di Arab atau Eropa apalagi Amerika (Barat). Jika diibaratkan, dosen PTAIN bagai ‘katak’ dalam ‘tempurung’.
Akan tetapi, kini, PTAIN bisa bernafas lega. Sebab, beberapa tahun ini ada salah satu, dan memang satu-satunya, dosen PTAIN yang menjadi sorotan dunia Barat. Sepak terjang ilmiahnya telah melampaui dosen-dosen lokal sekaliber Cak Nur atau Komaruddin Hidayat. Secara tidak langsung, ia telah mendongkrak prestasi-prestasi PTAIN, baik ditingkat lokal maupun non-lokal. Ya, Dia adalah Yudian Wahyudi. Seorang dosen UIN Sunan Kalijaga yang mendapatkan gelar Master di McGill University dan telah melanglang buana mempresentasikan sejumlah makalahnya di tingkat internasional. Sepak terjangnya di dunia akademik, patut diacungi jempol. Ia telah berhasil menjadi dosen PTAIN pertama, semoga bukan yang terakhir, yang mempresentasikan Islam Indonesia di Fransisco, Mesir, Oxford, bahkan Harvard. Bahkan, ia dengan leluasa mengkritik Oksidentalisme Hanafi di depan M. Arkoun dan E. Said, pada ajang penganugerahan Doktor Honoris Causa, di London. (lihat bab VIII).
Patut dipertanyakan; bagaimana bisa seorang dosen PTAIN yang menerima gelar Master dari McGill, yang menurut dosen-dosen PTAIN di cap sebagai kampus ‘buruk’, menjadi orang pertama yang mempresentasikan kajian desertasinya dan makalahnya di tingkat internasional? Bagaimana bisa seorang Yudian mampu menembus segi tiga dunia --Harvard Low School (Boston), The First World Congress for Middle Eastern Studies (Jerman), dan MESA (Washington, DC)? Sepak terjang Yudian itulah, yang oleh buku ini disebut ‘jihad ilmiah’.
Buku yang berjudul Jihad Ilmiah, Dari Tremas ke Harvard, ini menceritakan perjalanan panjang Yudian di pentas kompetisi intelektual Barat, yang disajikan secara lugas dan komprehensif. Bisa dibilang, buku ini adalah berjenis bibliografi, yang ditulis untuk mendokumentasikan jihad ilmiah yang telah dijalaninya. Jihad di sini dikaitkan dengan kerja keras ilmiah. Kerja keras yang diarahkan untuk menjawab external criticism dan internal criticism. Pertama, Jihad Ilmiah ingin membuktikan kepada ‘mahasiswa McGill’ bahwa dosen-dosen PTAIN bisa berprestasi di tingkat internasional. Kedua, ia ingin mengkounter cemoohan dosen-dosen PTAIN yang belum ke McGill atas Dosen-dosen yang sedang kuliah di McGill. Pada tahap ini, jihad bahkan dilancarkan untuk menghancurkan “tempurung” yang menutupi “katak”. Walhasil, dosen-dosen PTAIN yang dulu emoh pada McGill, justru sekarang mereka demam McGill.
Oleh karena itu, kedua kubu, dosen PTAIN dan McGill, patut berterima kasih pada Yudian karena prestasi yang ditorehkannya telah mengharumkan nama kedua kubu, PTAIN dan McGill University, dikancah internasional.
Lewat jihad ilmiahnya, Yudian telah membuktikan kompetensi dosen-dosen PTAIN di pentas kompetisi internasional. Namanya banyak dikenal para filsuf besar, seperti Hanafi, E. Said, M. Arkoun, dan lain-lain. Paling tidak, ia telah menjadi domba yang sukses di kandang harimau.
Secara keseluruhan, buku ini berkisah tentang perjalanan Yudian di pentas intelektual Barat. Bagaimana kerja kerasnya dalam mengubah tradisi dosen-dosen PTAIN dari ‘minus-ulama’ ke ‘ulama-plus’? bagaimana perjuangan dan spiritnya dalam menuntaskan disertasinya? Bagaimana perjuangannya berkompetisi dengan para intelektual Barat? Semuanya tersaji dari bab I sampai bab XI. Selain itu, ringkasan sejumlah makalah yang telah dipresentasikan di ajang-ajang bergengsi di Barat, seperti MESA, penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada M. Arkoun dan Edward W. Said, dan lain-lain, tersaji di buku ini.
Sebagian dari makalah yang dipresentasikannya, adalah kajian atas disertasinya dari bab 1, 2, dan 3. Dan beberapa topik tambahan. Ada enam topik yang dipresentasikan Yudian di pentas internasional, yaitu (1) Konstitusionalisasi Hukum Islam. (2) Filsafat Tantangan dan Kemukjizatan al-Qur’an. (3) Epistemologi Pembebas dari kesesatan al-Ghazali. (4) Dinamika Politik “Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah. (5) Rekonsrtuksi Peradaban Islam dan kritik atas Oksidentalisme Hanafi (6) Kritik Atas Teori geo-Epistemologi Al-Jabiri.
Dari enam topik di atas, topik yang cukup menarik, adalah tentang Oksidentalisme Hasan Hanafi yang dipresentasikan di depan dua raksasa dunia: orientalisme dan oksidentalisme (M. Arkoun dan E.W. Said). Dalam presentasinya, Ia mengkritik sikap Hanafi terhadap Barat. Yang menjadi objek kajiannya adalah muqaddimah, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai Oksidentalisme Hanafi.
Sebuah lompatan intelektual yang cukup jauh, di tengah ‘demam’ Oksidentalisme Hanafi di tingkat dosen PTAIN, ia justru melawan arus. Ia mengkritik oksidentaslime Hanafi tersebut. Menurutnya, Hanafi telah terjebak pada westernisasi, lebih khusunya ‘orientalisme terbalik’. Ia mengkritik orientaslisme sebagai perusak peradaban timur. Akan tetapi, Hanafi justru menggunakan epistemologi orientalis dalam karyanya Muqaddimah. Ia telah terjebak pada dualisme yang ketinggalan zaman. Dualisme Hanafi telah menyembunyikan pola-pola dominasi internal (self) yang terkadang jauh lebih buruk dari dominasi eksternal (other). ‘Kita’ menuduh ‘mereka’ melakukan konspirasi melawan ‘kita’, padahal kenyataannya berbagai perang saudara ‘kita’ jauh lebih mengancam. Ini adalah salah satu kegagalan Oksidentalisme Hanafi, sebagaimana terpapar dalam buku ini. Kegagalan lain Hanafi adalah, ia kehilangan daya obyektivitasnya. Ia telah menggunakan epistemologi orientalisme (yang sangat ia kritik) dalam oksidentalismenya, sehingga oksidentalismenya tak ubahnya wajah lain dari orientalisme. Menurut Yudian, Oksidentalisme Hanafi merupakan bentuk lain Orientalisme.
Sisi lain yang menarik dari jihad ilmiah ala Yudian adalah, ia berani melakukan kerja ilmiah yang sangat berat. Yaitu, mengkomparasikan tiga pemikiran tokoh (Hanafi, Al-Jabiri, dan Cak Nur) di tiga negara Islam besar (Mesir, Maroko, dan Indonesia) sebagai kajian disertasinya. Hal ini yang belum pernah dilakukan oleh dosen-dosen PTAIN sebelumnya. Cak Nur, misalnya, hanya mengkaji satu tokoh yakni Ibn Taimiyah dalam disertasinya.
Kenapa saya bilang kerja keras? Karena selain harus keliling dunia untuk mengumpulkan data-data primer, juga harus bertemu langsung dengan sang tokoh. Kecuali (almarhum) Cak Nur. Bab I, Yudian mengangkat tema; The Slogan ‘Back to the Qur’an and the Sunnah’ as the Idela Solution to the Decline of Islam in the modern Age (Dinamika Politik Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah di Mesir, Maroko, dan Indonesia). Pada bab ini, ia membandingkan enam pemikiran tokoh dari masing-masing negara tentang slogan ‘Kembali Kepada al-Qur’an dan Sunnah’. Pada bagian ini, ia dituntut untuk, paling tidak, mengetahui atau menguasai keenam tokoh tersebut.
Sedangkan untuk bab II, ia membutuhkan kerja keras dalam mempelajari pemikiran tiga pembaru Islam, Hanafi, Al-Jabiri, dan Nurcholis Madjid. Begitu pula pada bab III, ia harus menerjemahkan beberapa buku asli Hanafi, yang salah satunya berjudul “The Hermeneutics of the Return to the Qur’an and Sunnah”. Untuk menjajagi kadar ke-ilmiah-an disertasinya.
Menurut hemat saya, buku ini memiliki banyak kelebihan daripada kelemahannya. Pertama, buku ini dapat mendongkrak semangat dosen-dosen atau calon dosen PTAIN sebagai calon intelektual muslim masa depan. Kedua, buku ini menyajikan petualangan yang sangat menarik, yang belum dilakukan orang lain sebelumnya. Ketiga, buku ini telah mendongkrak prestasi PTAIN di pentas lokal maupun internasional. Keempat, orang yang membaca buku ini akan termotivasi untuk melakukan hal yang pernah dilakukan penulis dalam jihad ilmiahnya. dan kelima, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto eksklusif sewaktu Yudian berada di Barat. Sedangkan untuk kelemahannya, buku ini hampir tidak memilikinya. Kecuali pada masalah tekhnis percetakan saja.
Setelah membaca buku ini, timbul pertanyaan dalam benak saya; kapan saya bisa seperti Yudian? Dan apakah saya bisa melakukan “jihad ilmiah” seperti yang dilakukannya? Semoga dengan membaca buku ini, muncul “Yudian-Yudian” baru dengan spirit “jihad ilmiah”nya di masa yang akan datang. Selamat membaca!


Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB