Sejarah Asal Usul Cerita Ramayana

|




Ramayana adalah sebuah kisah legendaris yang berasal dari Negeri India.[1] Namun, selain di India, ceritera Ramayana juga terdapat dalam khazanah sastra Jawa (Indonesia) dalam bentuk kakawin Ramayana dan Melayu dengan judul Hikayat Seri Rama. Di Indonesia, cerita ini dikemas kembali secara unik dan dipadukan dengan tata budaya lokal Indonesia. Singkatnya, Ramayana mengangkat karakter Rama sebagai seorang pahlawan. Hikayat Seri Rama dalam bahasa Melayu isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa kuna. Ramayana adalah epik yang selama berabad-abad sangat digemari di dunia, terutama di India, Asia Tenggara, dan Indonesia.
Ramayana dari asal kata Rama yang berarti menyenangkan; menarik; anggun; cantik; bahagia, dan Yana berarti pengembaraan. Cerita inti Ramayana diperkirakan ditulis oleh Walmiki -- seorang Vaishanaca pemuja Vishnu (Wisnu) Vaishnava-- dari India disekitar tahun 400 SM yang kisahnya dimulai antara 500 SM sampai tahun 200, dan dikembangkan oleh berbagai penulis. Kisah Ramayana ini menjadi kitab suci bagi agama Wishnu, yang tokoh-tokohnya menjadi teladan dalam hidup, kebenaran, keadilan, kepahlawanan, persahabatan dan percintaan, yaitu: Rama[2], Sinta, Leksmana, Sugriwa, Hanuman, Wibisana. Sebaliknya, Ravana (di Indonesia dikenal dengan Rahwana), musuh Rama yang Sivais –pemuja Siva (Siwa)—ditokohkan sebagai figure antagonis yang mewakili nilai-nilai demonis yang tiranik, jahat, kejam, licik, angkara murka, dan biadab.[3]
Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa Hindu. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa dan Bali. Selain itu, di beberapa negara (seperti misalnya Tahiland, Kamboja, Vietnam, Laos, Philipina, dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.
Menurut sebuah catatan dalam www.karatonsurakarta.com, pada akhir ceritera, ada perbedaan mencolok antara dua versi Ramayana Jawa Kuna. Untuk versi kakawin dikisahkan, bahwa Sinta amat menderita karena tidak segera diterima oleh Rama karena dianggap ternoda. Setelah berhasil membersihkan diri dari kobaran api, Sinta diterimanya. Dijelaskan oleh Rama, bahwa penyucian itu harus dilakukan untuk menghilangkan prasangka buruk atas diri isterinya. Mereka bahagia. Sedangkan di dalam versi prosa, menceritakan bagaimana Rama terpengaruh oleh rakyatnya yang menyangsikan kesucian Sinta. Disini, Sinta yang sedang mengandung di usir oleh Rama dari istana. Kelak Sinta melahirkan 2 (dua) anak kembar, yaitu Kusha dan Lawa. Kemudian kisah ini diahiri dengan ditelannya Sinta oleh Bumi.
Kisah Ramayana mempunyai banyak versi dengan berbagai penyimpangan isi cerita, termasuk di India sendiri. Penyebarannya hampir di seperempat penduduk dunia atau minimal di Asia Tenggara. Sedangkan di Indonesia, diketahui sekitar 7 - 8 abad yang lalu, walau sesungguhnya di Indonesia dapat ditemukan jauh lebih dini, yaitu sebelum abad 2 Sebelum Masehi. Di zaman Mataram Kuno, saat Prabu Dyah Balitung (Dinasti Sanjaya) bertahta, telah ada kitab sastra Ramayana berbahasa Jawa Kuna (Jawa Kawi), tidak menginduk pada Ramayana Walmiki, lebih singkat, memuat banyak ajaran dan katanya berbahasa indah. Di awal abad X, sang raja membuat candi untuk pemujaan dewa Shiwa, yaitu Candi Prambanan (candi belum selesai sampai wafatnya raja yang, maka dilanjutkan oleh penggantinya yaitu Prabu Daksa) yang sekaligus menjadi tempat ia dikubur, dengan relief Ramayana namun berbeda dengan isi cerita Ramayana dimaksud.
Ramayana Jawa Kuna memiliki 2 (dua) versi, yaitu Kakawin dan Prosa, yang bersumber dari naskah India yang berbeda, yang perbedaan itu terlihat dari akhir cerita seperti disebutkan tadi. Selain kedua versi itu, terdapat versi lain, seperti; Hikayat Sri Rama, Rama Keling, dan lakon-lakon. Cerita Ramayana semakin diterima di Jawa, setelah melalui pertunjukan wayang (wayang orang, wayang kulit purwa termasuk sendratari). Tapi ia kalah menarik dengan wayang yang mengambil cerita Mahabharata, karena tampilan ceritanya sama sekali tidak mewakili perasaan kaum awam (hanya pantas untuk kaum Brahmana dan Satria) walau jika dikaji lebih mendalam, cerita Ramayana sebenarnya merupakan simbol perjuangan rakyat merebut kemerdekaan negerinya.
Meskipun Ramayana juga terdapat dalam bahasa Jawa Kuna, namun keberadaannya kalah popular dengan kitab epos lainnya, yakni Mahabarata. Dengan kata lain, kisah epos Ramayana tidak berhasil memikat hati kaum awam Jawa seperti Mahabarata. Hal ini dikarenakan beberapa hal berikut;
1.      Ceritanya dipenuhi oleh lambang-lambang dan nasehat-nasehat kehidupan para bangsawan dan penguasa negeri, yang perilaku dan tindakannya tidak membaur di hati kaum awam;
2.      Ramayana adalah raja dengan rakyat bangsa kera yang musuhnya bangsa raksasa dengan rakyat para buta breduwak dan siluman;
3.      Kaum awam memiliki jalan pikiran yang relatif sangat sederhana, dan berharap pada setiap cerita berakhir pada kebahagiaan.
Yang menarik sampai saat ini di Indonesia (Jawa) adalah adanya suatu ajaran falsafah yang terdapat di Ramayana, yaitu ajaran Rama terhadap adik musuhnya bernama Gunawan Wibisana yang menggantikan kakaknya, Rahwana, setelah perang di Alengka. Ajaran itu dikenal dengan nama Asthabrata, (astha yang berarti delapan dan brata yang berarti ajaran atau laku) yang merupakan ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah negara atau kerajaan. Ajaran dimaksud yang juga dapat dilihat dalam Diaroma gambar wayang di Museum Purnabakti TMII (1994 M), yaitu;
1.      Bumi : artinya sikap pemimpin bangsa harus meniru watak bumi atau momot-mengku bagi orang jawa, dimana bumi adalah wadah untuk apa saja, baik atau buruk, yang diolahnya sehingga berguna bagi kehidupan manusia;
2.      Air : artinya jujur, bersih dan berwibawa, obat haus air maupun haus ilmu pengetahuan dan haus kesejahteraan;
3.      Api : artinya seorang pemimpin haruslah pemberi semangat terhadap rakyatnya, pemberi kekuatan serta penghukum yang adil dan tegas;
4.      Angin : artinya menghidupi dan menciptakan rasa sejuk bagi rakyatnya, selalu memperhatikan celah-celah di tempat serumit apapun, bisa sangat lembut serta bersahaja dan luwes, tapi juga bisa keras melebihi batas, selalu meladeni alam;
5.      Surya : artinya pemberi panas, penerangan dan energie, sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa surya/matahari, mengatur waktu secara disiplin;
6.      Rembulan : artinya bulan adalah pemberi kedamaian dan kebahagiaan, penuh kasih sayang dan berwibawa, tapi juga mencekam dan seram, tidak mengancam tapi disegani.
7.      Lintang : artinya pemberi harapan-harapan baik kepada rakyatnya setinggi bintang dilangit, tapi rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, disamping harus mengakui kelebihan-kelebihan orang lain;
8.      Mendung : artinya pemberi perlindungan dan payung, berpandangan tidak sempit, banyak pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, tidak mudak menerima laporan asal membuat senang, suka memberi hadiah bagi yang berprestasi dan menghukum dengan adil bagi pelanggar hukum.[4]
Selain asthabarata, pengaruh Ramayana terhadap filsafat hidup Jawa juga dapat diketahui dari dua karya sastra lain, yakni Sastra Jendra[5] dan Sastra Cetha. Sastra Jendra adalah sebuah citra ngelmu puncak dalam mistik kejawen. Dalam kisah Sastra Jendra, digambarkan sebuah pengalaman mistik tingkat tinggi.[6] Adapun saripati dari Sastra Jendra adalah ilmu/ajaran tertinggi tentang keselamatan, mengandung isi dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun, karena ilmu ini bersifat sangat rahasia (tidak disebarluaskan secara terbuka karena penuh penghayatan bathin yang terkadang sulit diterima umum secara rasional), maka tidak mungkin disebar-luaskan secara terbuka. Sebelum seseorang menyerap ilmu ini, ia harus mengerti terlebih dahulu tentang mikro dan makro kosmos, sehingga yang selama ini dipaparkan termasuk melalui wayang, hanyalah kulitnya saja. Sementara Sastra Cetha (terang) berisi ajaran tentang peran, sifat dan perilaku raja.


[1] Bonnie Soeherman, Mastering Chibi Character; Chibi (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2010), hlm. 27
[2] Rama—tokoh sentral yang ditokohkan sebagai manusia agung titisan Vishnu (Wisnu)—ditampilkan dalam Ramayana sebagai figure protagonist yang mewakili nilai-nilai kebajikan, kemuliaan, keagungan, keluhuran, kepahlawanan, bahkan keilahian.
[3] Agus Sunyoto, Rahuvana Tattwa (Yogyakarta: LkiS, 2006), hlm. ix
[4] www.karatonsurakarta.com
[5][5] Menurut Ki Yudhi Parta Yuwono, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat adalah ilmu atau pengetahuan gaib mengenai rahasia semua alam semesta dan perkembangannya. Sementara, Pujangga Jawa –Ki Ranggawarsita—juga pernah membedah “ilmu” itu, yang selanjutnya ditulis dalam bukunya “Baswalingga”. Menurutnya, ilmu Sastra Jendra Hayuningrat adalah cara untuk mencapai kesempurnaan hidup yang menggunakan falsafah agama Buddha. (Wawan Susetya, Cermin Hati; Perjalanan Rohani Menuju Ilahi (Solo: Tiga Serangkai, 2006), hlm. 218
[6] Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme (Yogyakarta: Narasi, 2004), hlm. 65

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB