Tokoh-Tokoh dalam Cerita Ramayana dan Pelambangannya

|




 1.      Sri Rama. Sri Rama adalah tokoh utama dalam Cerita Ramayana. Ia adalah penguasa Negeri Ayodya, di zaman kejayaan era Ramayana.[1] Nama lain dari Sri Rama adalah Ramawijaya, Raghawa, Ramabhadra atau Bathara Rama. Ia adalah putra dari Prabu (Raja) Dasarata dan Dewi Raghu, cucu dari Prabu Banaputra. Pada masa kecil dan remaja, ia dididik tentang keutamaan dan kesaktian oleh Bagawan Wasistha. Karena kepandaian, kesaktian dan kehalusan budinya, Sri Rama mendapat anugrah sebagai titisan Sang Hyang Wisnu yang bertugas memusnahkan angkara murka di muka bumi. Sri Rama beristerikan Dewi Shinta, setelah memenangkan sayembara menarik Busur Pusaka Kerajaan Mantili (Mithiladiraja). Sri Rama memiliki anak yaitu Kusiya, dan Rama Batlawa.
2.      Dewi Shinta. Sering juga disebut sebagai Sintadewi, Rakyan Sinta, Janaki, atau Maithali. Putri dari Mantili ini berayahkan Prabu Janaka. Merupakan titisan dari bidadari kayangan Dewi Sri Widowati. Dalam kisah Ramayana, Dewi Sinta adalah istri Sri Prabu Rama. Dewi Sinta adalah lambing kesetiaan. Tokoh ini merupakan lambing kekokohan hati. Lambing perempuan yang kukuh terhadap pendirian, tidak mudah goyah oleh goncangan dan tantangan yang menghadang.[2] Dewi Sinta Memiliki sifat setia dan berbakti kepada suami. Hal ini dibuktikan ketika ia diculik oleh Rahwana, ia dapat mempertahankan kesuciannya. Pada saat kesuciannya diuji oleh Sri Rama dengan cara dibakar, Sinta dapat selamat dari kobaran api.
3.      Laksmana. Laksmana merupakan putera ketiga Raja Dasarata yang bertahta di kerajaan Kosala, dengan ibukota Ayodhya. Kakak sulungnya bernama Rama, kakak keduanya bernama Bharata, dan adiknya sekaligus kembarannya bernama Satrugna. Di antara saudara-saudaranya, Laksmana memiliki hubungan yang sangat dekat terhadap Rama. Mereka bagaikan duet yang tak terpisahkan. Ketika Rama menikah dengan Sita, Laksmana juga menikahi adik Dewi Sita yang bernama Urmila.
4.      Rahwana. Jika Rama adalah sang jagoan dalam kisah Ramayana, maka Rahwana adalah angkara.[3] Rahwana adalah seorang penjahat yang sangat meditative.[4] Nama lain yang juga disandangnya adalah; Dasamuka, Rawana, Dasawadana, Dasanana, Dasawaktra, Dasasirsa, Wingsatibahu, Dasasya. Rahwana adalah maharaja yang bertahta di negeri Alengka (Ngalengkadiraja). Ia merupakan putra dari Bagawan Wiswara dan Dewi Sukesi. Dasamuka menjadi Raja di Alengka menggantikan sang kakek bernama Prabu Sumali. Memiliki Patih (Perdana Menteri) bernama Prahastha. Permaisurinya bernama Dewi Tari, dan memiliki putra mahkota bernama Indrajit (Megananda). Anak-anaknya yang lain diantaranya: Trisirah, Trikaya, Trinetra, Dewantaka, Dewatumut, Pratalamaryam. Rahwana memiliki ajian Pancasona yang membuatnya dapat hidup kembali bila menyentuh tanah setiap kali musuh mengalahkannya. Dasamuka memilik sifat angkara, senang menganiaya, tidak mau kalah, dan semua keinginannya harus terlaksana. Selain itu, ia adalah bangsa raksasa yang kejam, jahat, licik, rakus, brutal, haus darah, dan biadab.[5] Dalam hidupnya, Dasamuka memiliki obsesi untuk mempersunting Titisan dari Dewi Sri Widowati, yang antara lain menitis pada Dewi Shinta.
5.      Sugriwa. Sugriwa adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah salah seorang dari tiga bersaudara yang dikutuk menjadi kera, yakni Subali yang dikutuk menjadi kera dan Dewi Anjani yang berwajah kera. Sugriwa juga merupakan paman dari salah seorang pahlawan Ramayana, yakni Hanoman.[6] Ia adalah seorang raja kera dan merupakan seekor wanara. Ia tinggal di Kerajaan Kiskenda bersama kakaknya yang bernama Subali. Ia adalah teman Sri Rama dan membantunya memerangi Rahwana untuk menyelamatkan Sita. Nama Sugriwa dalam bahasa Sanskerta (Sugrīva) artinya adalah “leher yang tampan”.
6.      Subali. Subali adalah kakak Sugriwa, memiliki keelokan dan raut menyejukkan seperti bulan purnama.[7] Subali adalah putra Resi Gotama dengan Dewi Indradi di padepokan Grastina. Ia mempunyak saudara sekandung dua orang bernama; Dewi Anjani, kakaknya, dan Sugriwa, adiknya. Sejak lahir hingga dewasa, ia mempunyai paras yang tampan. Di dalam pedalangan, Subali dikenal pula bernama Guwarsi. Dalam peristiwa perebutan Cupu Manik Astagina,[8] parasnya yang tampan berubah wujud menjadi wanara/kera, karena terjun ke dalam telaga Sumala.[9] Subali juga dikenal dalam dunia pewayangan Jawa sebagai seorang pendeta Wanara berdarah putih yang tinggal di puncak Gunung Sunyapringga. Ia memiliki Aji Pancasuna (di daerah Sunda disebut Pancasona) yang membuatnya tidak bisa mati. Ilmu kesaktian tersebut diwariskannya kepada Rahwana, musuh besar Rama.
7.      Anggada. Anggada adalah wanara muda yang sangat tangkas dan gesit. Kekuatannya sangat dahsyat, sama seperti ayahnya, yakni Subali. Dalam kitab Ramayana disebutkan bahwa ia dapat melompat sejauh sembilan ratus mil. Anggada dilindungi oleh Rama dan akhirnya membantu Rama, berperang melawan Rahwana merebut kembali Dewi Sita.
8.      Hanoman. Hanoman juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Dalam kisah Ramayana, Hanoman adalah utusan Rama yang bertugas menyelidik; apakah Dewi Sinta masih setia kepada sang suami atau sudah ternoda oleh Dasamuka (Rahwana). Hanoman lalu dibakar di alun-alun, namun tak mempan berkat kesaktiannya. Dia malah menyulut huru-hara dan membakar istana Dasamuka.[10] Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.
9.      Jatayu. Jatayu adalah seekor burung garuda, teman baik raj Ayodya, ayah Rama. Ketika ia melihat SInta diculik oleh Rahwana, ia menyerang Rahwana. Ia ingin menolong Sinta tetapi ia jatuh ke tanah. Namun masih sempat ia menerima cincin Sinta untuk kemudian diberikan kepada Rama.[11] Jatayu adalah putra Aruna dan keponakan Garuda. Ia merupakan saudara Sempati. Tempat dimana Sri Rama menemukan Jatayu yang sedang sekarat dinamakan “Jatayumangalam”, sekarang dikenal sebagai “Chadayamangalam”, terletak di Distrik Kollam, Kerala. Batu besar di tempat tersebut dinamai “JatayuPara”, diambil dari nama Jatayu. Tempat itu dimanfaatkan sebagai obyek wisata.
10.  Wibisana. Ia adalah adik kandung Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama. Dalam perang besar antara bangsa Rakshasa melawan Wanara, Wibisana banyak berjasa membocorkan kelemahan kaumnya, sehingga pihak Wanara yang dipimpin Rama memperoleh kemenangan. Sepeninggal Rahwana, Wibisana menjadi raja Alengka. Ia dianggap sebagai salah satu Chiranjiwin, yaitu makhluk abadi selamanya. Dalam pewayangan Jawa, Wibisana sering disebut dengan nama lengkap Gunawan Kuntawibisana. Tempat tinggalnya bernama Kasatrian Parangkuntara.
11.  Kumbakarna. Kumbakarna adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Ia adalah seorang patriot. Seorang keturunan bangsa Raksasa yang beda dari kebanyakan bangsa Raksasa. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah. Meskipun fisiknya raksasa, namun hatinya, pemahamannya akan kehidupan begitu luhur. Dialah salah satu ksatria bangsa Raksasa yang senantiasa belajar dan berusaha untuk memahami sejati hidupnya. Bahkan, sebagian orang menganggapnya sebagai seorang yang menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun hidup di dalam megahnya kehidupan istana Alengkadiraja.[12] Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.
12.  Nila. Nila adalah seekor kera berwarna gelap yang berada di kubu Sri Rama dalam perang melawan Rahwana. Selama masa petualangan mencari Sita, Nila berperan penting, terutama dalam pembangunan jembatan Situbanda karena struktur jembatan tersebut dirancang oleh Nila. Dalam pertempuran besar di Alengka, Nila bersama para wanara yang lain bertarung mengalahkan para rakshasa. Saat Nila berhadapan dengan Prahasta yang menggunakan senjata gada besi, pertarungan berlangsung dengan sengit karena keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Nila mengangkat sebuah batu yang besar sekali. Batu tersebut kemudian dijatuhkan di atas kepala Prahasta sehingga rakshasa tersebut tewas seketika.
13.  Anjani. Anjani atau Anjana adalah istri raja kera bernama Kesari, ibu bagi Hanoman. Konon, ia adalah reinkarnasi bidadari bernama Punjikastala. Sebelum memiliki putra, ia melakukan tapa untuk mendapatkan keturunan. Atas saran dari Resi Matangga (seorang pemuja Wisnu) ia bertapa di Wenkatacala. Setelah bertapa selama ribuan tahun, Dewa Bayu menampakkan wujudnya dan berkata bahwa ia akan menjadi putra Anjana. Kekuatan rohani sang dewa pun merasuki janin Anjani sehingga lahirlah seorang putra. Putra tersebut diberi nama Hanoman, yang sangat terkenal dalam wiracarita Ramayana.
14.  Dasarata. Ia adalah ayah Sri Rama dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhya. Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja besar lagi pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam pertempuran.
15.  Indrajit. Ia adalah putra sulung Rahwana sekaligus putra mahkota Kerajaan Alengka. Indrajit merupakan ksatria yang sakti mandraguna. Dalam perang melawan pasukan Wanara, ia pernah melepaskan senjata Nagapasa yang keampuhannya mampu melumpuhkan Sri Rama. Setelah melalui pertempuran seru, ia akhirnya tewas di tangan Laksmana adik Rama.
16.  Kosalya. Kosalya adalah nama seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia dikenal sebagai istri pertama Dasarata raja Kerajaan Kosala yang melahirkan Sri Rama.
17.  Jambawanta. Jambawanta atau Jamwanta, adalah seekor beruang yang dipercaya hidup dari zaman Kertayuga sampai Dwaparayuga. Konon, pada saat pengadukan “lautan susu”, Jembawan turut serta dan pernah mengelilingi dunia selama tujuh kali. Jembawan pernah membunuh seekor singa yang memiliki sebuah permata bernama Syamantaka. Permata itu berasal dari Prasena dan direbut oleh sang singa setelah membunuhnya. Kresna yang curiga dengan kematian Prasena, mengikuti jejak Prasena sampai ia tahu bahwa Prasena dibunuh oleh seekor singa dan singa tersebut dibunuh oleh seekor beruang, yaitu Jembawan. Kresna mengikuti jejak Jembawan sampai ke sebuah gua dan pertempuran pun terjadi. Setelah dua puluh satu hari, Jembawan tunduk dan menyerah sebab ia sadar siapa Kresna sebenarnya. Ia memberikan permata Syamantaka kepada Kresna, dan juga mempersembahkan puterinya yang bernama Jembawati, yang pada akhirnya menjadi salah satu istri Kresna.
Dalam wiracarita Ramayana, Jembawan bersama para wanara membantu Rama menemukan Sita. Ketika Jembawan dan para wanara berada di tepi pantai yang memisahkan pulau Alengka dengan daratan India, Jembawan membujuk Hanoman agar ia mau terbang ke Alengka dan bertemu dengan Sita. Sebelumnya Hanoman terkena kutukan bahwa ia akan melupakan semua kehebatannya, sampai seseorang mengingatkannya kembali. Jembawan adalah orang yang mengingatkan Hanoman, bahwa ia memiliki kekuatan untuk terbang dan melintasi lautan.
18.  Aswanikumba. Aswanikumba adalah putra kedua Arya Kumbakarna dengan Dewi Aswani .Ia mempunyai kakak kandung bernama Kumbakumba. Aswanikumba tinggal bersama orang tuanya di kesatrian/negara Leburgangsa, wilayah negara Alengka. Aswanikumba sangat sakti. Memiliki sifat dan perwatakan; pemberani, jujur, setia dan sangat patuh. Pada saat pecah perang besar Alengka, negara Alengka diserang oleh balatentara kera Prabu Rama di bawah pimpinan Prabu Sugriwa, raja kera dari Gowa Kiskenda dalam upaya membebaskan Dewi Sita dari sekapan Prabu Dasamuka, Aswanikumba masih kanak-kanak. Atas perintah Prabu Dasamuka, Aswanikumba maju ke medan perang karena ayahnya, Kumbakarna sedang tidur dan tak bisa dibangunkan. Aswanikumba tewas dalam pertempuran melawan Leksmana. Mati oleh panah sakti Surawijaya.
19.  Parashurama. Secara harfiah, nama Parashurama bermakna “Rama yang bersenjata kapak”. Nama lainnya adalah Bhargawa yang bermakna “keturunan Maharesi Bregu”. Ia sendiri dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga. Pada zaman ini banyak kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga menyebabkan kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama putra Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.
20.  Prahasta. Prahasta adalah paman Rahwana sekaligus pembesar Kerajaan Alengka. Ia merupakan tokoh bijaksana yang sering memberikan nasihat-nasihat berharga kepada Rahwana. Prahasta akhirnya gugur membela negerinya ketika berperang melawan Anila dari bangsa Wanara.
21.  Satruguna. Satrugna lahir dari permaisuri Raja Dasarata yang bernama Sumitra. Ia memiliki tiga saudara bernama Rama yang lahir dari permaisuri Kosalya, Bharata yang lahir dari permaisuri Kekayi, dan Laksmana yang merupakan saudara kembarnya, lahir dari permaisuri Sumitra. Ramayana mendeskripsikan bahwa keempat saudara tersebut saling rukun dan menyayangi. Mereka dididik oleh orang suci di keraton Ayodhya yang bernama Resi Wasista. Saat menginjak dewasa, Satrugna menikahi Srutakirti, saudara sepupu Sita.
22.  Sumali. Sumali memiliki kakak bernama Mali dan adik bernama Maliyawan. Ketiganya mendapat anugerah Dewa Brahma sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun kesaktian tersebut disalahgunakan untuk menaklukkan kahyangan. Akhirnya, mereka pun dikalahkan oleh Dewa Wisnu dan terusir dari Kerajaan Alengka.
23.  Sumitra. Sumitra (bahasa Sanskerta: Sumitrā) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah salah seorang istri prabu Dasarata dan merupakan ibu dari Laksamana dan Satrugna.
24.  Suparnaka. Ia adalah adik kandung Rahwana, dan merupakan seorang rakshasi atau rakshasa wanita. Ia tinggal di Yanasthana, pos perbatasan para rakshasa di Chitrakuta. Nama Surpanaka dalam bahasa Sanskerta berarti "(Dia) Yang memiliki kuku jari yang tajam".
Saat Surpanaka melewati hutan, ia senang melihat Rama dan ingin dinikahinya. Dengan mengubah wujudnya yang jelek menjadi seorang wanita cantik, ia mulai mendekati Rama dan meminta untuk dinikahi. Rama menolak karena ia melaksanakan Eka patnivrataa atau menikah hanya sekali. Kemudian Rama menyuruh Surpanaka agar merayu Laksmana yang lebih tampan. Setelah meninggalkan Rama, ia berusaha menggoda Laksmana. Tetapi cintanya ditolak karena Laksmana berkata bahwa ia adalah pelayan kakaknya, dan lebih baik apabila Surpanaka menjadi istri kedua Rama dibandingkan menjadi istri pertama Laksmana. Surpanaka yang mulai kesal, berusaha mencakar Sita yang memandangnya dengan sinis. Lalu Rama melindungi Sita sementara Laksmana mengambil pedangnya. Saat Surpanaka menyerang Laksmana, pedang Laksmana melukai hidung rakshasi tersebut. Akhirnya Surpanaka lari dan mengadu kepada Kara. Setelah Kara tewas di tangan Rama, ia memprovokasi Rahwana.
25.  Atikaya. Atikaya merupakan adik Indrajit dan bertenaga sangat kuat. Ia belajar segala rahasia dalam ilmu memanah dan mendapat senjata ilahi dari Dewa Siwa ketika ia menangkap Trisula Dewa Siwa di Gunung Kailasha. Meski kekuatannya sangat luar biasa, ia dibunuh oleh Laksmana dengan senjata Brahmastra, panah sakti pemberian Dewa Brahma. Cara tersebut diberitahu oleh Dewa Bayu atas bujukan Dewa Indra, sebab Atikaya memakai baju zirah tak terdandingi yang didapat dari Dewa Brahma. Satu-satunya cara untuk menghancurkan baju zirah tersebut adalah dengan menggunakan senjata Brahmastra. Kisah kematiannya dimuat dalam kitab Yuddhakanda.[13]



[1] Mahendra Sucipta, Ensiklopedia Tokoh-Tokoh Wayang dan Silsilahnya (Yogyakarta: Penerbit NARASI, 2009), hlm. 377
[2] Dr. Martha Tilaar, Kecantikan Perempuan Timur (Jakarta: Indonesia Tera, 2008), hlm. 23
[3] Dewi Sartika, Dadaisme (Yogyakarta: Grasindo, 2010), hlm. 171
[4] Anand Krishna, Seni Memberdaya Diri 3 Atisha Melampaui Meditasi Untuk Hidup Meditatif (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003, cet. 3), hlm. 220
[5] Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil; Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar Buku Dua (Yogyakarta: LkiS, 2003), hlm. xiii
[6] Thomas Wendoris, Mengenal Candi-Candi Nusantara (Yogyakarta: Penerbit Pustaka  Widyatama, 2008), hlm. 22
[7] R.K. Narayan, Ramayana Mahabarata (Terjemah: Nin Bakdi Soemanto, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2009), hlm. 174
[8] Cupu manik astagina adalah pusaka Sanghyang Tunggal yang berkahyangan di Alangalang Kumitir. Oleh Batara Surya cupu tersebut kemudian dihadiahkan kepada Dewi Indradi pada waktu perkawinannya dengan resi Gotama, dan akhirnya Dewi Indradi memberikannya kepada putrinya, yaitu Dewi Anjani. Cupu manik Astagina ini menimbulkan peristiwa yang menyedihkan pada keluarga resi Gotama dan menimpa putra-putranya sehingga mengakibatkan penderitaan jiwa dan raga, yaitu Dewi Anjadni, Subali dan Sugriwa dengan pengasuh-pengasuhnya berubah sifatnya dari manusia menjadi kera/wanara. Sedang dewi Indradi sendiri pada waktu ditanyakan darimana asal cupu tersebut selalu bersikap diam seperti tugu, sehingga menimbulkan kemarahan resi Gotama dan keluarlah sabdanya yang mapuh: Dewi Indradi disabda dengna kutukan yang mengubah wujudnya menjadi “tugu”. (R. Rio Sudibyoprono, Ensiklopedi Wayang Purwa (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm. 66)
[9] Ibid, hlm. 504
[10] Sandiwara N. Riantiarno, Maaf. Maaf. Maaf. Politik Cinta Dasamuka (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. T.t.
[11] Dr. R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 108
[12] Pitoyo Amrih, Ilmu Kearifan Jawa (Yogyakarta: Pinus, 2010), hlm. 11
[13] www.kaskus.co.id

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB