Kehidupan Di Alam Rahim; Antara Mitos dan Fakta

|




Kehidupan alam rahim merupakan sebuah fenomena yang jauh diluar akal manusia. Sampai detik ini, tak ada satu pun manusia yang betul-betul tahu seperti apa dan bagaimana kehidupan alam rahim yang sebenarnya. Jika Anda membaca judul bab ini, Anda pasti membayangkan kehidupan alam rahim itu seperti kehidupan kita saat ini. Di dunia ini. Ya, hal itu boleh-boleh saja sebab makna kata kehidupan sangat luas sekali. Dan tentunya, Anda dan saya memiliki konsepsi yang berbeda tentang kata tersebut. Anda dan saya tentu memiliki pemahaman yang berbeda dalam mempersepsikan tentang kata tersebut. Pertanyaan awal yang perlu dijawab sebelum kita membahas lebih jauh tentang kehidupan di alam rahim adalah apa itu kehidupan? Dan apa itu kehidupan alam rahim?
Secara sederhana, kehidupan adalah suatu kumpulan makhluk hidup yang menempati satu ruang dalam satu waktu. Paling tidak, definisi tersebut mewakili arti atau makna dari kata ‘kehidupan’. Kenapa demikian? Karena kehidupan merupakan kata yang multitafsir. Segala sesuatu yang berada di dunia ini dapat disebut kehidupan. Segala sesuatu yang berada di luar bumi (di planer-planet lain) adalah kehidupan. Bintang-gemintang di angkasa juga memiliki kehidupan. Setiap yang bernafas atau bernyawa disebut hidup dan segala sesuatu yang bersinggungan atau berkaitan dengan mereka adalah kehidupan. Jika demikian, apa makna kata ‘kehidupan’ dalam konteks yang kita bicarakan saat ini, yaitu alam rahim?
Kehidupan, secara garis besar, dapat dibedakan menjadi dua, yakni kehidupan yang bersifat ruh atau jiwa dan kehidupan yang bersifat fisik atau materi. Pertama, yang saya maksud dengan kehidupan yang bersifat ruh adalah kehidupan yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang bisa bernafas atau bernyawa, seperti manusia, hewan, jin, malaikat, dan makhluk-makhluk Tuhan yang bernyawa lainnya. Dalam kokteks yang pertama ini, kehidupan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bersinggungan dengan mereka (manusia, hewan, tumbuhan, dan lain-lain). Dan notabene, kita mengenal kehidupan tersebut ketika berada di alam dunia, saat ini. Hal itu karena kehidupan di alam dunia memadukan antara dunia benda (kehidupan), yaitu ruh dan materi atau jasad. Seperti yang disebutkan dalam al-qur’an bahwa manusia diciptakan dari ruh yang ditiupkan ke jasad. Nah, ruh di sini adalah benda non-materi atau benda non-fisik sedangkan jasadnya adalah benda fisik atau benda materi. Ketika keduanya bergabung dan disatukan dalam satu bentuk sempurna, maka disebutlah mereka sebagai manusia, hewan, jin, dan lain-lain.
Kedua, yang saya maksud dengan kehidupan yang bersifat bendawi atau materi atau fisik adalah semua benda yang tidak bernyawa atau bernafas, tetapi mereka bisa bergerak. Bergerak di sini ada dua pengertian, yaitu begerak dengan sendirinya dan bergerak akibat diluar dirinya. Suatu benda bisa bergerak atau berpindah karena adanya gaya yang dilekatkan padanya. Daya tersebut bisa berasal dari manusia, alam, maupun kekuatan yang lebih besar lainnya sehingga bisa menggerakkan benda tersebut. Contohnya; benda yang digerakkan oleh alam atau kekuataan di luar manusia adalah tata surya (planet, bintang, matahari, dan lain-lain). Sedangkan contoh benda yang digerakkan oleh makhluk hidup atau benda serupa antara lain adalah batu, kayu, dan lain-lain. Nah, yang demikian itulah yang saya sebut sebagai kehidupan bendawi. Kita tahu bahwa planet, bintang, dan matahari itu bergerak dengan sendirinya. Namun sebenarnya, mereka bergerak bukan karena mereka bisa menggerakkan diri, tetapi karena ada kekuatan yang menggerakkan mereka. Dalam agama, kekuataan itu berasal dari Allah sang pencipta alam semesta. Dalam ilmu sain, kekuataan itu adalah alam. Sedangkan menurut Aristotels, gerak mereka disebabkan oleh adanya kausalitas atau hukum sebab akibat (mereka bergerak karena ada yang menggerakkan). Yang menggerakkan mereka, menurut Aristoteles, adalah The Unmove Mover (Benda yang tak tergerakkan/Allah). Demikianlah pemahaman saya tentang kehidupan bendawi.
Baiklah, kita kembali pada topik pembicaraan, kehidupan alam rahim. Apa yang dimaksud kehidupan alam rahim? Menurut Hafizh (1998), kehidupan alam rahim merupakan kehidupan janin yang terbentuk akibat menyatunya antara air mani (sel sperma) seorang lelaki dengan sel telur yang berasal dari tulang dada seorang perempuan. Ketika kedua sel tersebut bertemu dan menyatu di dalam rahim perempuam, maka terbentukalah sebuah kehidupan, yaitu kehidupan alam rahim atau kehidupan/perkembangan janin di dalam rahim. Jadi, secara sederhana, kehidupan alam rahim lebih pada kehidupan perkembangan janin selama berada di dalam rahim ibu.
Pernyataan itu juga diperkuat oleh beberapa hasil penelitian saintifik yang menyatakan bahwa, kehidupan alam rahim hanya bisa diketahui dari perkembangan dan pertumbuhan fisik janin selama berada di dalam rahim. Selain penelitian ilmiah, sumber lain yang turut mendukung dan memperkuat hasil penelitian saintifik tentang perkembangan dan pertumbuhan bayi di dalam rahim ini adalah al-qur’an. Di dalam kitab (al-qur’an) ini, kejadian demi kejadian telah dijelaskan secara detil dan komprehensif. Al-qur’an merupakan satu-satunya rujukan atau sumber yang paling bisa dipercaya ketika kita berbicara tentang kehidupan metafisik termasuk kehidupan alam rahim. Maka, adalah pantas bila kita mengatakan al-qur’an sebagai satu-satunya sumber yang bisa menjelaskan kehidupan alam rahim secara detil dan komprehensif, tentu saja tanpa mengenyampingkan penelitian saintifik atau disiplin ilmu lainnya.
Mengenai hal tersebut, Abu Sangkan mengemukakan bahwa,
”Pada awalnya manusia tidak ada (mati) … lalu Allah menciptakan manusia dari sari/ekstrak alam kemudian menghembuskan roh dari-Nya ke
dalam tubuh (lihat Al hijir 28-29) dan ia menjadi hidup … di dalam alam rahim … kemudian ia melepaskan dari ikatan alam rahim menuju alam dunia … kemudian ia melepaskan dari ikatan alam dunia … menuju alam barzah … kemudian ia melepaskan alam barzah menuju alam syurga atau neraka, kemudian ia melepaskan kembali menuju Allah Azza wajalla. Di dalam Islam, jika manusia terikat oleh alamnya (hubbud dunya/cinta dunia), maka ia akan tertolak kembali kepada Allah, rohnya tetap pada kesadaran sebagai manusia namun roh yang tersiksa oleh karena Tuhan menolaknya, dan keadaan ini disebut siksa atau kesengsaraan alam barzah (siksan kubur).” Dengan demikian, kehidupan alam rahim memang betul-betul ada dan setiap manusia akan melewatinya.
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, alam rahim adalah alam kedua manusia setelah alam roh. Alam rahim bisa juga disebut sebagai alam tempat manusia diciptakan. Yaitu bersatunya antara ruh dan jasad sehingga terbentuklah jiwa (manusia). Bagaimana Allah meniupkan ruh-Nya ke jasad sewaktu di alam rahim? Sampai saat ini belum ada penelitian yang berhasil menguak proses peniupan ruh tersebut. Sebab, kejadian tersebut merupakan rahasia ilahi yang hanya bisa diketahui oleh Allah dan para malaikat semata, sementara kita (manusia) tidak sanggup untuk mengetahuinya.
Kesaksian al-qur’an tentang kehidupan alam rahim ini juga termaktub dalam salah satu ayatnya dalam surat al-Qiyaamah ayat 37-39, yakni sebagai berikut:
“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)? Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya? Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang, laki-laki dan perempuan”
Maksud yang terkandung dalam ayat tersebut adalah bahwa kehidupan manusia dimulai di alam rahim, yakni sejak sperma bertemu dengan sel telur. Kemudian dari pertemuan itu membentuk janin yang berkembang dan tumbuh di dalam rahim. Dari sinilah awal mula kehidupan manusia.
Di dalam rahim, janin yang pada awalnya merupakan segumpal darah itu disempurnakan dengan susunan organ-organ tubuh yang begitu rapi. Fisiknya atau jasadnya kemudian tersusun dari bermiliar-miliar sel, padahal pada awalnya berasal dari satu sel, yaitu ovum. Perjalanan panjang yang ditempuh dari sebuah sel hingga menjadi janin yang sempurna –yang lebih panjang tahapan-tahapannya daripada perjalanannya dari lahir sampai mati—dan perubahan yang terjadi pada eksistensinya dalam proses perjalanan janinnya lebih banyak dan lebih luas jangkauannya daripada semua peristiwa yang dialaminya dari perjalanannya mulai dari kelahirannya sampai kematiannya. Jadi, kehidupan alam rahim merupakan kehidupan yang jauh lebih panjang daripada kehidupan alam dunia (dari sejak dilahirkan hingga kematian).

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB