Apa hokum suami memaksa istri untuk berjima’ padahal istri menolak?

|




Pada dasarnya, jima’ atau hubungan intim adalah hak bersama antara suami dan istri. Seorang istri wajib melayani suaminya saat suaminya butuh, begitu pun sebaliknya. Islam pun tidak membolehkan istri menolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat, seperti sakit, haid, atau lainnya. Dari Abu Hurairah ra,, Nabi Saw. bersabda; “Apabila seorang suami mengajak istrinya (untuk berhubungan intim), kemudian si istri menolak, lalu si suami marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya sampai Subuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nah, berdasarkan hadits tersebut, maka wajib hukumnya bagi istri untuk melayani suami, kecuali dalam keadaan yang benar-benar darurat saja. Wanita yang menolak diajak berjima’ oleh suaminya, padahal ia tidak dalam keadaan darurat, maka ia telah berbuat maksiat dan durhaka kepada suami. Meskipun begitu, suami tidak boleh sampai memukulnya dengan keras. Kenapa? Karena Islam telah menetapkan cara untuk memarahi istri.
Dalam Islam, istri yang durhaka kepada suaminya akan kehilangan haknya untuk mendapat nafkah dan pakaian. Dengan kata lain, suami tidak wajib lagi memberikan nafkah kepada istri yang durhaka. Adapun yang harus dilakukan oleh suami adalah sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat An Nisa’ ayat 34, yaitu menasehati, memisah ranjang, dan memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan.
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤
Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’ [4]; 34)[1]


[1] Dikutip dari konsultasisyariah.com

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB