Koreksi Shalat Hajat Anda

|

Seandainya Anda ditanya, tahukah Anda apa itu shalat hajat? Saya yakin Anda (mayoritas/kebanyakan) akan menjawab “Ya”. Atau bahkan, banyak di antara Anda yang termasuk pelaku shalat hajat. Ya, banyak orang melakukan shalat hajat dengan tujuan agar hajat atau cita-citanya segera tercapai. Lewat shalat inilah, mereka berdoa kepada Allah Swt. agar mengabulkan hajatnya.
Secara sederhana, shalat hajat adalah shalat sunnah yang dikerjakan apabila kita memiliki suatu hajat tertentu, dimana dengan melaksanakan shalat ini kita berharap hajat tersebut dapat tercapai atau dikabulkan oleh Allah Swt. dalam waktu singkat. Inilah definisi sederhana yang sudah (mungkin) dipahami oleh mayoritas umat islam.
Faktanya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak memiliki hajat. Yang dimaksud hajat di sini adalah sebuah keinginan, cita-cita, impian, tujuan, atau sesuatu yang ingin diraih. Setiap orang, hampir dari semua kalangan –dari berbagai status social dan ekonomi—pasti memiliki hajat. Namun demikian, hajat dari masing-masing orang berbeda satu sama lain. Selain objek hajat –jika saya boleh mengatakan demikian—yang berbeda, perbedaan lainnya juga terletak pada tercapai atau tidaknya hajat tersebut. Itu artinya, tidak semua orang hajatnya tercapai (dikabulkan) sebagaimana yang diinginkan.
Suatu contoh misalnya; si A memiliki hajat ingin mempunyai sebuah mobil mewah dan si B memiliki hajat ingin segera mendapatkan jodoh. Nah, dari keduanya tersebut, bisa jadi semua hajat si A dan si B tercapai, atau bisa jadi hanya salah satunya yang tercapai, dan bisa jadi pula keduanya tidak tercapai. Mengapa demikian? Karena ada berbagai factor yang mempengaruhi tercapai atau tidaknya hajat seseorang. Salah satu factor tersebut adalah rutin melaksanakan shalat hajat dengan hati yang iklas. Jika si A rajin melakukan shalat hajat –tentu selain mengandalkan shalat hajat juga berusaha keras mencari rezeki untuk bisa membeli mobil--, niscaya hajatnya akan tercapai. Begitu pula sebaliknya. Jadi, intinya, shalat hajat memiliki peranan yang sangat penting dalam tercapai (terkabul)nya hajat seseorang.
Benarkah dengan menunaikan shalat hajat kita dapat mewujudkan hajat kita?
Mungkin inilah pertanyaan krusial yang pasti ada dibenak setiap orang, termasuk Anda barang kali. Bagi Anda yang masih ragu dengan keajaiban shalat hajat, saya nyatakan dengan tegas bahwa shalat hajat merupakan shalat sunnah yang harus dilakukan apabila Anda ingin hajat Anda segera tercapai. Hal ini sebagaimana Sabda Rasulullah Saw. yang artinya: Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian shalat dua rakaat (Shalat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat.” (HR Ahmad)
Hadits ini menjelaskan bahwa shalat hajat merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita. Lewat shalat hajat, kita dapat meminta pertolongan kepada Allah Swt. agar Dia mengabulkan cita-cita kita. Nah, bukankah sudah jelas sekali dalam hadits tersebut bahwa shalat hajat merupakan jalan tercapainya semua cita-cita kita.
Bukti lainnya tentang kedahsyatan shalat hajat seperti kisah yang diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi)
Itulah bukti bahwa dengan melakukan shalat hajat, maka semua keinginan (hajat) kita akan tercapai. Tentu saja, shalat hajat harus dilakukan dengan benar, ikhlas, tulus, dan penuh khidmat. Selain kisah tersebut, ada banyak sekali kisah-kisah inspiratif lain yang membuktikan bahwa dengan melakukan shalat hajat maka hajat kita akan tercapai. Berikut ini saya kutipkan beberapa kisah lain yang dapat meyakinkan Anda bahwa shalat hajat adalah shalat keajaiban.
1.                      Dalam kitab Mu’jamu ash-Shoghir wal Kabiir, Imam Thabrani menceritakan sebagai berikut: “Ada seorang laki-laki memiliki kebutuhan (hajat), kemudian ia memintanya kepada Amirulmukminin Utsman bin Afan, tetapi Utsam bin Afan tidak memberikan apa yang dimintanya. Kemudian ia bertemu seseorang, yaitu Utsman bin Hunaif. Lalu ia mengadukan permasalannya kepadanya. Akhirnya, Utsman bin Hunaif menyuruhnya untuk melaksanakan shalat hajat, sebagaimana yang telah diajarkan –tata caranya-- dalam hadits. Kemudian, ia pun mengerjakannya. Setelah itu, ia pun datang kembali menemui Utsam bin Afan. Tidak disangka, Utsam bin Afan memuliakannya dan mengabulkan permintaan laki-laki tersebut. Dengan kejadian itu, ia pun menemui Utman bin Hunaif (yang telah mengajarkannya shalat hajat) dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
2.                      Riwayat lainnya berkisah sebagai berikut: “Di kuffah ada seorang kuli barang yang terkenal. Orang-orang selalu mempercayainya. Karena sifatnya yang jujur dan terpercaya,  sehingga para pedagang banyak menitipkan barang atau uang kepadanya. Ketika ia sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya, “Engkau mau kemana?” Kuli itu menjawab, “Akau akan ke kota....” Laki-laki itu berkata, “Aku juga akan ke sana. Aku dapat berjalan kaki bersamamu, atau bagaimana jika aku menumpang keledaimu dengan bayaran satu dinar?” Kuli itu pun setuju. Ketika sampai di persimpangan jalan, laki-laki itu bertanya, “Jalan manakah yang akan engkau lalui?”  “Jalan besar yang umum ini,” jawab kuli itu. Penumpang itu berkata, “Jalan yang satu ini lebih dekat dan lebih mudah bagi makanan binatang karena banyak rumput di sana.” Kuli itu menyahut, “Aku belum pernah melewati jalan ini.” “Aku sering melewatinya,” sahut penumpang itu. “Baiklah, jika begitu,” jawab kuli itu. Mereka pun melalui jalan itu. Beberapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah hutan seram yang banyak terkapar mayat manusia. Tiba-tiba, penumpang tadi melompat dari keledai yang dinaikinya dan langsung mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dengan niat membunuh kuli tadi. “Jangan!” teriak kuli itu “Ambillah keledai beserta semua barangnya, tetapi jangan bunuh aku.” Penumpang itu tidak memedulikan tawaran tersebut, bahkan ia bersumpah akan membunuhnya, kemudian mengambil semua barangnya. Kuli tersebut merasa cemas, namun si penumpang tidak memdulikannya sama sekali. Akhirnya, kuli itu pun berkata, “Baiklah, izinkan aku shalat dua rakaat untuk terakhir kalinya.” Sambil tertawa, penumpang tadi mengabulkan permintaan kuli itu dengan mengatakan, “Silakan, cepatlah shalat! Mereka yang mati ini pun telah meminta hal yang sama sebelum mati, tetapi shalat mereka ternyata tidak menolong mereka sedikit pun.” Kuli itu pun segera melaksanakan shalat. Akan tetapi, setelah membaca surah Al-Fatihah, ia tidak dapat mengingat satu surah pun –untuk dibacanya--. Sementara itu, orang zalim itu (penumpang) menunggu sambil terus berteriak, “Cepat, selesaikan shalatmu!” Tanpa sengaja, sambil menangis, terbaca oleh lidah si kuli itu ayat yang berbunyi: “Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan ....”  (QS An-Naml [27]: 62). Setelah membaca ayat tersebut, tiba-tiba, muncullah seorang penunggang kuda bertopi gemerlapan dari besi. Ia datang dan menikam orang zalim tadi hingga mati. Di tempat orang zalim itu mati, keluarlah nyala api. Kuli itu langsung bersujud syukur ke hadirat Allah Swt. Lalu, ia lari ke penunggang kuda tadi dan bertanya, “Siapakah engkau dan bagaimanakah engakau datang?” Ia menjawab, “Aku adalah hamba dari ayat yang engkau baca tadi. Sekarang, engkau aman dan dapat pergi ke mana pun sesukamu.” Setelah berkata demikian, orang itu pun menghilang.
3.                      Kisah orang yang matanya disembuhkan kembali seperti sedia kala. Begini ceritanya: “Dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang yang buta matanya menemui Nabi, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi? bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat. Setelah itu, berdoalah (dengan mengucapkan): ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA, WA ATAWAJAHU ILAIKA BINABIYYI MUHAMMADIN NABIYIR ROHMATI, YAA MUHAMMAD INNI ASTASYFA’U BIKA ‘ALA ROBBI, FII RODDI BASHORI (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku menghadap kepada-Mu atas [perintah] Nabiku, Muhammad sebagai Nabi rahmat, wahai Muhammad, sesungguhnya saya meminta syafa’at kepada Tuhan-ku dengan dirimu agar Dia mengembalikan penglihatanku).” Utsman bin Hunaif berkata, “Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan, maka lakukanlah seperti itu (shalat Hajat).” (HR Tirmidzi)
Demikianlah beberapa kisah keajaiban shalat hajat. Setelah mengetahui kisah-kisah tersebut, tentu kita semakin yakin bahwa pertolongan Allah Swt. akan datang sebelum kita mengerdipkan mata. Mengapa? Karena Allah Swt. itu sangat dekat dengan kita. Maka dari itu, barangsiapa yang memohon kepada-Nya dengan menunaikan shalat hajat, maka seketika itu juga Allah Swt. akan mengabulkannya. Itu terbukti pada empat kisah di atas. Nah, masihkah Anda belum yakin dengan keistimewaan shalat hajat? Atau, masihkah Anda ragu dengan keajaiban shalat hajat?
Saudaraku sekalian yang dimuliakan Allah.
Harus Anda ketahui, shalat hajat itu memang dikhususkan bagi mereka yang memiliki hajat tertentu, atau harapan-harapan yang bersifat sangat penting. Untuk mereka itulah, shalat hajat sangat dianjurkan. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai hajat tertentu atau harapan-harapan yang sangat penting, maka ia tidak dianjurkan untuk menunaikannya. Hajat tertentu ini pun ada batasannya. Seperti yang saya sebutkan di atas, tidak semua hajat bisa diwujudkan dengan shalat hajat. Contoh misalnya; hajat ingin hidup kaya, hajat untuk hidup terpuji, hajat untuk menentukan pilihan secara tepat dan lain sebagainya. Nah, menurut Suyadi, hajat-hajat yang demikian itu tidak bisa ditempuh atau diwujudkan dengan shalat hajat. Mengapa demikian? Karena, Allah Swt berserta Rasul-Nya telah memberi jalan atau shalat tersendiri untuk hajat-hajat yang demikian, seperti shalat dhuha, shalat tahajjud, dan lain-lain.
Lalu, hajat seperti apa kira-kira yang dapat diwujudkan dengan shalat hajat?
Ada banyak sekali hajat yang dapat diwujudkan dengan shalat hajat, antara lain misalnya; hajat ingin naik kelas, ingin naik pangkat, ingin mampu membeli rumah, ingin mendapatkan pekerjaan, ingin sembuh dari penyakit, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di sini. Nah, hajat-hajat semacam itulah yang dianjurkan Allah untuk diwujudkan dengan mendirikan shalat hajat.
Pertanyaan terakhir, bagaimana jika hajat tersebut tak kunjung tercapai meski Anda telah melakukan shalat hajat sebagaimana yang dianjurkan tersebut?
Pertanyaan inilah yang menjadi inti permasalahan buku ini.
Saudaraku sekalian yang dimuliakan Allah.
Jika Anda termasuk salah satu dari mereka, yakni telah menunaikan shalat hajat tapi belum juga terkabul, maka Anda perlu mengintrospeksi shalat Anda. Mengapa demikian? Sebab, tidak tercapainya hajat (doa) Anda bisa jadi disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang tanpa disadari Anda lakukan dalam shalat hajat. Ada banyak sekali kesalahan dalam shalat hajat yang dapat membuat hajat Anda tidak kunjung tercapai. Apa saja kesalahan-kesalahan itu? Untuk mengetahui secara detail dan komprehensif tentang kesalahan-kesalahan dalam shalat hajat –yang mungkin tanpa disadari telah Anda lakukan—tersebut, maka Anda harus membaca buku ini sampai tuntas.
Pada prinsipnya, rukun dan syarat shalat atau gerakan shalat itu sama, baik shalat wajib maupun shalat sunnah hajat. Karena itu, di dalam buku ini, saya menyajikan sedikitnya tujuh kesalahan umum dalam shalat hajat yang dapat membuat hajat Anda tak kunjung tercapai. Kesemua kesalahan tersebut akan dibahas secara detail dan komprehensif pada bab terpisah. Adapun kesalahan-kesalahan yang dimaksud, adalah sebagai berikut:
Kesalahan 1        : Niat
Kesalahan 2        : Melaksanakan Shalat Hajat pada Waktu Tertentu yang Dilarang
Kesalahan 3        : Wudhu tidak Sempurna
Kesalahan 4        : Mengabaikan Rukun dan Syarat Shalat Hajat
Kesalahan 5        : Menegakkan Shalat Hajat Tanpa Dilandasi ke-Iklas-an
Kesalahan 6        : Tidak Khusyu dalam Melakukannya
Kesalahan 7        : Kurang Menjaga Aurat Ketika Shalat Hajat
Itulah tujuh kesalahan dalam shalat hajat yang disajikan buku ini. Jika boleh saya mengelompokkannya, kesalahan-kesalahan tersebut dapat dikelompokkna pada dua dimensi. Pertama, dimensi primer, yaitu kesalahan yang berkaitan langsung dengan shalat seperti niat, wudhu, gerakan shalat, doa shalat, rukun shalat, syarat shalat, dan lain-lain. Kedua, dimensi sekunder, yakni kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan tingkah laku atau kebiasaan, seperti kurang ikhlas, tidak khusyu, tidak menutup aurat, dan lain-lain.
Akhirnya, semoga setelah mengetahui tujuh kesalahan dalam shalat hajat tersebut, Anda mulai memperbaiki shalat hajat Anda sehingga hajat Anda pun dapat tercapai dengan segera. Amin!



5 komentar:

Dinda said...

Terima kasih share nya kaka

Lucky Gumilang said...

°•♡ⓣⓗⓐⓝⓚⓢ♡ •°• kka


Gua coba yahh kka

fini shafira said...

saya pesan 1 buat buku ... tolong konfirmasi ke email fini@healthyroyal.co.id
jazakumullah

java Dim said...

Mau tanya kenapa solat hajat memiliki bnyak versi? Ada yg 2 rakaat 1 Salam ada yg 4 rakaat 1 Salam jg.. Dll . Manakah yg benar?

ikhwan said...

Semoga Saya bisa istiqomah sholat hajat.amin

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB