Dalil-Dalil yang Membolehkan Thalak

|




Berdasarkan jenis-jenis thalak, maka pada hakikatnya Islam tidak melarang thalak selama dilakukan sesuai dengan aturan syariat. Sebagai bukti bahwa Islam tidak melarang thalak adalah adanya dalil-dalil yang membolehkan thalak, baik dari Al-Qur’an, hadits, maupun ijma’ ulama. Nah, berikut adalah dalil-dalil  yang membolehkan thalak:
Pertama, Dalil thalak dalam Al-Qur’an. Ada satu ayat di dalam Al-Qur’an yang menjadi dasar dari dibolehkannya thalak, yaitu surat Al Baqarah ayat 229 (lihat bunyi ayatnya di atas). Sebenarnya, selain ayat ini, ayat lain dalam surat yang sama juga dapat dijadikan dalil thalal, karena juga berbicara tentang thalak, yaitu Al Baqarah ayat 231. Nah, dua ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa thalak tidak dilarang dalam Islam, selama dilakukan dengan benar dan sesuai aturan syariat serta alasan-alasan yang dibenarkan oleh syariat.
وَإِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَبَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖۚ وَلَا تُمۡسِكُوهُنَّ ضِرَارٗا لِّتَعۡتَدُواْۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ وَلَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗاۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَمَآ أَنزَلَ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡحِكۡمَةِ يَعِظُكُم بِهِۦۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٢٣١
Artinya: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma´ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma´ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah [2]; 231)
Dan juga,
ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِۖ فَإِمۡسَاكُۢ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ تَسۡرِيحُۢ بِإِحۡسَٰنٖۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَأۡخُذُواْ مِمَّآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ شَيۡ‍ًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعۡتَدُوهَاۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٢٩
Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma´ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. AL Baqarah [2]; 229)
Kedua, Dalil dari hadits. Untuk memperkuat dalil Al-Qur’an, maka Rasulullah Saw. pun membenarkan tentang bolehnya thalak. Di antaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwasannya dia menthalak istrinya yang sedang haid. Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda, “Perintahkan kepadanya agar dia merujuk istrinya, kemudian membiarkan bersamanya sampai suci, kemudian haid lagi, kemudian suci lagi. Lantas setelah itu terserah kepadanya, dia bisa mempertahankannya jika mau dan dia bisa menthalaknya (menceraikannya) sebelum menyentuhnya (jima’) jika mau. Itulah iddah seperti yang diperintahkan oleh Allah agar para istri yang dithalak dapat langsung menghadapinya (iddah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, Ijma’. Ijma’ artinya kesepakatan. Nah, para ulama pun berijma’ bahwa thalak itu boleh. Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan: “Sungguh telah dihikayatkan adanya ijma’ atas di syariatkannya thalak (cerai) lebih dari satu ulama.” (Al-Mulakhos Al-Fiqhiy, hlm 411)
Demikianlah dalil-dalil tentang dibolehkannya thalak. Dengan adanya dalil-dalil tersebut, maka Islam tidak melarang umatnya yang ingin menthalak atau bercerai dari istrinya dengan alasan yang dibenarkan dan sesuai dengan aturan syariat.

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB