Mengenal 3 Fitrah Manusia; Jasmani, Ruhani, dan Nafs

|




Fitrah manusia ternyata memiliki beberapa dimensi berbeda, hal itu diungkap oleh zayadi (2004) dan Abdul Majid (1999). Menurutnya, dimensi fitrah manusia secara garis besar dibedakan atau dibagi menjadi 3, yaitu fitrah jasmani, fitran ruhani, dan fitrah nafs.
1.      Fitrah Jasmani
Yang dimaksud dengan fitrah jasmani ini adalah aspek biologis yang disiapkan sebagai wadah dari fitrah ruhani manusia. Fitrah ini memiliki fungsi yang cukup penting bagi kehidupan manusia, yaitu untuk mengembangkan proses biologisnya. Hal ini disebut sebagai daya hidup. Daya ini sifatnya abstrak, dan ia belum mampu menggerakkan tingkah laku manusia. Sebab, tingkah laku baru bisa terwujud jika fitrah jasmani sudah ditempati oleh fitrah ruhani. Proses ini terjadi pada usia 4 bulan bayi di dalam rahim. Pada waktu itu, nafs (ruh) Tuhan juga ditiupkan kepadanya. Dengan adanya fitrah jasmani inilah, manusia bisa bereksistensi dengan sendirinya.
2.      Fitrah Ruhani
Berkebalkan dengan fitrah jasmani, fitrah ruhani merupakan factor psikologis manusia. Fitrah ini diciptakan untuk menjadi substansi dan esensi pribadi manusia. Eksistensinya tidak hanya dialam imateri, namun juga di alam materi (setelah bergabung dengan jasmani). Dengan demikian, fitrah ruhani ini lebih dahulu dan lebih abadi eksistensinya daripada fitrah jasmani. Fitrah ruhani ini bisa bereksistensi meskipun tempatnya di dunia abstrak, selanjutnya akan menjadi tingkah laku aktuak setelah bergabung dengan fitrah jasmani.
3.      Fitrah Nafs
Fitrah nafs ini merupakan gabungan dari fitrah jasmani dan fitrah ruhani mausia. Dengan demikian, yang dimaksud dengan fitrah nafs adalah aspek psiko-fisik manusia. Aspek ini merupakan panduan integral (totaliras manusia) antara fitrah jasmani (aspek biologis) dengan fitra ruhani (aspek psikologis). Fitrah nafs ini memiliki tiga komponen pokok, yaitu qalbu, akal, dan nafsu. Ketiganya berinteraksi dan mewujud dalam satu kesatuan yang disebut kepribadian. Akan tetapi, salah satu dari ketiganya pasti ada yang mendominasi dan menguasai, sehingga termanifestasi dalam tingkah laku kita.
Kata nafs dalam al-Qur’an mempunyai multi makna, salah satunya diartikan sebagai totalitas manusia, seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 32 beriktu ini.
“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”
Pada ayat tersebut, kata nafs menunjukkan makna totalitas manusia. Hal itu seperti yang jelaskan bahwa jika kamu membunuh seorang manusia, maka kamu telah membunuh semua manusia. Pengertian tersebut adalah totalitas manusia.
Di sisi lain, kata nafs dalam al-Qur’an menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku seperti yang terkandung dalam firman Allah dalam surat Al-Ra’d ayat 11.  “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu masyarakat (kaum), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka…”
Selain itu, kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada “diri Tuhan”, seperti dalam surat Al-An’am ayat 12 berikut ini.
“…Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat…”
Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepadea sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Dalam pandangan akl-Qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Dan karena potensi itulah, Al-Qur’an menganjurkan agar sisi dalam manusia tersebut diberi perhatian lebih besar.
Menurut Al-Qusyairi dalam risalahnya menyatakan bahwa, “nafs dalam pengertian kaum sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk.” Pengertian kaum sufi tersebut sama dengan penjelasan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), yang antara lain menjelaskan kata nafsu sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Dari pengertian tersebut, terlihat sangat jelas sekali adanya perbedaan terminology antara al-Qur’an dengan kaum sufi.
Meskipun al-Qur’an jelas-jelas menegaskan bahwa nafs manusia memiliki dua potensi, yaitu negative dan positif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik kepada keburukan lebih kuat dari daya tarik kepada kebaikan. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk memelihara kesucian nafsnya.
Di samping itu, al-Qur’an juga mengisyaratkan keanekaragaman nafs serta peringkat-peringkatnya, secara eksplisit disebutkan tentang an-nafs, al-lawamah, ammarah, dan muthmainnah. Di sisi lain, ada pula isyarat bahwa nafs merupakan wadah. Firman Allah dalam surat Al-Ra’d ayat 11 mengisyaratkan bawah nafs menampung paling tidak gagasan dan kemauan. Suatu kaum tidak dapat berubah  keadaan lahiriahnya sebelum mereka mengubah lebih dulu apa yang ada dalam wadah nafs-nya. Yang ada dis ini, adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Dengan demikian, kemauan merupakan inti (kunci) dari upaya manusia dalam mengubah nafs-nya.
Qalb
Dalam wadah nafs terdapat qalb. Secara bahasa, qalb berasal dari akar kata yang bermakna membalik, karena seringkali ia berbolak-balik, sekali senang sekali susah, sekali setuju dan sekali menolak. Qalb ini amat berpotensi untuk tidak konsisten. Al-Qur’an pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula yang buruk.
Kalbu adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan. Dari isi kalbu yang dijelaskan dalam surat Qaf: 37, Al-Hadid: 27, Ali ‘Imran: 151, dan Al-Hujurat: 7 (dan ayat-ayat lainnya), dapat diperoleh kesimpulan bahwa kalbu memang menampung hal-hal yang disadari oleh pemiliknya. Ini merupakan salah satu perbedaan kalbu dan nafs. Telah saya singgung sebelumnya bahwa nafs menampung apa yang berada di bawah sadar dan atau sesuatu yang tidak bisa kita ingat lagi. Oleh karena itu, yang harus dipertanggungjawabkan adalah isi kalbu, bukan isi nafs.
Di sis lain, seperti yang dikemukakan di atas, nafs adalah “sisi dalam” manusia, kalbu pun demikian, hanya saja kalbu berada dalam satu kotak tersendiri yang berada dalam kotak besar nafs. Karena nafs diibarat seperti kotak, maka sudah tentu ia bisa diisi dan atau diambil isinya. Hal itu dipertagas Allah dalam firman berikut. “Dan kami lenyapkan (cabut/ambil) segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”(Q.S. Al-Hijr: 47).
Bahkan dalam Al-Qur’an ada ayat yang menjelaskan bahwa ada kalbu yang disegel. Ayat tersebut berbunyi, “Allah telah mengunci mati kalbu mereka” (Al-Baqarah: 7). Wadah kalbu dapat diperbesar, diperkecil, atau dipersempit.
Dalam beberapa ayat, kata qalb yang merupakan wadah itu, dipahami dalam arti “alat” seperti dalam ayat yang artinya berbunyi, “Mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak digunakan untuk memahami” (Q.S Al.A’raf: 179). Dalam ayat tersebut, kalbu diartikan sebagai alat.
Menurut Imam Al-Ghazali, kalbu juga merupakan awah pengetahuan. Mengenai hal ini, ia memberikan contoh dan cara mengisi kalbu dengan pengetahuan, yakni: “Kalau kita membayangkan satu kolam yang digali di tanah, maka untuk mengisinya dapat dilakukan dengan mengalirkan air sungai –dari atas—ke dalam kolam itu. Tetapi bisa juga dengan menggali dan menyisihkan tanah yang menutupi mata air. Jika itu dilakukan, maka air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu jauh lebih jernih dari air sungai yang mengalir dari atas. Kolam adalah kalbu, air adalah pengetahuan, dan sungai adalah panca indera dan eksperimen. Sungai (pancaindera) dapat dibndung atau ditutup, selama tanah  yang berada di kolam (kalbu) dibersihkan agar air (pengetahuan) dari mata air memancar ke atas (kolam).” Demikianlah penjelasan Al-Ghazali tentang kalbu sebagai wadah pengetahuan.
‘aql
Akal juga merpakan bagian dari fitrah nafs. Seperti yang saya kemukakan di awal, bahwa fitrah nafs itu terdiri dari tiga, yaitu nafsu, kalbu, dan akal. Nah, sekarang kita coba sedikit membahas tentang akal. Apa itu akal?
Kata ‘aql tidak ditemukan dalam al-Qur’an, tapi bentuk kata kerja dari kata tersebut dapat kita temukan di sini (al-Qur’an). Kata tersebut dari segi bahasa pada awalnya memilki arti tali pengikat, penghalang. Dan al-Qur’an menggunakannya sebagai “sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa.” Memang al-Qur’an tidak menjelaskan secara eksplisit tentang “sesuatu” yang dimaksud dalam kalimat tersebut, namun kita bisa memahaminya dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata ‘aql. Ada tiga makna yang bisa kita pahami dari ayat-ayat tersebut, yakni:
a.      Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu. Hal itu dijelaskan Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 43. “Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
Daya manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan al-Qur’an antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan lain-lain.
Keanekaraman akal dalam konteks menarik makna dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunakan istilah-istilah semacam nazhara, tafakkur, tadabbur, dan lain sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman. Dengan demikian, akal dalam konteks ini adalah suatu daya yang berfungsi untuk memahami dan menggambarkan seaga sesuatu yang hadir dalam kehdiupan kita.
b.      Dorongan moral, seperti dalam surat Al-‘Anam ayat 151: “…dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya.” (Q.S. Al-‘Anam: 151).
c.       Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta “hikmah”
Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyf. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisa, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral yang tinggi, belum tentu memiliki daya pikir yang kuat pula, tidak memiliki dorongan moral, namun ia memiliki rusyd, maka ia telah menggabungkan kedua keistimewaan tersebut.
Dan orang yang tidak memiliki akal, maka mereka bisa dikatakan termasuk orang yang merugi. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Mulk ayat 10. “Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".
Itulah dimensi-dimensi fitrah manusia. Yang jelas, semua fitrah tersebut bersifat potensial dan perlu adanya upaya tertentu untuk mengaktualisasikannya. Banyak cara atau alat untuk bisa mengaktualisasikan fitrah tersebut, salah satunya adalah lewat pendidikan. Semoga penjelasan tentang dimensi-dimensi fitrah manusia di atas dapat memberikan wawasan dan pencerahan bagi Anda dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini.

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB