Waktu-Waktu yang sangat dianjurkan dan diharamkan berhubungan intim

|




Dalam Islam, ada waktu yang dianjurkan (sunnah) untuk berjima’, ada waktu yang makruh, dan ada pula waktu yang dilarang (haram). Berikut adalah waktu-waktu tersebut:
Pertama, waktu-waktu yang disunnahkan untuk berhubungan intim bagi suami istri, meliputi:
·         Malam pertama bulan Ramadhan
·         Pada akhir malam
·         Malam Senin
·         Malam Selasa
·         Malam Khamis
·         Hari Khamis, waktu dzuhur setelah matahari tergelincir dari tengah langit.
·         Malam Jumaat
·         Malam Jumaat pada akhir waktu Isya (sekitar tengah malam)
·         Hari Jumaat setelah Asar.
Kedua, waktu-waktu yang dimakruhkan untuk berhubungan intim adalah pada waktu-waktu berikut:
·         Malam Rabu
·         Pada saat terbit fajar sampai matahari terbit
·         Pada awal malam
·         Antara azan dan iqamat
·         Pada saat gerhana matahari atau gerhana bulan
·         Ketika terjadi angin hitam, angin merah, atau angin kuning
·         Saat terjadi gempa bumi
·         Pada malam idul fitri dan malam idul adha
·         Pada malam nisfu syaaban
·         Pada awal, pertengahan, dan akhir bulan.
·         Saat perjalanan.[1]
 Ketiga, waktu-waktu yang diharamkan berhubungan intim adalah pada waktu-waktu berikut:
·         Siang hari di bulan Ramadhan. Jelas, waktu ini sangat dilarang berhubungan intim bagi suami-istri. Kenapa? Karena pada bulan ini umat Islam diwajibkan berpuasa. Dan, berhubungan intim saat berpuasa adalah haram. Dalil larangannya adalah firman Allah Swt. dalam surat Al Baqarah ayat 187[2] dan juga hadits Nabi Saw. Dari Abu Hurairah, bahwasannya seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata: “Celakalah aku, wahai Rasulullah!” Nabi bertanya: “Apakah yang telah mencelakakanmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku telah menyetubuhi istriku di (siang hari) bulan Ramadhan.” Lalu Rasulullah Saw. menanyakan kesanggupannya untuk membayar kafarah bersetubuh di siang bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)
·         Saat ibadah Haji. Waktu kedua yang dilarang berhubungan intim adalah ketika melakukan ibadah haji. Adapun dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 197.[3]
·         Ketika beri’tikaf di Masjid.
·         Suami menzhihar istrinya. Apa itu zhihar? Zhihar berasal dari kata zhahru, yang artinya punggung. Secara istilah, zhihar bermakna perkataan seorang suami kepada istrinya dengan lafadz, “Kamu bagiku seperti punggung ibuku”, atau perkataan lain yang sepadan dengannya dimana intinya mengharamkan dirinya dari menggauli istri sebagaimana mengharamkan ibu sendiri atau saudara yang mahram. Adapun dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al Mujadalah ayat 2-3.[4]
·         Haid dan Nifas. Terakhir, waktu yang dilarang atau diharamkan bersetubuh adalah disaat istri sedang haid dan nifas. Dalil larangannya adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 222.[5]
Itulah waktu-waktu yang sunnah, makruh, dan haram berhubungan intim. Semoga setelah mengetahui waktu-waktu tersebut, kita dapat memilih dan memilah mana yang waktu yang boleh berhubungan intim dan mana waktu yang tidak boleh.



[1] Dr. Hassan Hathout, Panduan Seks Islami ……………………, hlm. 117-120
[2] “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalianpun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian.”
[3](Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata yang menimbulkan syahwat atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

[4] “Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
[5] “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katkanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran, oleh sebab itu jauhilah wanita di waktu haid. Janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apbila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

0 komentar:

Intermezzo

 

©2009 Rizem's Archives | Template Blue by TNB