Dahsyat Bekerja; Kisah Tangan Seorang Tukang Batu yang Dicium Rasulullah Saw.

|

(sumber gambar: http://media.viva.co.id)


Dalam Islam, bekerja memiliki status derajat yang sangat tinggi nilainya. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya ayat-ayat maupun hadits yang memerintahkan kita untuk bekerja mencari nafkah (yang halal). Salah satunya adalah firman Allah Swt., yang artinya; "Maka apabila telah dilaksanakan salat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah (bekerja--pen.) dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumuah: 10)


Mungkin Anda pernah mendengar cerita bahwa Nabi Saw. pernah mencium tangan seorang tukang batu? Bila Anda belum pernah mendengar cerita tersebut, nanti saya ceritakan. Tapi tahukah Anda apa alasan Rasulullah saw. mencium tangan si tukang batu tersebut? Bukankah dari segi derajat kemuliaan, beliau jauh lebih mulia daripada tukang batu? Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang notabene sangat dekat dengan Allah, sedangkan si tukang batu hanyalah orang biasa. Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, silahkan Anda simak dulu cerita berikut ini.

Konon, saat Rasulullah Saw. bersama para sahabat dan kaum muslimin kembali dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan seorang laki-laki di dekat kota Madinah. Tangan orang tersebut melepuh dan kulitnya berwarna merah kehitam-hitaman. Beliau Saw. yang memperhatikan tangannya langsung menyapa dan bertanya kepadanya; “Apa yang menyebabkan tanganmu kasar sekali?”
Ternyata, Rasulullah Saw. baru mengetahui bahwa orang itu berprofesi sebagai tukang batu. Pekerjaannya itulah yang membuat tangannya kasar. Si tukang batu itu kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”
Mendengar jawaban si tukang batu itu, Rasulullah Saw. langsung menciumnya. Padahal, beliau tidak pernah mencium tangan dari orang-orang bangsawan dan raja. Menurut catatan sejarah, hanya ada dua orang yang tangannya pernah dicium beliau, yaitu Fatimah Az Zahra dan si tukang batu tersebut. Beliau berkata kepada si tukang batu itu; “Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada (inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.”[1]

Demikianlah sebuah kisah yang sangat mengharukan dan sekaligus sarat akan nilai-nilai kemuliaan yang tinggi. Anda tahu apa hikmah yang tersirat dari kisah Nabi dan si tukang batu tersebut di atas? Yaitu bahwa bekerja untuk menafkahi keluarga merupakan perbuatan yang sangat mulia. Dengan syarat, pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (kerja keras) dan halal. Saking mulianya bekerja, sampai-sampai Rasulullah Saw. menyamakan orang yang bekerja seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Subhanallah!
Suatu ketika, Rasulullah Saw. pernah ditanya oleh para sahabat tentang orang yang bekerja. Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu (tukang batu dalam cerita di atas) dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Kemudian, Rasulullah Saw. bersabda; “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR. Thabrani).
Jadi, masihkah kita bermalas-malasan untuk bekerja? Ingat, bekerja itu adalah Sunnah Rasul dan perintah Allah. Keutamaan lain dari bekerja adalah dapat menghapus dosa-dosa kita. Sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat. sahabat bertanya; 'Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?' beliau menjawab; 'Bersusah payah dalam mencari nafkah'." (HR. Bukhari)
Rasulullah Saw. adalah contoh tauladan terbaik bagi kita. Beliau, walaupun seorang Nabi yang notabene sudah dijamin oleh Allah Swt. termasuk soal nafkah, masih bekerja. Pun demikian dengan Nabi Allah yang lain, mereka semua bekerja dengan profesi masing-masing. Ada yang bertani, ada yang berdagang, ada yang menjadi pengembala, dan lain-lain. Nabi Daud adalah contoh terbaiknya, dimana ia tidak pernah makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh sebuah hadits; "Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud selalu makan dari hasil usahanya." (HR. Bukhari)



[1] mozaik.inilah.com

Panduan Dasar Taubat; Mengenal dan Memahami Seluk Beluk Taubat dari mulai Pengertian hingga cara-cara bertaubat

|



sumber gambar: https://media.ihram.asia
Bertaubat kepada Allah merupakan salah satu kewajiban kita (manusia) sebagai ciptaan-Nya untuk mengungkapkan rasa penyesalan atas dosa dan kesalahan yang baru saja diperbuat. Tindakan bertaubat sangat mulia sekali. Hal itu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, baik melalui Al-Qur’an maupun melalui Sunnah Nabi. Selain keduanya, para ulama pun menyatakan bahwa perbuatan taubat itu wajib hukumnya. Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan dosa, maka hendaklah ia bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
Menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, tidak ada sesuatu pun yang lebih wajib bagi seorang manusia daripada taubat. Tidak ada siksaan yang lebih keras daripada kehilangan pengetahuan tentang taubat.[1] Dari pernyataan tersebut, sangat jelas sekali bahwa taubat itu adalah wajib.
Apa sih makna dari kata “taubat”? Dan apa saja jenis-jenisnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengantarkan kita untuk menelusuri lebih jauh tentang taubat. pada kajian kali ini, saya hendak menginformasikan secara ringkas dan jelas mengenai seluk beluk taubat, yang meliputi; pengertian taubat, jenis-jenis taubat, dan syarat-syarat taubat. Pentingkah mengetahui seluk beluk taubat ini? jawabannya sangat penting. Sebab, untuk bertaubat, seperti yang dikatakan Yusuf Qardawi tadi, kita harus memiliki pengetahuan tentang taubat. Artinya, kita harus tahu bagaimana cara melakukan taubat agar taubat kita diterima oleh Allah Swt.
 Pengertian dan Jenis-Jenis Taubat
Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan taubat? Dan kenapa kita harus bertaubat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan langkah awal Kita untuk melakukan taubat kepada Allah Swt. Mungkin Kita semua sudah tahu bahwa taubat hukumnya wajib dan harus dilakukan untuk menghapuskan atau menghilangkan dosa-dosa yang telah diperbuat. Baik itu dosa besar maupun dosa kecil. Dengan melakukan taubat, berarti kita selangkah telah melakukan penyucian diri.
Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda tentang kewajiban Kita (anak adam) untuk senantiasa bertaubat. Dari Qatadah dari Anas ra bahwasanya Nabi saw pernah bersabda, ”Setiap anak adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik kesalahan tersebut ia segera bertaubat (menyadari dan memperbaikinya).(HR Turmuzi)
Dari hadist tersebut, sudah sangat jelas sekali bahwa setiap anak adam (Kita) tidak akan bisa lepas dari yang namanya dosa. Bahkan, tanpa kita sadari sekalipun, ternyata kita memiliki potensi untuk berbuat dosa dan salah. Semua orang tidak ada yang luput dari maksiat, terutama dari ulah anggota-anggota tubuhnya. Jika memang anggota tubuh tidak melakukan maksiat, maka tentunya hati belum aman dari keinginan berbuat maksiat. Jika memang hatipun tidak menginginkan maksiat, maka setidak-tidaknya rasa was-was dan bisikan syaitan yang tidak disukai Allah tentunya masih dapat melewati hati Kita. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika Kita selalu bertaubat kepada Allah agar kita mendapat ridho dan kasih-sayang-Nya. Di dunia dan di akhirat.
Menurut kaum sufi, yang menyebabkan kita jauh dari Allah adalah karena dosa. Dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah adalah Maha suci dan menyukai yang suci. Dengan demikian, orang yang kotor akan ditolak (dujauhi) oleh Allah. Jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridho-Nya, baik di dunia maupun di akhirat, maka kita harus membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Dan jalan pertama untuk mencapai penyucian diri adalah dengan taubat.
Pengertian taubat menurut sufi dikategorikan kepada tiga hal, secara umum, yakni; Pertama; taubat dalam pengertian meninggalkan segala kemaksiatan dan melakukan kebajikan secara terus-menerus. Kedua, taubat ialah keluar dari kejahatan dan memasuki kebaikan karena takut kepada murka Allah. Dan Ketiga, taubat adalah terus menerus bertaubat meskipun kita sudah (merasa) tidak pernah berbuat dosa lagi.[2]
Berbeda dari tiga kategori pengetian taubat menurut sufi di atas, secara bahasa (Etimologi), kata "at-taubah" –dengan fathah pada ta' dan sukun pada wau– diambil dari kata "taub" yang terdiri dari huruf ta'-wau-ba', yang memiliki makna "kembali". Jadi, taubat secara bahasa adalah kembali kepada Allah, dengan memutuskan (tidak melakukan) keinginan berbuat dosa dari dalam hati. [3]
Sedangkan secara istilah (Terminologi), taubat berarti kembali dari segala yang dicela syariat menuju apa yang dipuji syariat, serta mengetahui bahwa berbagai dosa dan kemaksiatan adalah pembinasa dan dapat menjauhkan kita dari Allah dan surga-Nya. Selain itu, juga mengtahui bahwa meninggalkan dosa dan kemaksiatan akan mendekatkan kita pada Allah dan surga-Nya.[4]
Di samping itu, taubat –secara terminologi-- juga bisa berarti penyesalan (an-nadam). Yang dimaksud penyesalan (an-nadam) di sini adalah suatu keadaan jauh dari Allah kemudian kembali dan menjadi dekat kepada-Nya. An-nadam adalah menderitanya hati. Bukti an-nadam adalah sedih yang panjang dan menangis atas kesalahan yang telah lalu, keinginan untuk tidak kembali kepada dosa dan yang semisalnya, melepaskan diri dari dosa, menyesal terhadap apa yang terjadi pada masa lalu, dan kenginan kuat untuk tidak melakukannya di masa yang akan datang.
Dalam bahasa Arab dikatakan "tâba ilâ Allâhi yatûbu tauban wa taubatan wa matâban" yang artinya kembali kepada Allah dari berbuat maksiat. Dikatakan dalam bahasa Arab "tâba al-‘abdu" yang artinya kembali kepada Allah dengan bertaubat. Dan, "tâba Allâhu ‘alaihi” yang artinya Allah memberi ampunan kepada hamba-Nya.[5]
Setiap manusia harus bertaubat dari segala dosa. Meninggalkan dosa itu disertai dengan rasa takut kepada Allah, mengakui kejelekan dosa, menyesal telah melakukan maksiat, berkeinginan untuk tidak mengulanginya meski dia mampu untuk melakukannya, dan memperbaiki diri sebisa mungkin dengan amal-amal saleh secara berkelanjutan.
Dengan demikian, Allah akan mencintai kita karena taubat dan penyucian diri dari dosa-dosa yang telah menjauhkan kita dari-Nya. Hal itu diungkapkan Allah dalam firmannya, sebagai berikut;
Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat[6], yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah (9); 112)
Menurut Syaikh Abdul Qodir Jailani (2006), dalam ayat di atas terdapat kata atau sebutan yang tidak asing, yaitu at-ta’ibun, lalu ia menyifatinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Dengan demikian, taubat telah menjadi sifatnya. Jika seorang hamba telah menyifati diri dengan sifat tersebut, maka ia berhak mendapatkan kabar gembira yang dimaksud Allah dalam firman-Nya itu.[7]
Jadi, sekali lagi, yang dimaksud dengan taubat adalah suatu keadaan atau kondisi kembali kepada Allah, dengan jalan menjauhi dan tidak akan mengulangi lagi segala bentuk dosa dan salah.
Dari pengertian taubat tersebut, maka hal selanjutnya yang perlu kita pahami dan ketahui adalah tentang jenis-jenis atau macam-macam taubat. Perlu kita ketahui bersama bahwa taubat memiliki banyak macam. Memang secara harfiah atau bahasa, taubat berarti kembali kepada Allah. Namun, jalan untuk “kembali” tersebut sangat bervariasi. Selain itu, jalan taubat juga terdiri dari berbagai tingkat.
Menurut al-Mishri, taubat itu ada dua macam, yaitu taubat orang awam dan taubat khawas. Pertama, taubat orang awam adalah taubat dari salah dan dosa. Jadi, kita melakukan taubat untuk membersihkan segala dosa dan salah yang telah kita perbuat. Kedua, taubat khawas adalah taubat dari kelalaian dan kealpaan. Artinya, kita melakukan taubat karena kita telah lalai dalam mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seperti yang diperintahkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabi.[8]
Selain dua jenis taubat tersebut, ada juga taubat dari kemunafikan, taubat dari dosa-dosa besar, taubat dari dosa-dosa kecil, taubat dari kebohongan, dan lain-lain. Semua jenis-jenis taubat itu merupakan suatu penyesalan atau penyucian diri terhadap kesalahan yang telah kita perbuat. Milsanya, jika kita sering berkata tidak jujur (bohong), maka kita telah melakukan dosa. Untuk itu, kita harus bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Unsuk Unsur Taubat
Menurut Al Gazhali --dan ulama lainnya—ada beberapa unsure-unsur taubat yang harus diperhatikan untuk melakukan taubat. Unsure-unsur taubat ini sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT kepada seluruh kaum mu'minin agar mereka beruntung, serta memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha. Adapun unsur-unsur taubat tersebut adalah sebagai berikut;[9]
1.      Unsur pengetahuan dalam taubat
Unsur pertama dari unsur-unsur taubat itu adalah pengetahuan. Dengan pengetahuan ini, kita (manusia) dapat mengetahui bahwa kebenaran adalah berasal dari Allah Swt. Dengan mengetahui keberanan itu, maka akan mendorong kita untuk semakin beriman kepada Allah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan adalah petunjuk dan pemimpin keimanan. Kemudian keimanan itu akan mengantarkan pada ketundukan dan kekhusyukan hati.
Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam kitab-Nya sebagai berikut;
Artinya: “Dan agar orang-orang yang Telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus" (QS. al Hajj: 54.).
Penafsiran secara tersurat dari ayat tersebut adalah pentingnya pengetahuan sebagai unsure taubat. Allah telah memberikan pengetahuan kepada kita (manusia) untuk mengetahui yang haq (benar) dan yang batil (salah). Untuk itu, pengetahuan memegang peranan yang sangat penting dalam proses taubat kita.
2.      Unsur Hati dan Keinginan
Unsur kedua dalam taubat adalah hati dan keinginan. Keduanya berkaitan dengan jiwa. Dari unsur jiwa ini, ada yang berhubungan dengan masa lalu dan ada yang berhubungan dengan masa depan. Adapun factor-faktor yang harus dilakukan dalam unsure taubat yang kedua ini, yakni sebagai berikut;
a. Penyesalan yang mendalam
Penyesalan merupakan sebuah perasaan, emosi, atau gerak hati. Penyesalan dapat diartikan sebagai suatu bentuk perasaan/emosi/gerak hati dalam diri manusia atas perbuatan dosa/salah yang ia telah lakukan, baik terhadap Allah Awt., terhadap sesame manusia atau makhluk lainnya, dan juga terhadap dirinya sendiri.
Perlu Anda ketahui bahwa manusia (kita) hidup di dunia ini tidak hanya sebagai makhluk social saja, melainkan juga sebagai mahkluk religius. Maka dari itu, setiap perbuatan yang kita lakukan memiliki hubungan, langsung atau tidak langsung, dengan makhluk-makhluk lain selain diri kita sendiri, yaitu makhluk ciptaan Tuhan lainnya (manusia selain kita).
b. Memiliki tekad yang kuat
Jika penyesalan itu berkaitan dengan kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu, maka kita harus bertaubat dengan bertekad untuk meninggalkan maksiat itu dan bertaubat darinya secara total, dan tidak akan kembali melakukannya selama-lamanya. Tekad ini tidak lain adalah perbuatan yang dilakukan untuk mamaksakan dirinya (orang yang melakukan dosa/manusia) untuk tidak mengulangi dosa yang pernah diperbuatnya. Selain itu, tekad yang kuat ini menjadi kata kunci keberhasilan bagi seseorang yang sedang mendambakan hari pembebasan bagi jiwa. Tekad ini akan semakin kuat jika seseorang berfikir jangka panjang dan berwawasan masa depan yang hakiki (akhirat).[10]
Akan tetapi, hal ini juga bergantung pada diri pribadi masing-masing. Jika memang ingin melakukan taubat yang benar-benar taubat, maka harus mempunyai tekad yang kuat, dan bukan keinginan yang dilandasi oleh keragu-raguan. Misalnya; orang yang pada pagi harinya bertaubat, namun pada sore harinya kembali mengulangi lagi dosanya. Itu berarti, taubat yang dilakukan tersebut tidak berangkat dari tekad yang kuat dan kesungguhan yang besar.
Jika memang tekad kita kuat dan tulus, maka kita tidak perlu putus-asa atau takut taubat kita tidak diterima oleh Allah Swt. Seperti yang dijelaskan dalam firmannya:
Artinya: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat" (QS. al Isra: 25).
Dari ayat tersebut, Allah menjanjikan pengampunan kepada orang yang memiliki tekad kuat dan tulus dalam bertaubat. Oleh karena itu, kita tidak perlu takuk taubat kita ditolak jika memang niat kita tulus.
Hal ini juga diperkuat oleh Imam Ibnu Katsir, yang mengatakan: "Sedangkan jika ia bertekad untuk bertaubat dan memegang teguh tekadnya, maka itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya pada masa lalu. Seperti terdapat dalam hadits sahjih "Islam menghapuskan apa yang sebelumnya, dan taubat menghapuskan dosa yang sebelumnya".
3.      Sisi Praktis dalam Taubat
Unsure ketiga dalam melakukan taubat, menurut Al-Ghazali, adalah sisi praktis. Hal ini berbeda dengan dua unsure sebelumnya. Pada unsur praksis ini, ada beberapa hal yang harus kita jalankan saat bertaubat. Dengan menjalankan unsure ketiga ini, maka hakikat taubat dapat dipenuhi. Adapun beberapa hal dalam sisi praksis ini, adalah sebagai berikut;
a.       Meninggalkan Kemaksiatan Secepatnya
Ketika ingin bertaubat, maka kita harus melakukannya dengan dua cara, yaitu dengan hati (niat) dan dengan tindakan (praksis). Pada ranah kedua, kita harus meninggalkan kemaksiatan yang telah menyebabkan dosa tersebut dengna secepatnya. Suatu taubat tidak akan bermakna jika orang yang bertaubat itu masih tetap menjalankan kemaksiatan yang ia sesali itu. Dengan demikian, taubat harus dilandasi dengan tindakan meninggalkan kemaksiatan secepatnya.
Melakukan taubat merupakan sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Sebab, kita dituntuu untuk menahan diri dari kemaksiatan yang sebenarnya sangat ingin dilakukan. Tidak diragukan lagi, menahan diri ini adalah pekerjaan, gerak tubuh, serta jihad fi sabilillah. Hal ini sesuai dengna firman Allah berkut ini:
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. al 'Ankabut: 69).
Sudah sangat jelas bahwa meninggalkan kemaksiatan merupakan salah satu bentuk jihad yang paling besar. Dan menurut Rasullullah Saw, jihad terbesar adalah melawan (berperang) dengan hawa nafsu. Jadi, untuk melengkapi hakikat taubat yang kita lakukan, maka tinggalkanlah kemaksiatan secepatnya.
b.      Istighfar
Istighfar merupakan bagian kedua setelah kita benar-benar meninggalkan kemaiksiatan. Istighfar merupakan sebuah dzikir yang diucapkan untuk meminta ampunan dari Allah. Dengan beristighfar, berarti kita memintah maghfirah dan ampunan dari Allah Swt. Istighfar ini pertama kali diucapkan oleh manusia permtaa (Adam dan Hawa) sewaktu mereka termakan rayuan setan sehingga melakukan dosa besar, yaitu memakan buah pohon terlarang. Peristiwa ini tergambar dalam ayat berikut;
Artinya: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. al A'raaf: 23)
Istighfar merupakan ucapan (dzikir) yang wajib bagi orang yang melakukan taubat. Sebab, istighfar ini adalah lambing dari permohonan ampun dan rasa penyesalan kita atas segala dosa dan salah yang telah kita lakukan. Al Quran dan sunnah pun memerntahkan untuk memperbanyak bacaan istighfar ketika kita melakukan taubat. Selain itu, kaum salaf saleh juga menjelaskan hal tersebut.
Dengan demikian, ada hubungan khusus antara istighfar dan taubat. Istighfar memiliki peran yang sangat penting dalam taubat. Untuk itu, mengingat pentingnya istighfar dalam bertaubat, dan anjuran berdasarkan al Quran dan hadits, maka saya akan membahas hubungan dan urgensi istighfar dalam taubat pada bab tesendiri tentang hal itu.
c.       Mengubah Lingkungan dan Teman
Selain kedua hal tersebut, yang tak kalah penting kita lakukan ketika bertaubat adalah mengubah lingkungan dan teman kita. Sebab, diakui atau tidak diakui, sebagian besar kecenderungan perbuatan kita dipengaruhi oleh lingkungan dan teman. Hal itulah yang dikatkaan oleh seorang filosof bernama John Locke, bahwa yang membentuk karakter dan sifat manusia adalah lingkungan (termasuk juga teman).
Jika ingin taubat kita diterima (berhasil), maka sudah seharusnya kita mengubah lingkungan masyarakat yang penuh dengan kotoran (kemaksiatan), menjadi lingkungan bersih (tanpa kemaksiatan). Tentunya, kata “mengubah” yang saya maksud di sini bukan berarti kita harus melakukan perubahan dengan fisik dan menyuruh mereka untuk membunuh kemaksiatan yang baisa dilakukan, akan tetapi bisa diartikan sebagai pergi atau meninggalkan lingkungan tersebut. Kemudian mencari lingkungan yang bersih dan suci yang bebas dari penyakit yang berbahaya.
Yang dimaksud dengan penyakit-penyakit berbahaya dalam konteks ini adalah: penyakit kesalahan, dosa, penyelewengan, dan lain-lain. Dan ini lebih berbahaya dari penyakit badan, dan lebih cepat pengaruhnya.[11]
Jika pengaruh penyakit anggota badan berbahaya bagi seorang individu, maka bahaya penyelewengan dan kemaksiatan mengancam individu dan masyarakat secara bersamaan. Ia tidak hanya bahaya bagi materi yang tangible (terindera) saja, namun juga terhadap sisi maknawi dan etika (yang intangible). Ia tidak hanya berbahaya bagi dunia saja, namun juga terhadap dunia dan akhirat secara bersamaan.
Oleh karena itu, orang yang bertaubat hendaknya meninggalkan teman-temannya atau lingkungannya yang mengajaknya untuk melakukan kemaksiatan. Sehingga (misalnya) ia kemudian turut meminum minuman keras, berjudi, menggunakan obat bius, memperjual belikan barang yang haram, menerima sogokan, jatuh dalam tipu daya wanita, bekerja dengan musuh sebagai mata-mata, atau meninggalkan shalat serta mengikuti syahwat... dan berbagai macam kesalahan lainnya.
Seperti diajarkan oleh pengajar yang pertama, Rasulullah Saw. mengatakan bahwa pengaruh teman dan shabat bagi manusia amat besar, seperti diungkapkan oleh para bijak bestari dan para penyair dari zaman dahulu kala. Ada penyair yang berkata:
"Tentang seseorang, maka janganlah tanyakan dirinya sendiri, namun tanyakan temannya. Karena setiap teman dengan temannya adalah sama."
dan penyair lain berkata:
"Hati-hatilah dan jangan temani orang yang pencela, karena ia akan menularkan seperti orang sehat tertularkan orang berpenyakit kusta."
Perlu Anda ketahui bahwa teman ada dua macam, yaitu: Pertama, teman yang membawa engkau menuju surga. Kedua, teman yang menjerumuskan engkau ke dalam neraka.
Dalam Al Quran telah diceritakan kepada kita akan bahayanya teman jenis kedua tersebut. Karena ia dapat menyesatkan dan menghalangi kita dari jalan Allah. Dan mungkin korban-korban mereka baru diketahui di akhirat nanti, ketika tabir kegaiban telah dibuka, dan manusia melihat hakikat secara jelas. Tentang kedua teman jenis ini, Allah berfirman:
Artinya: "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. az-Zukhruf: 67)
Dari sini, sebagian ahli suluk dari kalangan salaf memperingatkan untuk mengganti sahabat. Ketika ia berkata, "taubat adalah: menyesal dengan hati, bertekad untuk meninggalkan maksiat, meminta ampunan dengan lisan, menjauhkan maksiat dengan badan, serta menjauhi teman-teman yang buruk." Ini adalah pandangan pendidikan yang benar dan telah teruji. Inilah yang telah diperingatkan oleh al Qusyairi dan ia menasehati orang yang taubat untuk memulai dengan perbuatan ini, yaitu menjauhi teman-teman yang buruk.
d.      Mengiringi Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik
Ini adalah cabang lain yang menyempurnakan dan memperkuat taubat, yaitu mengiringi keburukan dengan kebaikan, sehingga dapat menghapus pengaruhnya dan membersihkan kotorannya. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw kepada Abu Dzarr r.a. ketika beliau mewasiatkan kepadanya dengan wasiat yang agung ini, dan bersabda:
"Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmizi dari Abi Dzar. Tirmizi berkata: hadits ini hasan sahih).
Dalam konteks ini, jika seorang muslim melakukan suatu perbuatan maksiat, maka hendaknya ia segera mengiringinya dengan perbuatan kebaikan. Mialnya; shalat, shadaqah, puasa, perbuatan yang baik, istighfar, dzikr, tasbih, dan perbuatan baik yang lain. Seperti firman Allah SWT :
Artinya: “Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Huud: 114)
Dengan penjelasan firman Allah tersebut, maka perbuatan buruk (maksiat) yang dilakukan tanpa sengaja akan terhapus oleh perbuatan baik.
Mengenai hal ini, ada beberapa contoh kemaksiatan dan perbuatan baik, yaitu;
1.              Jika kesalahannya itu adalah membicarakan keburukan orang lain di hadapan seesorang, maka kebaikan itu adalah dengan memuji orang tadi dihadapan orang yang diajak berghibah sebelumnya, atau ia beristighfar kepada Allah SWT baginya.
2.              Jika keburukannya itu adalah mencela seseorang di hadapan orang lain, maka kebaikannya itu adalah menghormatinya, memuliakannya, dan menyebutnya dengan kebaikan.
3.              Orang yang kejahatannya adalah membaca buku-buku yang buruk, maka kebaikannya adalah membaca al Quran, kitab hadits, dan ilmu-ilmu Islam.
4.              Orang yang keburukannya adalah menghardik kedua orang tua, maka kebaikannya itu adalah dengan berlaku sebaik-sebaiknya dengan keduanya dan memuliakannya serta berbuat baik kepadanya, terutama saat mereka dalam usia lanjut.
5.              Orang yang keburukannya adalah memutuskan silaturahmi, serta berbuat buruk kepada saudara, maka kebaikannya adalah berbuat baik kepada mereka serta berusaha menjaga persaudaraan, walaupun mereka memutuskannya, dan memberi mereka walaupun mereka belum pernah memberi.
6.              Jika keburukannya adalah duduk dalam tempat hiburan, main-main, dan melakukan yang haram, maka kebaikannya itu adalah duduk di tempat kebaikan, dzikr dan ilmu yang bermanfaat.
7.              Jika keburukannya itu adalah bekerja di koran yang memusuhi Islam dan para da'inya, maka kebaikannya itu adalah bekerja di koran yang melawan musuh-musuh Islam itu, dengan menyebarkan berita yang jujur, serta pendapat yang lurus.
8.              Jika keburukannya adalah mengarang kitab yang menyesatkan, serta mengajak kepada kemungkaran dalam perkataan dan perbuatan, menyebarakan pemikiran yang menyesatkan serta mengajak kepada syahwat, maka kebaikannya itu adalah mengarang kitab yang melawan kecenderungan itu, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, serta melarang dari kemunkaran.
9.              Jika keburukanya itu adalah menyebarkan nyanyian yang merangsang dan mengundang nafsu, maka kebaikannya adalah dengan menyebarkan kebaikan, serta mengajak kepada sifat malu dan menjaga kehormatan diri.
10.          Jika keburukannya adalah menzhalimi manusia, memusuhi orang-orang lemah, dan mengganggu kehormatan mereka dan hak-hak material atau immaterial mereka, maka kebaikannya adalah berusaha menegakkan keadilan, berlaku jujur kepada orang yang zhalim, membela orang-orang yang lemah, dan berusaha memperjuangkan hak-hak mereka.
11.          Jika keburukannya adalah bergabung dengan kelompok penguasa yang despotis dan mendukung kebohongan mereka dan membantu mereka menjalankan kezaliman mereka terhadap rakyat, maka kebaikannya adalah membantah orang-orang yang zalim itu sedapat mungkin, serta membuka kebobrokan mereka di hadapan massa, membongkar kelakuan buruk mereka serta korupsi yang mereka lakukan, sehingga manusia menjauh dari mereka.
Itulah beberapa jenis kebaikan yang dapat menghapuskan dosa orang yang melakukan keburukan. Jadi intinya adalah, untuk keburuhan harus dilawan dengan kebaikan. Seperti dijelaskan oleh imam Al Ghazali, bahwa orang yang sakit diobati dengan lawannya penyakit itu.[12]
Syarat dan Tata Cara Bertaubat
Mengetahui syarat dan tata cara dalam bertaubat merupakan hal penting yang juga harus diketahui. Selain rukun-rukun (unsure-unsur) taubat di atas, syarat dan tata cara menempati tingkat selanjutnya jika kita ingin melakukan taubat. Apa saja syarat-syaratnya? Dan bagaimana tata cara bertaubat yang benar? Berikut ini akan saya jelaskan secara komprehensif.
Para ulama suluk telah memberikan perhatian yang besar terhadap masalah taubat dan mereka semua telah berbicara tentang hal ini. Tentang hakikatnya, rukunnya, dan syarat-syaratnya. Seperti Abu Al Qasim al Junaid, Abu Sulaiman ad-Darani, Dzun Nun al Mishri, Rabi'ah Al Adawiah, dan lain-lain. Demikian pula para pengarang dalam bidang suluk ini, seperti Al Harits al Muhasiby, Abu Thalib al Makki, Al Qusyairi, al Ghazali, Ibnu Qayyim dan lain-lain.
Imam Al Ghazali menjelaskan dalam muqaddimah kitab "At-Taubah" dari kitabnya "Ihya Ulumuddin" bahwa "taubat dari dosa --yaitu dengan kembali kepada Dzat Yang menutupi kesalahan dan Yang Maha Tahu akan keghaiban-- adalah pokok utama kaum salikin, langkah pertama para murid, kunci kelurusan orang yang telah melenceng, dan tanda dipilihnya seseorang dan didekatkannya (kepada Allah SWT) kaum muqarrabin, dari semenjak nabi Adam a.s dan seluruh nabi-nabi lainnya.[13]
Adapun syarat-syarat untuk melakukan taubat kepada Allah dari sebagian ulama sudah memberikan petunjuk dan beberapa poin. Menurut para ulama, syarat-syarat taubat merupakan proses penemuan diri sejati untuk sesegera mungkin mengusir diri imitasi, yaitu diri yang telah tergoda oleh rayuan syaitan yang terkutuk. Adapun syarat taubat yang dimaksud adalah sebagai berikut;
1.      Bersegera mencabut diri dari dosa.
2.      Menyesali apa (kemaksiatan/dosa) yang telah diperbuat.
3.      Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
4.      Mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi, atau meminta pembebasan (hak-hak itu) kepada mereka.[14]
Dalam meninggalkan dosa dan kemaksiatan haruslah ada penyesalan dan upaya menghilangkan keinginan untuk kembali melakukan maksiat atau perasaan bersalah atas kemaksiatan yang telah dilakukannya. Dalam hal ini, rasulullah Saw. bersabda; “Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)[15]
Selain syarat-syarat taubat tersebut, para ulama lain membagi bentuk taubat kepada dua bagian, yaitu (1) taubat vertical, adalah taubat kepada sang Khaliq. (2) taubat horizontal, adalah taubat kepada sesama manusia.[16]
Untuk melakukan taubat vertical, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu;
1.      Harus meninggalkan/menjauhi perbuatan dosa tersebut.
2.      Menyesali perbuatan maksiat tersebut.
3.      Meneguhkan diri dengan kebulatan tekad untuk tidak melakukan perbuatan dosa itu lagi.
Sedangkan untuk melakukan taubat horizontal, syarat yang harus dipenuhi adalah;
1.      Harus meninggalkan perbuatan dosa tersebut.
2.      Menyesali perbuatan tersebut.
3.      Meneguhkan diri dengan kebulatan tekad untuk tidak melakukan perbuatan dosa itu lagi.
4.      Harus menyelesaikan segala perkara dengan yang bersangkutan.
Kesemua syarat tersebut hendaklah dilakukan secara keseluruhan. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka taubatnya belum sempurna dan tidak diterima.
Demikianlah taubat ini diatur dan dilakukan bagi para pendosa. Jika pendosa dengan ikhlas melakukan hal tersebut, serta benar-benar memohon ampunan kepada Allah, maka pintu kehidupan, kemudahan hidup, rezeki, dan segala permintaannya akan dengan mudah dikabulkan.[17]
Selanjutnya bagaimanakah cara kita bertaubat yang baik sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam? Mari kita perhatikan beberapa firman Allah berikut ini:
Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 135)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al a’raf: 201)
Selain dari ayat tersebut, hadist nabi juga menyinggung tentang tata cara bertaubat sebagai berikut;
Abu Hurairah ra berkata,”aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,”demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dalam sehari lebih dari 70(tujuh puluh) kali (HR Bukhori)
Dari Aisyah ra berkata,”adalah Rasulullah saw apabila melakukan shalat (tahajud) ia melakukannya hingga kakinya menjadi bengkak (keram), melihat ini Aisyah ra bertanya,”wahai Rasulullah? Mengapa engkau melakukan hal ini? Bukankah seluruh dosamu telah diampuni baik yang lalu maupun yang akan datang? Rasululah saw menjawab,”Tidakkan lebih baik kalau aku menjadi hamba yang bersyukur karenanya? (HR Muslim)
Dari beberapa ayat al-Qur’an dan Hadist tersebut, maka jelas sekali bahwa tata cara bertaubat adalah dengan meninggalkan kemaksiatan dan kembali mengingat Allah, baik melalui istighfar maupun shalat sunnah, seperti yang diajarkan Rasulullah. Manusia suci seperti Rasulullah saw, orang yang telah dijanjikan Allah tidak akan dihisab, suci, dan terjaga dari segala dosa dan maksiat, tetap (selalu) berdoa memohon ampunan dari Allah swt, bagaimanakah dengan kita? Tentunya kita harus lebih banyak lagi beristighfar dan memohon ampunan dari Allah swt.


[1] Lih. Yusuf Qardawi, Kitab Petunjuk Tobat. 2008; 19
[2] Lih. Prof. H. A. Rivay Siregar. 2000; 115
[3] Disarikan dari http://ratmanboomen.blogspot.com
[4] Lih. Syaikh Abdul Qodir Jailani. 2006; 247
[5] Disarikan dari http://ratmanboomen.blogspot.com
[6] Yang dimaksud dengan kata “melawat” dalam arti ayat tersebut adalah untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.
[7] Lih. Syaikh Abdul Qodir Jailani. 2006; 247
[8] Lih. Prof. H. A. Rivay Siregar. 2000; 115
[9] http://majelisal-hidayah.blogspot.com/2010/05/definisi-taubat.htmliposkan oleh Al- Faqir Rohmati Robbi Abu Tsani bin Ahsin Djauhari di senin, 03/05/2010

[10] Lih. Nurul Mubin. 2007;189
[11] http://majelisal-hidayah.blogspot.com
[12] http://majelisal-hidayah.blogspot.com
[13] http://www.tranungkite.net
[14] Lih. MZ. Mandaru. 2007;116
[15] Ibid. 118
[16] Lih. Yusuf Qardawi. 2008; 232
[17] Lih. Nurul Mubin. 2007; 193

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB