Melestarikan Peninggalan Nenek Moyang

|

Diakui atau tidak, saat ini kita sedang berada pada sebuah zaman yang disebut-sebut sebagai “era modern”. Di era modern ini, banyak sekali perubahan yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Salah satu perubahan yang cukup signifikan adalah berubahnya gaya hidup (life style) dan paradigma masyarakat dari tradisional ke modern. Tidak hanya di segi fashion, tetapi juga di semua sector kehidupan; seperti budaya, seni, social, dan lain-lain. Ironisnya, arus modernisasi tidak hanya membawa perubahan positif, melainkan juga negatif.
Salah satu contoh dampak negative yang disebabkan oleh modernisasi ini –dalam bidang seni dan budaya misalnya—adalah ditinggalkannya kesenian dan kebudayaan tradisional oleh masyarakat. Ya, kini, banyak orang yang sudah meninggalkan kesenian tradisional bangsanya, dimana kesenian tradisional tersebut merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang suatu bangsa (bangsa Indonesia) yang sepatutnya dipertahankan dan dilestarikan. Namun faktanya sungguh mengejutkan, masyarakat modern seakan acuh (tidak peduli) terhadap warisan tersebut. Akibatnya, ada banyak kesenian maupun kebudayaan tradisional yang lenyap tanpa bekas. Sungguh ironis memang.
Kita tahu bahwa Indonesia merupakan bangsa multikulturalisme, dimana di dalamnya terdapat beragam budaya, seni, ras, suku, agama, dan bangsa. Kesemuanya hidup dalam satu kesatuan pluralisme di bawah naungan bendera NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa ada beraneka macam kesenian dan kebudayaan asli Indonesia yang perlu dilestarikan. Namun sayangnya, saat ini aneka kesenian dan kebudayaan tradisional tersebut perlahan-lahan mulai punah karena sikap acuh masyarakat Indonesia yang lebih suka mengikuti tren (budaya) modern daripada mempertahankan budaya tradisional warisan nenek moyang.
Benarkah kesenian-kesenian tradisional tersebut terancam punah? Tentu saja benar. Hal ini tak lain adalah dampak negative dari arus modernisasi dan globalisasi yang mengubah paradigma masyarakat dari tradisional ke modern. Oleh karena itu, adalah tugas kita (sebagai generasi muda bangsa) untuk menjaga, mempertahankan, dan melestarikan kesenian-kesenian tradisional dari ancaman kepunahan.
Lantas, apa saja kesenian-kesenian tradisional bangsa Indonesia yang perlu untuk dilestarikan dan dipertahankan layaknya sangsaka merah putih? Perlu Anda ketahui, pada sejatinya ada banyak sekali kesenian tradisional yang patut untuk dilestarikan agar tidak punah. Salah satu kesenian tradisional tersebut dan merupakan topic pembahasan kita dalam buku ini adalah kesenian tradisional wayang. Wayang? Ya, pasti kita semua –paling tidak—pernah mendengar atau bahkan salah satu dari kita termasuk pecinta dari kesenian ini. Diakui atau tidak, ditengah terpaan arus modernisasi yang begitu kuat, kesenian tradisional wayang terbukti mampu bertahan dan eksis meskipun tidak seperti dulu.
Pagelaran Wayang! Pastinya, pertunjukan seni budaya yang satu ini sudah tidak asing lagi dan bukan pula merupakan hal baru lagi bagi kita (masyarakat Indonesia). Ya, wayang merupakan seni budaya asli bangsa Indonesia yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mitologi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Wayang merupakan salah satu karya seni asli Indonesia yang sampai detik ini masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Hal itu terbukti dari perkembangan dan eksistensi wayang dari waktu ke waktu (mengikuti perkembangan zaman).
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum aga Hindu masuk ke pulau Jawa. Meskipun cerita wayang yang popular di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yakni Ramayana dan Mahabharata. Namun kedua cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Bendung Layung Kuning dalam bukunya Atlas Tokoh-Tokoh Wayang dari Riwayat sampai Silsilahnya, pada bagian pandahuluan menegaskan bahwa penyesuaian konsep filsafat juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan tidak lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan sama seperti makhluk Tuhan lainnya, yakni kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Oleh karena itu, hadirnya tokoh-tokoh punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Bilung) dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsure kebaikan dan kejahatan.
Salah satu alasan mengapa kesenian wayang tetap eksis di era modern ini adalah karena wayang merupakan bentuk konsep berkesenian tradisional yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, sungguh betapa “bernilai”nya kesenian wayang dalam kehidupan manusia. Karena ia merupakan representasi dari nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalam setiap manusia, seperti; jahat, baik, sabar, pemarah, pendendam, pendengki, serakah dan rakus, tamak, dan lain-lain. Kesemua nilai tersebut termanifestasi ke dalam cerita wayang yang direpresentasikan oleh setiap tokoh dalam wayang.
Tokoh-tokoh dalam kesenian wayang ada banyak sekali. Mungkin yang sering kita dengar adalah Arjuna, Abimanyu, Antasena, Arimbi, Nakula, dan lain-lain yang merupakan tokoh-tokoh pandawa dan kurawa. Selain mereka, ada juga sebelum pandawa dan kurawa seperti; Abiyasa, Amba, Basudewa, Bisma, Madrim, dan lain-lain. Ada juga tokoh-tokoh seperti; Anggada, Anoman, Barata, Bukbis, Indrajid, Jatayu, dan lain-lain yang merupakan tokoh-tokoh Ramayana. Untuk dewa-dewinya, wayang juga memiliki sekumpulan tokoh dewa-dewi, yakni; Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Ismaya, Batara Bayu, Batara Guru, Batara Indra, dan kawan-kawannya. Itulah sederet tokoh-tokoh wayang yang memiliki karakteristik dan riwayat serta silsilah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Bagi para pecinta wayang, saya yakin pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan nama-nama di atas. Namun, bagi Anda yang masih awam dengan kesenian wayang, tak heran jika Anda belum mengenal betul sosok tokoh tersebut. Untuk itu, pertanyaan yang hendak saya ulas jawabannya dalam buku ini adalah; siapakah mereka (tokoh-tokoh wayang)?
Nah, pertanyaan ini merupakan focus poin dari buku ini. Di dalam buku ini, saya mencoba mengulas semua sosok tokoh dalam pewayangan tersebut secara detail dan komprehensif. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan kesenian wayang kepada masyarakat Indonesia (Anda), terutama bagi Anda yang masih awam dengan seni wayang. Saya akan mengulas kesenian wayang dalam tiga sesi (bagian), yakni tentang seluk-beluk seni wayang yang akan diulas pada sesi atau bagian 1, pembahasan tentang tokoh-tokoh wayang akan diulas pada sesi atau bagian 2, dan pada sesi atau bagian 3 akan dijelaskan silsilah dari tokoh-tokoh wayang tersebut.
Akhirnya, saya berharap buku ini dapat menginspirasi Anda untuk lebih mencintai kesenian tradisional asli Indonesia, terutama kesenian wayang. Selamat membaca!

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB